Bali Jangan Bergantung Pasar China, Ekonomi Berbasis Desa Lebih Kuat

  • Whatsapp
SUASANA webinar membahas pemulihan situasi ekonomi Bali usai pandemi Covid-19 yang diselenggarakan DPD Partai Golkar Bali, Selasa (9/6/2020). Foto: gus hendra
SUASANA webinar membahas pemulihan situasi ekonomi Bali usai pandemi Covid-19 yang diselenggarakan DPD Partai Golkar Bali, Selasa (9/6/2020). Foto: gus hendra

DENPASAR – Pariwisata Bali usai badai pandemi Covid-19 mesti beradaptasi dengan kenormalan baru jika ingin segera kelua dari kondisi krisis. Salah satu strategi yang dapat dilakukan dengan diversifikasi pasar untuk menghindari bergantung dengan pasar tunggal. “Contohnya kasus China kemarin yang membuat goncang kita saat ada kartel wisatawan. Ini harus kita hindari,” sebut Ketua Bali Tourism Board, IB Agung Partha Adnyana, dalam webinar “Strategi Pembangunan Ekonomi Bali Pasca Pandemi Covid-19” yang digelar DPD Partai Golkar Bali, Selasa (9/6/2020).

Lebih jauh diutarakan, ketika suatu pasar kuantitasnya sudah lebih dari 20 persen, maka itu harus diwaspadai. Berdasarkan data, sebutnya, pasar wisatawan China pada tahun 2019 sempat mencapai 26 persen. Karena begitu dominan, maka Bali menjadi bergantung dengan mereka, sehingga ketika ada masalah efeknya juga besar.

Baca juga :  Cegah Penyebaran Covid 19, Kelurahan Penatih Gencarkan Monitoring Duktang

Sebagai solusi, dia menyebut Bali mesti memperkuat tata kelola pariwisata di semua tingkatan yang selama ini belum bagus. Wisatawan mendapat suasana bagus di hotel, tapi begitu keluar jalanan macet, destinasi wisata kurang bersih dan masalah lain. Kemudian Bali yang berada di wilayah rawan gunung berapi perlu belajar untuk mempersiapkan diri ketika terjadi bencana. Dia mencontohkan kesigapan Taiwan saat dihajar wabah SARS, sehingga ekonominya cepat pulih.

“Contoh kemarin saat erupsi Gunung Agung, pariwisata kita berhenti. Ini harus dipelajari untuk menghadapi krisis,” tegasnya.

Guru besar Fakultas Ekonomi Unud, Wayan Ramantha, menilai pariwisata Bali masih sangat menjanjikan meski ada pandemi. Tingkat kasus positif Corona banyak, tapi angka kematian tetap lima orang dengan tiga di antaranya warga negara asing. Ini memberi pesan bahwa jika orang mau selamat, silakan datang ke Bali. Hal itu juga menunjukkan bagaimana peranan desa adat dan pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan masyarakatnya.

Baca juga :  Suiasa Sosialisasi Kebijakan Pemkab Badung Soal Penanganan Corona di Kuta

“Sektor pariwisata ada peluang baru di tengah tantangan pandemi, dan pariwisata budaya mengarah ke keberlanjutan pariwisata mesti dijaga. Kita punya Tri Hita Karana, jalankan itu sesuai konteks, tidak hanya teks saja,” pintanya.

Melihat keadaan terkini, Ketua Kadin Bali, Made Ariandi, mengajak masyarakat untuk gerakan kembali ke desa. Para karyawan hotel di kota yang dirumahkan agar menggiatkan usaha di desanya. Fenomena banyaknya karyawan dirumahkan karena pariwisata ditutup sementara tersebut menunjukkan betapa Bali sangat bergantung dunia luar. Keadaan ini juga membuat Bali, terutama di kota, rentan kemandirian pangan.

“Kalau di desa cukup dibantu beras saja, karena masih ada tananam dan sayuran. Tapi kalau di kota tidak bisa, karena mereka juga harus diberi mi instan, sarden, dan lain-lain,” urainya.

Baca juga :  Demokrat Lobar Bagikan Sembako untuk Lansia

Sebelumnya, saat membuka acara, Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, memaparkan persoalan ekonomi Bali usai dihajar pandemi. Di akhir acara, tim Infokom dikoordinir Putu Iwan karna memberinya kejutan kue ulang tahun. Sugawa kemarin genap berusia 62 tahun. Para narasumber pun bergiliran mengucap selamat ulang tahun kepada Wakil Ketua DPRD Bali tersebut. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.