Berantas “Bank Subuh”, Bank NTB Syariah Diminta Siapkan Layanan Khusus di Pasar

ANGGOTA Komisi III DPRD NTB, TGH Hazmi Hamzar. Foto: rul

MATARAM – DPRD NTB minta jajaran direksi PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTB Syariah berperan dalam memberantas keberadaan “bank subuh” (modus baru rentenir) di tengah masyarakat, khususnya masyarakat di pelosok dan pedagang pasar. Sebab, di NTB ada ribuan pesantren dan ribuan tuan guru, yang melalui program NTB Gemilang dapat membumikan ekonomi syariah.

“Ini yang harus jadi catatan jajaran direksi PT Bank NTB Syariah,” seru anggota Komisi III DPRD NTB, TGH Hazmi Hamzar, di ruang rapat paripurna DPRD, Senin (14/3/2022).

Bacaan Lainnya

Menurut politisi PPP itu, keberadaan “bank subuh” menjadi sorotan masyarakat selama ini. Sebab, pinjaman mikro yang dijalankan dinilai sebagai cara baru operasi rentenir. Secara praktik, bunga pinjamannya sangat mencekik masyarakat.

Hazmi menilai pilihan masyarakat untuk menggunakan jasa “bank subuh” itu, lebih kepada minimnya sosialisasi oleh Bank NTB Syariah dalam menjangkau lapisan masyarakat hingga tingkat bawah. Selain itu, persyaratan pinjaman dana kredit juga dirasa terlalu ribet.

“Inilah yang kita sayangkan, kenapa pakai persyaratan yang menyulitkan masyarakat? Harusnya Bank NTB Syariah jangan lagi pakai sikap ragu-ragu, bila perlu persyaratan pinjaman kredit lunak ke masyarakat kecil dipermudah. Jika begitu, keberadaan ‘bank subuh’ bisa sama-sama kita perangi,” pesannya.

Baca juga :  Sikapi Aspirasi Mahasiswa, DPRD NTB Surati Presiden

Dengan potensi penduduk yang beragama Islam mencapai 96 persen di NTB, seharusnya manajemen PT Bank NTB Syariah bisa menjadi pemain utama untuk meraup hal itu. Keunggulan Bank NTB Syariah, jelasnya, yakni dari sisi kedekatan, berbagi rasa, dan berbeda dengan keuntungan sistem perbankan konvensional.

Keberanian meyakinkan masyarakat ini yang kurang dilakukan Bank NTB Syariah. “Jika potensi itu bisa dijual dengan baik, bahwa Bank NTB Syariah adalah pembawa solusi perekonomian kita, saya yakin adanya ‘bank subuh’ itu bisa lenyap,” tegasnya.

Hazmi berharap ada inovasi perbaikan layanan kepada masyarakat, antara lain disediakan mobil yang terus siaga di semua pasar tradisional. Pula ada lapak khusus di pusat perekonomian masyarakat. Bila hanya mengandalkan pangsa pasar yang ada, yakni semua ASN dan DPRD di NTB, target peningkatan pendapatan signifikan di bawah kepemimpinan Direktur Utama, Kukuh Rahardjo, sulit diwujudkan.

Lebih jauh diuraikan, BanK NTB Syariah harus berani mulai keluar dari rutinitas. Bila perlu para ulama yang bergabung dalam MUI NTB dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren, diajak menjadi agen untuk menyosialisasikan keberadaan Bank NTB Syariah.

“Dengan begitu, semua jamaah dan para santri mereka yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu, akan bisa masuk menjadi anggota Bank NTB Syariah,” sarannya. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.