Alat Berat di TPA Mandung Rusak, Sampah Menumpuk di Kota Tabanan

  • Whatsapp
PULUHAN truk dengan muatan sampah penuh berjajar di jalan belakang Kantor DLH Tabanan, menunggu perbaikan dan pengoperasian alat berat di TPA Mandung. Foto: gap
PULUHAN truk dengan muatan sampah penuh berjajar di jalan belakang Kantor DLH Tabanan, menunggu perbaikan dan pengoperasian alat berat di TPA Mandung. Foto: gap

TABANAN – Sebagian masyarakat di Kota Tabanan mengeluhkan sampah yang menggunung di mana-mana. Sebab, dalam seminggu terakhir tumpukan sampah di permukiman penduduk tak ada yang mengambil, yang biasanya dilakukan dua hari sekali oleh petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan.

Sejumlah warga yang ditemui di beberapa lingkungan yang terdapat tempat pembuangan sampah, menyebut kondisi seperti itu sangat mengganggu lingkungan. “Dampaknya juga terhadap kebersihan lingkungan yang bermasalah, terlebih juga tidak baik untuk kesehatan masyarakat,” ujar salah satu warga Tabanan, Putu Eka (24 tahun).

Bacaan Lainnya

Banyak reaksi yang muncul atas permasalahan sampah tersebut. Sampah yang dihasilkan masyarakat dan belum terangkut pun diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan I Made Subagia. “Saat ini kami menghadapi kendala kerusakan alat berat sehingga tidak bisa memberikan pelayanan dalam penanganan sampah di TPA Mandung, Desa Sembung Gede, Kerambitan,” ungkapnya, Rabu (25/8/2021).

Subagia pun mengakui jika hal itu berdampak terhadap pengambilan sampah yang tertunda di desa layanan maupun penerimaan sampah dari desa mandiri atau swasta. Sementara perbaikan alat berat dikatakan memerlukan biaya yang sangat tinggi, sedangkan alokasi anggaran yang tersedia tidak cukup untuk perbaikan alat berat tersebut. “Kami mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp300 juta untuk perbaikan tiga buah alat berat,” tukasnya.

Baca juga :  Ketua Dewan Pers Ingatkan Perlindungan Jurnalis Selama Era New Normal

Menurut Subagia, dalam tiga hari terakhir pihaknya telah menyelesaikan perbaikan alat dan selanjutnya bisa segera bisa dioperasikan. Namun diakui pula jika pengerjaan masih lambat. “Mudah-mudahan bisa segera melayani penanganan sampah di TPA Mandung, namun dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Dia berharap, masyarakat desa layanan dan pihak lainnya sudah memberikan imbauan jika selama penundaan pembuangan sampah, maka hal yang bisa dilakukan adalah mengelola sampah dari sumber. Hal itu sesuai Pergub Bali No. 47 Tahun 2019. “Sampah organik bisa dikelola melalui TPST3R, lubang daur ulang sampah di halaman belakang rumah, lubang biopori, komposter, dan pewadahan kompos lainnya,” ujar Subagia.

Untuk sampah anorganik, lanjut dia, dikerjasamakan dengan bank sampah unit atau bank sampah induk. Semua jenis sampah anorganik, kecuali kain perca, pakaian bekas, dan piring keramik, maka bisa dijual ke bank sampah. “Artinya, jika perilaku dan sikap mental masyarakat berubah, maka tidak ada istilah susah buang sampah anorganik. Saya sudah buktikan sendiri di rumah tangga saya sendiri,” ujarnya.

Sesuai Perda No. 5 Tahun 2021 tentang SRT dan SSSRT, tambahnya, maka hanya residu saja yang bisa dibuang ke TPA Mandung. Yang termasuk residu dan tidak bisa dijual ke bank sampah, seperti pampers, pembalut wanita, masker, kertas minyak, dan jenis sampah yang sudah kotor dan rusak, sehingga tidak bisa didaur ulang. “Jika semua elemen masyarakat di Kabupaten Tabanan bisa melakukan seperti hal tersebut, maka mimpi untuk mewujudkan kabupaten tanpa TPA bisa kita wujudkan,” tandasnya. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.