Awasi Ketat Penggunaan Gawai oleh Anak, P2TP2A Buleleng Soroti Kasus Persetubuhan Anak

  • Whatsapp
KETUA P2TP2A Buleleng, Made Ricko Wibawa. Foto: rik
KETUA P2TP2A Buleleng, Made Ricko Wibawa. foto: rik

BULELENG – Kasus persetubuhan yang menimpa KMW (12) warga di Kecamatan Buleleng, menambah deretan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi di Buleleng. Mirisnya lagi, dari total 10 pelaku yang melakukan perbuatan bejat terhadap KMW secara bergiliran, 7 orang diantaranya ternyata masih kisaran usia 15 tahun sampai 17 tahun. Kondisi ini sampai terjadi tidak lepas dari minimnya pengawasan orangtua dan pergaulan anak-anak saat ini.

Peristiwa keji yang dialami KMW menjadi perhatian khusus Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng. Ketua P2TP2A Buleleng, Made Ricko Wibawa, mengatakan, dengan adanya kasus menimpa KMW ini telah menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Buleleng. Terhadap penanganan kasus menimpa KMW ini, dari P2TP2A Buleleng sudah melakukan pendampingan.

Bacaan Lainnya

Pendampingan terhadap korban dilakukan dengan melibatkan psikolog. “Kami sudah memberikan pendampingan, baik itu mulai dari pelaporan sampai ke psikolog. Konseling ke psikolog juga sudah beberapa kali dilakukan,” ujar Ricko Wibawa, Senin (2/11/2020).

Terkait kondisi psikis korban, Ricko enggan menyampaikan. Hanya saja dia menekankan kepada pihak keluarga korban agar tidak terus menanyakan kasus yang dialami anaknya, sehingga korban nantinya tidak mengalami trauma yang mendalam.

Baca juga :  Jaya Negara Ajak Seluruh Elemen Putus Rantai Penyebaran Covid-19, 24 Pasar Rakyat di Denpasar Dipasang Bilik Antiseptik

Pendampingan tidak saja diberikan kepada korban melainkan juga ke beberapa pelaku masih dibawah umur. “Karena di sistem peradilan anak, tidak ada anak sebagai pelaku atau korban. Istilahnya anak berhadapan dengan hukum atau anak berkonflik dengan hukum. Pendampingan ini kami berikan untuk kondisi psikisnya,” jelas Ricko Wibawa.

Melihat kasus yang terjadi ini, Ricko meminta agar masyarakat lebih ketat mengontrol anak-anaknya, terutama dalam penggunaan media sosial (medsos). Ia menegaskan, penggunaan gadget (gawai) harus diawasi ketat. “Sebagian besar ini pemicunya karena pengawasan kurang ketat terhadap penggunaan gadget dan media sosial,” katanya.

Disisi lain, dia tak menampik hingga saat ini Rumah Aman di Buleleng masih belum dibangun. Apalagi Buleleng masuk sebagai Kabupaten Layak Anak. “Rumah Aman kan menjadi kewenangan Pemkab Buleleng melalui Dinas Sosial,” pungkas Ricko Wibawa.

Sebelumnya, Polres Buleleng menetapkan 10 orang tersangka dalam kasus persetubuhan yang menimpa seorang pelajar SMP berinisial KMW (12). Dari jumlah 10 orang itu, hanya 3 orang ditahan. Sisanya, 7 orang berusia anak-anak. Pelaku yang ditahan yakni Gede Putra Ariawan alias Wawan (19) asal Desa Alasangker, Putu Rudi Ariawan (19) alias Rudi dan Kadek Arya Gunawan alias Berit (22) asal Lingkungan Penarungan, Kelurahan Penarukan. Tujuh orang masih dibawah umur dan tidak ditahan yakni GP, GA, E, KD, KJ, S, dan T.

Baca juga :  Cegah Parkir Liar dan Pasar Tumpah, Dishub Denpasar Pasang Barikade di Depan Pasar Pula Kerti

Ketujuh pelaku berusia anak-anak itu tetap menjalani proses hukum. Hanya saja,penanganannya berbeda dengan peradilan umum. Karena ancaman hukuman diatas 7 tahun, maka ketujuh pelaku dibawah umur ini tidak bisa dilakukan diversi. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.