238 Napi se-Bali Terima Remisi Khusus Natal, Dua Langsung Bebas

  • Whatsapp
SEBANYAK 238 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berstatus narapidana (napi) yang menghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) atau rumah tahanan (rutan) di Bali menerima remisi khusus Hari Raya Natal tahun 2021. Foto: ist

MANGUPURA – 238 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berstatus narapidana (napi) yang menghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) atau rumah tahanan (rutan) di Bali menerima remisi khusus hari raya Natal tahun 2021. Para WPB yang mendapat remisi Natal atau potongan masa pemidanaan adalah mereka yang memeluk agama nasrani.

Ke-238 napi itu berasal dari 10 lapas dan rutan yang ada di Bali. Lapas Kelas IIA Kerobokan Denpasar penyumbang napi penerima remisi Natal terbanyak, yakni mencapai 125 napi. Di susul Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli sebanyak 48 napi, kemudian Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan sebanyak 20 napi.

Bacaan Lainnya

Di daerah lain, ada Lapas Kelas IIB Karangasem sebanyak 9 napi, Lapas Kelas IIB Tabanan 7 napi, dan Lapas Kelas IIB Singaraja sebanyak 6 napi. Sementara di tingkat rutan, sebanyak 10 napi di Rutan Bangli menerima remisi Natal, Rutan Kelas IIB Gianyar 9 napi, serta Rutan Kelas IIB Negara 2 napi.

Dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) atau Rutan Anak Karangasem ada 2 napi yang juga mendapat remisi Natal 2021. Dari 238 orang tersebut, 212 orang di antaranya merupakan WNI dan 26 WNA.

Baca juga :  Memperluas Kepesertaan, BPJS Kesehatan Gelar Forum Kemitraan Kepentingan Utama

Kepala Kanwil Kemenkumham Bali, Jamaruli Manihuruk, mengatakan, remisi Natal ini diberikan kepada narapidana yang sudah memenuhi syarat dan berperilaku baik.

‘’67 napi yang mendapatkan pengurangan masa pidana selama 15 hari, 128 napi pengurangan masa pidana selama sebulan, 33 napi pengurangan masa pidana 1 bulan 15 hari, dan 9 napi pengurangan pidana selama 2 bulan. Sedangkan 2 napi di antaranya dinyatakan langsung bebas, yaitu warga binaan dari Lapas Kerobokan,’’ terang Jamaruli Manihuruk, Sabtu (25/12/2021).

Selama masa pembinaan di pemasyarakatan, kata Jamaruli Manihuruk, mereka (napi) secara rutin mengikuti kegiatan pelatihan peternakan, pertanian, tata boga, sablon, melukis, kerajinan perak, menjahit, teknik las dan beberapa kegiatan pembinaan lainnya.

Hal tersebut penting bagi mereka setelah keluar dari lapas/rutan sebagai bekal untuk dapat hidup secara normal dan berbuat lebih baik dengan tidak mengulangi tindak pidananya.‘’Dengan demikian, nantinya mereka siap untuk dapat diterima kembali di lingkungan masyarakat,’’ ujarnya. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.