Bentuk Forum Kelompok Islam untuk Redam Intoleransi

  • Whatsapp
TGH Hazmi Hamzar. Foto: rul
TGH Hazmi Hamzar. Foto: rul

MATARAM – Forum Komunikasi Kerukunan Antar-Kelompok Islam (FKKAKI) harus dibentuk di Provinsi NTB. Keberadaan lembaga itu diharap menjadi tempat berkumpulnya para petinggi kelompok-kelompok Islam untuk melakukan mudzakarah, pun memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara sesama muslim. Eksistensi lembaga umat seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus diperkuat dengan keberadaan FKKAKI. 

“Dengan seringnya dilakukan mudzakarah antara umat Islam, tentunya FKKAKI akan bisa masuk ke pondok pesantren dan kampus Islam. Maka masalah disintegrasi yang merusak citra Islam bisa diminimalisir,” urai anggota Komisi V DPRD NTB, TGH Hazmi Hamzar, Jumat (7/1/2022).

Bacaan Lainnya

Menurut Ketua Yayasan Maraqittaqlimat, Mamben, Kabupaten Lombok Timur itu, keberadaan Forum Kerukunan itu dapat masuk ke semua lapisan kelompok masyarakat. Harapannya, munculnya kelompok paham baru seperti di Ponpes As-Sunah yang membawa aliran Wahabi di wilayah NTB, bisa diajak bermudzakarah atau yang dikenal dengan mimbar dialog.

Lebih jauh diungkapkan, masing-masing kelompok membawa kitab sendiri-sendiri. Sunnah dengan kitabnya sendiri tanpa memperhatikan kitab-kitab dari kelompok yang lain, sedangkan yang lain juga tidak mau menggunakan kitab yang dibawa Sunnah. Inilah yang membuat umat Islam menjadi seperti saat ini.

“Maka penting adanya forum itu dibuat, sehingga ada norma atau aturan yang disepakati bersama oleh semua pihak untuk ditaati agar ukhuwah antarumat Islam tidak terpecah satu sama lain,” lugasnya.

Baca juga :  Pemkot Denpasar Gelar Sosialiasi Permendagri Tentang Kerjasama Daerah

Dia mendaku saat ini tidak penting lagi memperdebatkan soal-soal yang menjadi materi perdebatan lama. Misalnya soal qunut dan tidak qunut, soal jumlah rakaat taraweh, ziarah makam, dan perdebatan lainnya. Kalaupun itu mau diperdebatkan, debatkanlah secara baik, beri pemahaman yang baik tanpa harus mengejek atau mencemooh yang lain. Sebab, tegasnya, semua kelompok memiliki kitab masing-masing.

“Yang perlu sekarang adalah bagaimana memperkuat ukhuwah Islamiyah antara sesama umat Islam serta untuk kemajuan bersama. Itu yang paling penting,” serunya.

Menurut dia, kelompok ormas Islam yang sudah eksis di Indonesia seperti NU, NW dan Muhammadiyah, sangat berpengalaman dalam masalah toleransi. Karena itu, lanjut Hazmi, dia heran manakala kini muncul gerakan intoleransi di era yang sudah saatnya agama Islam itu bersatu padu. 

“Saat ini kita menikmati toleransi yang sangat tinggi. Jadi, jika ada kelompok yang ingin membawa gerakan intoleransi, tentunya harus dilakukan dialog dalam internal kelompok umat Islam,” paparnya.

Hazmi menambahkan, adanya forum dialog di antara kelompok Islam dapat meredam tensi dakwahnya yang terlalu keras agar bisa menjadi lunak. Kalau gerakan dialog terus dikedepankan, maka ajaran Islam bisa menjadi lebih moderat. “Tentunya ajaran Islam Wasathiyah yang sesuai dengan takdirnya, yakni umat Islam menjadi umat wasathiyah akan bisa terwujud di NTB,” pesannya mengajak. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.