POSMERDEKA.COM, BANGLI – Dari hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025-2026 tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Bangli, ternyata ada 19 SD mendapat siswa di bawah 10 orang. Ada sekolah minim siswa, ada sekolah kebanjiran siswa. Bagi sekolah yang minim siswa, muncul usulan dari DPRD Bangli agar sekolah tersebut sebaiknya diregrouping.
Anggota DPRD Bangli, I Nengah Darsana, Kamis (17/7/2025) menilai hasil SPMB tingkat SD tidak bisa lepas dari faktor kepercayaan orangtua siswa. Pasti orangtua ingin anaknya mendapat pendidikan yang mumpuni, sehingga memilih sekolah yang selama ini berhasil menetaskan siswa berprestasi.
“Sebuah sekolah bisa diibaratkan seperti toko; jika servisnya bagus tentu akan ramai pembeli. Jika gurunya dan manajemennya bagus, maka akan dianggap oleh masyarakat bisa menghasilkan anak didik yang berkualitas,” ujarnya.
Darsana berpendapat bagi sekolah yang minim siswa lebih bagus digabung (regrouping) dengan sekolah yang jaraknya berdekatan. Penggabungan ini akan berdampak pada penghematan anggaran. Anggaran bisa digunakan untuk kegiatan di sektor pendidikan lain, seperti peningkatan sarana-prasarana dan SDM bagi pendidik.
Lebih lanjut Darsana menyampaikan, regrouping memang diperbolehkan sepanjang situasi memungkinkan. Misalnya sekolah yang setiap tahun ajaran minim jumlah siswa baru. Jika dibiarkan, barang tentu keberadaan sekolah tersebut akan mubazir. Apalagi untuk penyiapan dana BOS dan penyiapan anggaran lainnya membutuhkan anggaran besar. “Persyaratan regrouping salah satunya sekolah tidak dapat anak didik, imbas dari minimnya jumlah penduduk,” terangnya.
Melihat realita ini, dia berpendapat jika hal tersebut diperlukan dan dianggap urgen, maka perlu dilakukan rapat koordinasi dengan OPD terkait. Niatnya mendorong ke arah positif, yakni sekolah yang minim siswa agar dipikirkan untuk diregrouping supaya prestasi siswa akan lebih meningkat.
Bagi sekolah yang dirasa kurang mendapat siswa baru, dia menyarankan perlu melakukan pembenahan internal. Sebab, mungkin saja selama ini sekolah tersebut dianggap minim prestasi, sehingga orang tua enggan untuk menyekolahkan anaknya ke sana. Jelas mereka lebih memilih sekolah banyak prestasi, terutama di bidang akademik. ”Pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari SDM dan manajemen sekolah serta kondisi fisik sekolah,” pungkasnya.
19 SD yang mendapat siswa di bawah 10 yakni SD Negeri Mengani Kintamani hanya 7 orang, SD Negeri Pengejaran, Kintamani (6); SD Negeri Lembean, Kintamani (8); SD Negeri Mangguh (8), SD Negeri Belanga, Kintamani (4); SD Negeri Batukaang, Kintamani (9); SD Negeri 1 Terunyan, Kintamani (4); SD Negeri 7 Jehem, Tembuku (5); SD Negeri 6 Jehem, Tembuku (5); SD Negeri 6 Peninjoan, Tembuku (6); SD Negeri 2 Tembuku (7), SD Negeri 4 Sulahan, Susut (7); SD Negeri 3 Apuan, Susut (9); SD Negeri 6 Kawan, Bangli (5); SD Negeri 3 Tamanbali (9), SD Negeri 4 Kawan (6), SD Negeri 2 Landih (9) SD Negeri 2 Pengotan (9), dan SD Negeri 2 Kayubihi sebanyak 5 orang. gia























