Debit Air Kecil, Petani Subak Yangapi Beralih Tanam Palawija

  • Whatsapp
PETANI di Subak Yangapi, Tembuku, Bangli, beberapa bulan terakhir tidak bisa menanam padi dan beralih tanam palawija karena debit air mengecil. Foto: gia
PETANI di Subak Yangapi, Tembuku, Bangli, beberapa bulan terakhir tidak bisa menanam padi dan beralih tanam palawija karena debit air mengecil. Foto: gia

BANGLI – Sejumlah petani di Subak Yangapi, Tembuku, Bangli beberapa bulan terakhir tidak bisa menanam padi karena debit air mengecil. Meski saat ini musim hujan, ternyata tidak berpengaruh terhadap debit airnya. Keadaan itu membuat petani beralih ke tanaman palawija dan sayur yang sedikit membutuhkan air, dan hasilnya lumayan menjanjikan, terutama sayur hijau.

Berdasarkan pantauan, Rabu (11/11/2020), aliran air di saluran irigasi terlihat kecil. Di beberapa titik nampak bendungan kecil yang dibuat petani agar bisa mengalirkan air ke lahan persawahannya. Lahan sawah yang ditanami padi hanya terlihat beberapa hamparan, sisanya masih kosong, hanya ditumbuhi rumput.

Bacaan Lainnya

Salah seorang petani setempat, Wayan Simpen, menuturkan, belakangan aliran air mengecil dan membuat dia kelimpungan. Keadaan ini membuatnya harus melewati dua kali giliran masa tanam. Dia mengeluh beberapa kali merugi akibat padinya gagal panen. Kesulitan air juga diakibatkan lahan garapannya berada di bagian hilir, sehingga aliran air sangat kecil.

Untuk menyiasasti masalah klasik ini, subak setempat menggunakan sistem tanam sorong atau bergilir. Saat air mencukupi, biasanya hasil yang didapat dari lahan garapannya mencapai 4 kuintal, tapi belakangan hanya mendapat 25 kilogram. Melihat kecilnya debit air, dia terpaksa beralih ke tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah dan sayur hijau.

Baca juga :  Para Guru Belanja Ratusan Juta di Pasar Gotong Royong

“Biar dapat saja hasil, saya pilih tanam palawija. Sayur hijau hasilnya cukup lumayan belakangan ini di pasaran. Sebagai petani, pasang-surut itu sudah biasa dialami,” kisahnya.

Hal senada diungkapkan Nyoman Kumpul. Petani ini menceritakan kecilnya debit air membuat beberapa kali merugi, karena padi yang ditanam tumbuh kerdil dan tak menghasilkan. Menyikapi keadaan itu, menjelang musim kemarau, petani setempat tidak lagi bergantung dengan tanaman padi, melainkan beralih ke palawija. Beberapa ada yang menanam sayur.

“Yang penting ada hasilnya, daripada tidak digarap,” ungkapnya seraya menduga penyebab kecilnya debit air di saluran irigasi ini akibat ada pembangunan hidrum di hulu subak. 028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.