DENPASAR – Sebanyak 100 sekolah di Bali, mulai dari SD hingga SMA/SMK, menjadi sasaran pelaksanaan akreditasi tahap I tahun 2023. Sekolah yang diakreditasi umumnya adalah sekolah yang masa berlaku sertifikat akreditasinya kedaluwarsa, sekolah baru wajib meluluskan peserta didik dulu baru bisa diakriditasi, serta sekolah yang sebelumnya tidak terakreditasi. Melalui akreditasi, sekolah tersebut diharap tidak lagi bingung dengan nasib peserta didik, khususnya yang akan menamatkan pendidikan.
“Sekolah ini memang kami prioritaskan, karena kepemilikan sertifikat akreditasi sekolah yang masih aktif sangat penting bagi alumninya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Apalagi untuk jenjang SMA/ SMK,” tegas Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Bali, I Wayan Suwira, usai membuka sosialisasi akreditasi tahap I Provinsi Bali secara daring, Jumat (24/2/2023).
Pada Kegiatan sosilaisasi tersebut dihadiri juga dari Dinas Pendidikan Kepemudaan Olahraga Provinsi Bali, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Balai, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Bali, dan Kemenag Kabupaten/Kota se-Bali.
Suwira mengemukakan, untuk memberi kesempatan kepada sekolah yang akan disasar akreditasi, pihaknya menyelenggarakan sosialisasi terkait instrumen yang digunakan. Pula tata cara pelaksanaan akreditasi. ”Dengan sosialisasi ini kami berharap sekolah makin siap divisitasi oleh asesor,” lugasnya.
Dalam sosialisasi tersebut, tim dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Bali memaparkan tentang perubahan paradigma baru pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah. Pun panduan operasional sistem akreditasi baru. Selain itu juga memberi gambaran kepada sekolah tentang tata cara mengunggah dokumen di aplikasi Sispena yang digunakan selama akreditasi.
”Mudah-mudahan dengan sosialisasi ini, pemahaman sekolah tentang tata cara pelaksanaan akreditasi, termasuk mekanismenya, bisa dipahami dengan baik,” harap Suwira.
Selain sosialisasi pelaksanaan akreditasi, dalam waktu dekat Badan Akreditasi juga akan melangsungkan pelatihan pengembangan diri asesor yang akan ditugaskan visitasi ke sekolah-sekolah. Tujuannya untuk memberi penyegaran terhadap para asesor sebelum ditugaskan ke sekolah.
”Kami berharap asesor bukan saja mahir dalam menggali data dan informasi di sekolah, tapi juga profesional dalam menentukan capaian level sekolah yang divisitasi,” imbuhnya. tra























