Bela Megawati, Adi Wiryatama Benarkan Penguasa Seperti Orba, Tuding Hukum Dikendalikan Seenaknya

KADER senior PDIP dari Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama. Foto: hen
KADER senior PDIP dari Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama. Foto: hen

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Kader senior PDIP dari Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama, menyatakan sepakat dengan pernyataan Megawati Soekarnoputri bahwa penguasa di Indonesia saat ini seperti Orde Baru (Orba) yang otoriter. “Penguasa di zaman Orde Baru itu otoriter, di negara yang berdemokrasi maka rakyatlah yang berkuasa,” sebutnya via Whatsapp saat dimintai tanggapan, Kamis (30/11/2023).

Lebih jauh dia menguraikan, ketika hak-hak rakyat dipreteli, pers dibungkam dan hukum yang mestinya sebagai panglima diacak-acak, apa enaknya? “Ibu Mega itu benar, penguasa Indonesia sudah nyaris seperti itu (Orde Baru),” bela Ketua DPRD Bali yang kini dipromosikan sebagai caleg ke DPR RI itu.

Read More

Disinggung bahwa hari ini tidak ada pembungkaman pers seperti dilakukan rezim Orde Baru, juga sistem politik masih berjalan seperti biasa, Adi mengklaim situasinya mendekati seperti Orde Baru. “Mulai orang protes Presiden ditangkap, kantor partai (kami) didatangi aparat (keamanan), hukum dikendalikan sesuai kehendaknya,” jawabnya.

Sebelumnya, Korwil Pemenangan Bali-Nusra DPP Partai Golkar, Gde Sumarjaya Linggih, ikut tersentil untuk menanggapi pernyataan Megawati. “Saya rasa kita tidak perlu berkubang dalam nostalgia masa lalu terlalu banyak. Setiap orde itu pasti ada kebaikan dan keburukan masing-masing. Memangnya Orde Lama itu (yang dipimpin Presiden Soekarno) bagus semua? Ada juga buruknya kan?” cetus Demer, sapaan karibnya, Rabu (29/11/2023).

Demer tidak memungkiri pernyataannya dinilai membela Presiden Jokowi, yang anaknya, Gibran Rakabuming Raka, diusung Partai Golkar dan Koalisi Indonesia Maju sebagai cawapres. Namun, sambungnya, poin yang ingin dilontarkan adalah agar semua pihak menghormati dan fair (adil) melihat suatu tatanan atau rode. Dia pun berharap kita semua melihat ke depan, tidak terjebak pada masa lalu.

“Kalau Golkar itu bicara adu ide dan gagasan, kami tidak mau nostalgia terlalu banyak. Golkar sudah jadi partai dan mereformasi diri. Karena itu kami tidak mau nostalgia, nanti panjang ceritanya,” tegas anggota Komisi VI DPR RI itu.

Menurutnya, setiap orde memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing. Orde Baru banyak jeleknya, begitu juga Orde Lama yang ketika itu dipimpin bapaknya Megawati sebagai Presiden. Karena itu harus fair melihat. Dia tidak memungkiri Orde Baru tidak semua bagus, ada negatifnya. Begitu juga Orde Reformasi tidak bagus semuanya, di mana Megawati pernah berkuasa sebagai Presiden tahun 2001-2004.

Lebih jauh disampaikan, Golkar menghormati setiap pemimpin di masa lalu. Bung Karno dan Soeharto dihormati dengan segala kekurangannya pada saat memimpin. Sikap serupa ditujukan kepada Megawati Soekarnoputri yang pernah menjadi Presiden pada masa Reformasi. Karena itu, Demer menilai tidak perlu menghabiskan energi untuk perdebatan.

Sebagai Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sebelumnya melontarkan kritik keras pada Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Relawan Ganjar-Mahfud di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (27/11/2023). Dia menyebut penguasa saat ini bertindak seperti zaman Orde Baru, lantaran bertindak sewenang-wenang menjelang Pilpres 2024. “Kenapa? Republik penuh dengan pengorbanan tahu tidak? Kenapa sekarang kalian yang baru berkuasa itu mau bertindak seperti zaman Orde Baru?” kata Megawati seperti dikutip dari tirto.id (29/11/2023). hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.