BULELENG – Kasus kematian akibat gigitan anjing rabies kembali terjadi di Buleleng. Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun berinisial KDAP meninggal dunia akibat gigitan anjing rabies.
KADP dinyatakan meninggal dunia usai dibawa ke IGD RSUD Buleleng, pada Rabu (15/6/2022) pagi. Korban masih duduk di bangku SD dan tinggal di wilayah Kecamatan Sukasada itu. Awalnya dia memiliki riwayat digigit anjing 2 bulan lalu pada bagian jari tangan.
Setelah digigit anjing, korban tidak mendapatkan penanganan medis, melainkan hanya dibersihkan memakai sabun dan air mengalir dan tidak dilaporkan ke fasilitas kesehatan. Dua bulan kemudian, tepatnya pada Senin (13/6/2022), suhu tubuh korban meninggi. Korban dibawa ke Puskesmas Buleleng II, dan kemudian menjalani rawat jalan.
Kondisi korban mulai memburuk pada keesokan harinya dengan mengalami gejala yang mengarah ke rabies yakni kejang, halusinasi, gelisah, tidak bisa menelan, takut angin, dan mulut mengeluarkan busa. Hingga akhirnya pada Rabu (15/6/2022) sekitar pukul 10.00 Wita, korban dibawa ke IGD RSUD Buleleng.
Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD., mengatakan, korban datang ke rumah sakit dalam keadaan sudah meninggal. ‘’Tidak sempat diberikan tindakan medis. Kalau dari keterangan dari keluarganya, pasien mengalami demam tinggi, sulit menelan, gelisah, dan mulut mengeluarkan busa,’’ kata Arya Nugraha.
Ia mengungkapkan, pasien tidak mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) setelah digigit anjing. Begitu bergejala yang mengarah suspect rabies, pasien justru baru dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RSUD Buleleng. ‘’Hingga hari ini (kemarin), pasien meninggal akibat rabies tercatat 7 orang. Bahkan, kemungkinan masih ada, namun tidak dilaporkan,’’ jelas Arya Nugraha.
Melihat tingginya angka kematian akibat rabies, Arya Nugraha berharap agar masyarakat bisa melakukan antisipasi. Pasalnya, masyarakat masih ada yang terkesan menganggap sepele penyakit ini. ‘’Saat disarankan VAR agar jangan menolak, secepatnya jika terjadi gigitan. Karena kalau terlambat dan sudah menunjukkan gejala, maka itu bisa mengakibatkan kematian,’’ tegas Arya Nugraha.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng, dr Sucipto,menyatakan, akan membentuk tim khusus terkait tingginya kasus rabies di Buleleng. Diakui Sucipto, hampir seluruh korban meninggal dunia setelah mengalami gigitan anjing, tidak mendapatkan VAR. Padahal stok VAR di Buleleng saat ini masih aman.
Ia mengatakan, Dinkes Buleleng telah melakukan pengadaan VAR sebanyak 6.000 vial menggunakan dana APBD dalam dua tahap. Untuk tahap pertama sebanyak 3.000 vial dan digunakan sejak Januari hingga Mei 2022. Sementara pengadaan tahap kedua masih dalam proses.Selain itu, Dinkes telah meminta kiriman VAR dari Pemprov Bali sebanyak 1.000 vial.
‘’Seluruh puskesmas dan tiga rumah sakit pemerintah di Buleleng sudah menjadi rabies center. Kalau stok VAR di salah satu puskesmas habis, akan dikirim dari stok yang ada di puskesmas lain,’’ jelas Sucipto. rik






















