Disdikpora Buleleng Pantau Pembelajaran Luring di Desa Pedawa

  • Whatsapp

BULELENG – Sulitnya akses internet dan minimnya siswa yang memiliki handphone khususnya di daerah pedalaman Buleleng, membuat guru-guru kesulitan melakukan proses pembelajaran secara dalam jaringan (daring) ditengah pandemi Covid-19. Tak jarang kondisi itu, membuat para siswa ketinggalan mata pelajaran.

Melihat kondisi tersebut, untuk bisa memudahkan proses pembelajaran kepada para siswa, sejumlah guru yang bertugas di sekolah-sekolah wilayah desa pedalaman Buleleng menggelar pembelajaran dengan sistem luar jaringan (luring). Salah satunya, seperti di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Bacaan Lainnya

Pembelajaran dengan sistem luring dilakukan, dengan pola kelompok belajar. Pembelajaran luring ini baru efektif bisa dilakukan, jika rumah para siswa ini saling berdekatan. Ini seperti terlihat di SD Negeri (SDN) 3 di desa Pedawa.

Salah satu guru kelas IV SDN 3 Pedawa, Ni Komang Susilawati mengatakan, setidaknya ada 22 orang siswa yang mengikuti sistem pembelajaran luring. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok, yang setiap kelompoknya ada sekitar 3 orang sampai 4 orang. Dan dalam satu minggu, kelompok-kelompok kecil ini diajar sebanyak tiga kali. Artinya, dalam satu hari diambil dua kelompok.

“Misalnya, Selasa diambil dua kelompok, Kamis ada dua kelompok dan Jumat juga ada dua kelompok. Setiap kelompok akan bertemu dengan saya setiap seminggu sekali,” kata Susilawati.

Baca juga :  KSU Pemogan Gelontorkan 1.258 Paket Sembako kepada Anggota

Sedangkan untuk tempat proses pembelajaran, hanya menggunakan rumah salah satu siswa, mengingat pembelajaran tatap muka belum diperbolehkan di sekolah. Rumah yang dipakai tempat belajar, harus berdekatan sehingga memudahkan untuk kehadiran siswa.

Diakui Susilawati, untuk proses pembelajara metode luring ini dilakukan, karena tidak semua siswa memiliki handphone. “Sulit saya memberikan metode daring. Makanya, seluruhnya saya berikan pembelajaran dengan metode luring saja,” terangnya.
Kegiatan pembelajaran dengan sistem atau metode luring inipun mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng.

Kepala Disdikpora Buleleng, Made Astika pun turun langsung melakukan untuk pemantauan pembelajaran luring di Desa Pedawa. Pasalnya seperti diketahui, Desa Pedawa merupakan salah satu wilayah yang menggelar proses pembelajaran luring. ”Pemantauan dilakukan di daerah yang susah menggelar pembelajaran secara daring. Desa Pedawa salah satu tempatnya,” ujar Astika, Kamis (12/11/2020) di sela-sela pemantauan.

Pemantauan pembelajaran secara luring ini memang menjadi rencana Disdikpora Buleleng. Desa Pedawa dipilih karena salah satu tempat yang susah untuk melaksanakan pembelajaran secara dalam jaringan (daring). “Ini bisa dilakukan sepanjang tatap muka itu tidak melibatkan atau mengumpulkan banyak orang,” jelas Astika.

Desa Pedawa adalah tempat pertama dikunjungi. Selanjutnya, akan dicari tempat yang memang daerahnya sulit melaksanakan pembelajaran daring. Seperti Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan serta titik-titik lain. “Zona risiko Covid-19 ini sangat fluktuatif. Pembelajaran secara daring dan luring bisa dilakukan sesuai kondisi sekolah,” ucap Astika.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: Sembuh Melonjak 35 Orang, Positif 17, Meninggal Bertambah 1

Meski demikian, Astika mengakui, jika potensi pembelajaran tata muka masih ada atau terbuka. Tapi, persiapan harus dilakukan. Sekolah harus menyiapkan sesuatu untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pembelajaran luring ini pun terjadi karena ada orangtua yang belum mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka. “Keselamatan dan kesehatan anak-anak lebih penting daripada proses pembelajaran tatap muka di sekolah,” pungkas Astika. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.