Di Rakerda PDIP, Kembang “Curhat” Kalah Pilkada, Ngaku Keteteran Dihajar Isu di Medsos

  • Whatsapp
KEMBANG mengepalkan tangan dan memekikkan salam “merdeka” saat menyampaikan laporan DPC Jembrana pada Rakerda dan Rakercabsus PDIP, Minggu (20/6/2021). Dia menguraikan faktor kekalahan pada Pilkada 2020, sekaligus evaluasinya. Foto: hen
KEMBANG mengepalkan tangan dan memekikkan salam “merdeka” saat menyampaikan laporan DPC Jembrana pada Rakerda dan Rakercabsus PDIP, Minggu (20/6/2021). Dia menguraikan faktor kekalahan pada Pilkada 2020, sekaligus evaluasinya. Foto: hen

DENPASAR – Rakerda dan Rakercabsus PDIP di Hotel Grand Bali Beach Sanur, Minggu (20/6/2021) menjadi wahana bagi Ketua DPC PDIP Jembrana, Made Kembang Hartawan, untuk curhat mengenai kekalahannya saat Pilkada 2020 lalu.

Secara jantan dia mengakui kekalahan itu, sekaligus menilai runtuhnya hegemoni PDIP di Pemkab Jembrana itu akibat kalah “perang udara” setelah dihajar pelbagai isu miring yang disebar akun palsu di media sosial (medsos). Kekalahan itu juga dinilai sebagai hal aneh, karena semua parameter hasil survei seakan tidak berlaku di Jembrana.

Bacaan Lainnya

Awalnya Kembang memaparkan kondisi struktur PDIP di Jembrana, yang mulai ada riak-riak kehilangan kader gegara kekalahan pada pilkada. Ada pengurus DPC yang mundur karena jadi kelihan banjar, ada juga PAC dan ketua ranting mundur karena tugas lain. “Tapi bukan karena tekanan,” ucap mantan Wakil Bupati Jembrana periode 2010-2020 itu.

Kekalahan di eksekutif, jelasnya, di luar apa yang diprediksi sebelumnya, karena semua parameter tidak ada mengatakan kalah. Lantaran itu juga semua kekuatan partai dikerahkan untuk “menyerbu” Karangasem yang dianggap lemah, karena Jembrana Jembrana dianggap aman berdasarkan hasil survei. Survei pada bulan Oktober, hasilnya dirilis November, dan ternyata kalah pada Desember 2020.

Baca juga :  Bhayangkari Cabang Bangli Bagikan Seratus Paket Sembako

“Saya tidak menyalahkan siapapun, apalagi partai meski ada (anggota) Fraksi (PDIP) kalah di TPS. Tidak juga menyalahkan relawan, lebih menyalahkan diri sendiri karena belum nasib,” ucapnya dengan nada tegar, disambut aplaus hadirin. “Pak Sugiasa (calon Wakil Bupati) mohon sabar, karena belum nasib,” sambungnya.

Dari hasil evaluasi, jelasnya, kekalahan karena kuatnya faktor medsos kubu lawan. Dia mengklaim PDIP asyik bekerja di darat tapi, lemah perang udara di medsos. Masalahnya, masyarakat termakan isu di medsos, terutama yang disebar akun palsu, yang menggiring bahwa penanganan pandemi ini semua kesalahan pemerintah. Begitu juga dengan opini liar lainnya.

“Makanya saya bersyukur ada pelatihan media digital untuk memperkuat 2024. Ayo bermedsos, tapi jangan terlalu (forsir) di media saja tapi tidak kerja di darat,” ajaknya, lagi-lagi disambut aplaus hadirin.

Senyampang ada Wakil Sekjen PDIP, Arif Wibowo, Kembang seperti ingin hadirin memahami mengapa dia bisa kalah. Salah satu hal krusial yang diungkap yakni kilas balik dan dinamika perpolitikan di Jembrana sejak era reformasi.

Antara lain bagaimana kekalahan calon PDIP oleh I Gde Winasa saat era pemilihan oleh DPRD, meski memiliki suara besar di legislatif. Saat Pilkada 2010 dan 2015, PDIP berjaya di Jembrana. “Tapi tahun 2020 nyungsep setelah dua kali menang,” ungkapnya kalem.

Sebagai penutup laporan dan curhatnya itu, Kembang melantunkan pantun. Begini isinya: “Lembayung senja di Delod Berawah, nikmati dengan makan ketupat. Walaupun Pilkada kalah, tetapi kami tetap semangat.” Tak lupa dia memekikkan salam tradisi PDIP yakni “Merdeka”. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.