DENPASAR – Adnya kecemasan jajaran penyelenggara Pilkada 2020 untuk mengikuti tes cepat (rapid test) Corona memantik prihatin Ketua Bawaslu Bali, Ketut Ariyani. Selain mengingatkan pentingnya tes cepat bagi penyelenggara agar tidak menjadi inang bagi virus Covid-19, di sisi lain dia juga mengajak masyarakat.
“Jangan memberi stigma negatif bagi mereka yang reaktif (hasil tes cepatnya). Ini juga berpengaruh kepada psikologis kepada siapa saja, termasuk penyelenggara,” pesannya saat ditemui, Rabu (15/7/2020).
Dia menuturkan, tes cepat sangat penting agar ada skrining awal bagi siapa saja untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Bagi jajaran Bawaslu, dia mendaku diwajibkan tes cepat dari para komisioner di Bawaslu Bali sampai ke tingkat pengawas lapangan. Tujuannya untuk memastikan mereka tidak terpapar Covid-19, karena tugas pengawasan dijalankan di tengah wabah yang masih belum ada tanda-tanda meredup.
“Ketika semua sudah rapid test, jadi tidak perlu ada kekhwatiran ketika Bawaslu datang. Sudah semua rapid test dan hasilnya nonreaktif. Selain itu pengawas kami wajib memakai APD lengkap agar tidak terpapar atau menularkan,” ulas satu-satunya perempuan komisioner Bawaslu Bali tersebut.
Ketika di jajaran penyelenggara ada badan ad hoc yang ogah menjalani tes cepat, Ariyani bersyukur jajarannya tidak ada penolakan sama sekali. Untuk memastikan jajaran sampai terbawah itu, dia berkata hanya berupaya meyakinkan bahwa satu-satunya jalan melacak terpapar atau tidak adalah lewat tes cepat. Bagi yang hasilnya reaktif, sebutnya, mereka akan diistirahatkan, tidak langsung diberhentikan. Untuk sementara tugas pengawasan akan diambil alih Bawaslu kabupaten/kota.
Lebih jauh diutarakan, Bawaslu tidak langsung memberhentikan yang hasilnya reaktif, dengan pertimbangan tidak ada orang yang sengaja terjangkit virus itu. Kemudian, sambungnya, ketika mereka sudah mau bergabung ke Bawaslu dengan semangat tinggi, masa diberhentikan karena hasilnya reaktif? Apalagi langkah isolasi, baik mandiri atau difasilitasi pemerintah, masih bisa dilakukan.
“Beda ceritanya kalau mereka misalnya minta berhenti sendiri. Yang jelas kami tidak ada dipaksa ikut rapid test, semua dengan kesadaran sendiri, dan kami utamakan pendekatan personal. Terpenting itu tadi, jangan distigma yang hasilnya reaktif itu,” tandas penggiat senam ini. hen
























