Dinas LHK Diinstruksi Lengkapi Fasilitas Pabrik B3 Sekotong

  • Whatsapp
WAGUB NTB, Sitti Rohmi Djalilah, didampingi Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah saat memimpin rapat operasionalisasi pengelolaan limbah B3 dan pengelolaan TPA Kebon Kongok, Rabu (29/9/2021). Foto: ist

MATARAM – Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah, minta fasilitas dan infrastruktur pendukung kelancaran operasionalisasi pengelolaan limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) di Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, segera dibenahi. Sesuai target, pada Oktober mendatang operasional pabrik itu akan dimulai.

“Bagaimana mau berjalan pabrik B3 kita jika fasilitas dan infrastruktur pendukung belum dilengkapi? Di sini, sebelum Oktober, semua yang kurang harus bisa dilengkapi,” tegas Rohmi saat memimpin rapat operasionalisasi pengelolaan limbah B3 dan Pengelolaan TPA Kebon Kongok, Rabu (29/9/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Rohmi, operasional incinerator B3 harus didukung tersedianya jalan yang layak. Salah satunya fasilitas jalan bisa dilalui truk pengangkut limbah B3. Selain itu, ketersediaan pasokan listrik harus rampung dan lengkap. Termasuk jaringan telekomunikasi untuk kebutuhan internet. “Walaupun saat ini sedang dibenahi, saya ingin memastikan pekerjaan itu on progress (dalam pengerjaan),” kata Wagub.

Rohmi mendaku sebuah pabrik harus didukung ketersediaan fasilitas yang memadai, sehingga dapat memperoleh pendapatan. Hal ini agar hasilnya mendukung operasional dan penambahan fasilitas lain. Dia juga mengingatkan perawatannya, jangan sampai macet di tengah jalan.

Dalam kesempatan itu dia menyoroti persoalan sampah, agar Pemprov tetap berkoordinasi dengan kabupaten/kota. Termasuk pengelolaan TPA Kebon Kongok, manajemen dan tata kelola terus dibenahi, sehingga hasil berupa pelet dapat dimanfaatkan.

Baca juga :  Penumpang Domestik Bandara Bali Tumbuh Saat Libur Akhir Pekan

Kadis Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Madani Mukarom, menjelaskan, selama ini sebagian besar limbah medis NTB diekspor ke Jawa menggunakan jasa pemusnah limbah medis di sana. Kini, limbah itu mulai dapat diolah di Buwun Mas. Polanya adalah kerjasama dengan para transporter yang memiliki kontrak kerja dengan rumah sakit (RS) dan puskesmas seluruh NTB.

Transporter yang bekerjasama dengan RS dan puskesmas yang menyiapkan BBM solar untuk operasional. Karena pabrik di Lember, dari 1 kg bahan baku limbah B3 membutuhkan 1/2 liter, dan menyerahkan biaya retribusinya Rp10.000, dan Rp5.000 untuk solar. “Jadi, tarifnya hanya 15.000. Ini agar bisa beroperasi,” ulasnya.

Menurut Madani, adanya limbah B3 di Pulau Lombok akan jauh lebih hemat dibanding dikirimkan ke Pulau Jawa. Dari Bima dengan harga Rp62.000, sedangkan di Lembar hanya Rp15.000. Semua biaya transportasi diurus transporter, maka jadinya lebih efisien dan hemat.

Madani menambahkan, langkah yang dilakukan itu merupakan awal, setidaknya tahun depan RS dan puskesmas didorong memiliki angkutan sendiri. Apalagi saat ini limbah medis produksinya 4 ton per hari di semua wilayah di NTB. “Namun, masa pandemi ini limbah medis bisa mencapai lima ton,” ucap dia menandaskan. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.