DALAM perang, unsur pendadakan atau kejutan memiliki bobot tinggi untuk mencapai kemenangan. Sialnya, justru unsur kejutan yang menimpa I Gusti Ayu Aries Sujati, caleg DPR RI dari PDIP cum istri mantan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana. Pencalonannya digusur, dan diganti I Gusti Ayu Fourina Gamaniswari, anak kedua politisi senior PDIP, I Gusti Ngurah Sara alias John Sara.
Tegak lurus perintah partai untuk tarung ke Senayan meski baru sekali ke DPRD Bali, kini Aries terkesan dihempaskan. Tersingkir ketika selangkah lagi masuk Daftar Calon Tetap (DCT). Bayangkan bagaimana runtuhnya mental setelah sibuk sana-sini tebar janji, dan bantuan tentu, kini semua lenyap hanya karena selembar surat. “Kayaknya disengaja detik-detik akhir baru dicoret, karena kalau sejak awal DCS dihilangkan, dia tidak mau kerja keras untuk partai,” bisik seorang sumber.
Mengingat sosok yang dibuang dan yang menggantikan timpang secara popularitas serta akseptabilitas, wajar ada kegaduhan di internal. Terlebih saat ini Pileg dan Pilkada dihelat pada tahun yang sama 2024, yang berarti pelaksanaan dan kepentingannya beririsan, ada potensi lenyapnya Aries Sujati melahirkan kejutan susulan di internal. Bentuknya apa, bergantung keberanian, kelihaian, dan kekuatan memanfaatkan momentum para aktornya.
Terlepas bagaimana dinamika nanti, peristiwa ini bisa dimaknai sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, DPP mengirim sinyal karir politik dinasti Agus Suradnyana berakhir, setidaknya untuk menggunakan kendaraan PDIP dalam waktu dekat. Lolosnya Aries ke DPRD Bali tahun 2019 jelas berkat eksploitasi kuasa dan pengaruh Suradnyana sebagai Bupati (waktu itu) dan Ketua DPC PDIP Buleleng. Sekarang dengan hanya sebagai Ketua DPC, dan berarti nihil dukungan hibah atau bansos, ruang gerak Suradnyana niscaya sempit.
Jika tetap ingin jadi pemain di politik, opsi moderat bagi Suradnyana adalah sebagai king maker di Pilkada Buleleng. Untuk memenangkan calon PDIP tentunya. Ada juga opsi ekstrem yakni dengan hengkang dari kandang Banteng. Strategi serupa pernah dilakukan Bupati Buleleng 2002-2012, Putu Bagiada.
Sebagai ilustrasi, pada Pilkada Buleleng 2012, Bagiada yang kader PDIP dianggap berkhianat karena justru menjagokan anaknya, Gede Ariadi, berpasangan dengan Wayan Arta dengan didukung Golkar, PKPB dan PAN. Tapi, dukungan Bupati Bagiada tidak mampu memenangkan sang anak yang hanya mendulang 77.440 suara, menang tipis dari pasangan Tutik Kusuma Wardhani-Komang Nova Sewi Putra (Demokrat) dengan 73.663 suara. Namun, Ariadi-Arta kalah jauh dengan Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra yang menang dengan 186.814 suara.
Hanya, jika terlintas mengambil jalan “pemberani” itu, mesti diingat dan diakui bahwa Mega memiliki taksu khusus di Bali. Kader elite yang berani bermanuver atau bahkan melawan titah Mega, nasibnya berujung tidak menyenangkan. Wayan Sukaja, Putu Bagiada, dan Gde Winasa adalah contoh yang perjalanan karir politiknya terpuruk begitu minggat dari PDIP.
Kedua, ke mana loyalis Aries dan Suradnyana meluncur? 32.408 suara direbut Aries saat Pileg 2019, dan ini ceruk konstituen bakal diperebutkan para caleg DPR RI lain, terutama yang asal Buleleng. Mungkin saja loyalis mendukung caleg partai lain, tapi mengingat kencangnya fanatisme pendukung PDIP di Buleleng, yang lebih pasti adalah ke caleg PDIP juga.
Berdasarkan data di KPU, caleg PDIP yang lolos ke Senayan pada Pileg 2019 adalah I Made Urip (255.130 suara), IGN Kesuma Kelakan (173.818), I Nyoman Parta (170.629), Wayan Sudirta (119.965), I Gusti Agung Rai Wirajaya (103.947), dan I Ketut Kariyasa Adnyana (75.903). Dua caleg Golkar yang lolos adalah Gde Sumarjaya Linggih (114.104) dan AA Bagus Adhi Mahendra Putra (66.712), dan dari Demokrat, Putu Supadma Rudana (38.624). Untuk Pemilu 2024, DPT Buleleng sebanyak 611.901 pemilih, terdiri dari 304.495 laki-laki dan 307.406 perempuan.
Menimbang caleg asal Buleleng adalah Kariyasa Adnyana, logikanya dia ada di urutan pertama yang diuntungkan. Namun, pada saat yang sama, dia juga mudah diinsinuasi dan dijadikan musuh bersama oleh pesaingnya. Alit Kelakan juga disebut-sebut kecil mendapat limpahan dukungan, karena dipandang sebagai lingkaran dalam Wayan Koster, yang saat ini kurang mesra dengan Suradnyana. Pemantiknya adalah karena sempat santer ada isu Suradnyana dipasangkan sebagai cawagub Giri Prasta untuk kandidasi internal PDIP, dan itu berarti jadi pesaing Koster-Ace yang ngebet melangkah ke periode kedua.
Dalam kondisi terpuruk mental, siapa kolega dekat atau menunjukkan simpati dengan tragedi, itulah yang paling mungkin dijadikan sandaran dan titipan dukungan. Plus tidak mungkin bersaing di kontestasi Pilkada, cukup cadangan logistik guna gantian merawat kesetiaan pendukung, terbilang senior, dan peluang lolos ke Senayan relatif besar. Soal siapa memiliki kriteria itu di internal, silakan dicari sendiri.
Ketiga, bagaimana peluang I Gusti Ayu Fourina Gamaniswari mendapat kursi DPR RI? Ilustrasinya begini. Rumor menyebut penyingkiran Aries Sujati titah langsung Ibu Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri. Suradnyana terdeteksi menjegal pencalonan mantan wakilnya, Nyoman Sutjidra, yang secara konvensi internal seyogianya mulus melenggang sebagai kandidat Bupati Buleleng. Kabarnya dia menjagokan orang lain untuk menggoyang langkah Sutjidra. Guncangan di Buleleng terdengar sampai di telinga Mega, dan Suradnyana pun konon diperingatkan Mega saat Rakernas di Jakarta.
Mencermati konteks itu, dihapusnya pencalonan Aries lebih ditujukan untuk pendisiplinan kader dan unjuk kuasa struktural. Target menambah kursi di Senayan kemungkinan diporsikan lebih besar kepada caleg lain, bukan Gamaniswari, yang penting target utama yang dibidik demi agenda lebih besar partai berhasil “ditidurkan”. Situasi ini juga bisa dibaca bahwa persaingan internal begitu sengit, dan semua pihak berkepentingan memasang telik sandi demi menyadap pergerakan kompetitor sebagai bahan laporan ke DPP. Pesannya tegas: kubur dalam-dalam ambisi kader yang berpotensi dianggap melawan kehendak dan kemajuan (elite) partai, jika tidak ingin “di-Aries Sujati-kan”. Gus Hendra























