Wali Kota Rai Mantra Resmikan “Spiga Radio”, Media Belajar yang Berilmu dan Bermanfaat

WALI Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, meresmikan “Spiga Radio” SMP PGRI 3 Denpasar, bertepatan dengan hari raya Saraswati, Sabtu (30/1/2021) secara virtual yang ditayangkan langsung melalui kanal youtube SMP PGRI 3 Denpasar. Foto: ist
WALI Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, meresmikan “Spiga Radio” SMP PGRI 3 Denpasar, bertepatan dengan hari raya Saraswati, Sabtu (30/1/2021) secara virtual yang ditayangkan langsung melalui kanal youtube SMP PGRI 3 Denpasar. Foto: ist

DENPASAR – Setelah menanti selama enam tahun, akhirnya “Spiga Radio” SMP PGRI 3 Denpasar resmi mengudara. “Spiga Radio” diresmikan Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, bertepatan dengan hari raya Saraswati, Sabtu (30/1/2021 )secara virtual yang ditayangkan langsung melalui kanal youtube SMP PGRI 3 Denpasar.

Wali Kota Rai Mantra, mengatakan, bahwa inovasi yang mampu beradaptasi dengan pandemi merupakan solusi atas tantangan saat ini. “Inovasi “Spiga Radio” sangat baik sekali sebagai bentuk terobosan untuk pembelajaran di masa pandemi saat ini, sehingga mampu menghilangkan kejenuhan siswa,” lugas Rai Mantra dalam sambutannya.

Bacaan Lainnya

Rai Mantra menambahkan, keberadaan radio yang mengusung visi media informasi berbasis audio terbaik, juga diharapkan mampu memberikan dukungan psikologis siswa serta masyarakat pada umumnya.

Perjuangan berat hingga berani mendeklarasikan diri pada 30 Januari 2021 tidaklah mudah. Menurut Kepala SMP PGRI 3 Denpasar, Dr. I Made Suada, radio ini sempat istirahat siaran selama lima tahun semenjak 2016. Kendala izin frekuensi yang tak kunjung berhasil diperoleh, menjadi alasan utama kepala sekolah untuk mengistirahatkan program kepenyiaran di sekolah masa tersebut.

Radio ini awalnya disiarkan melalui mic dan pengeras suara di tiap kelas dan sudut sekolah. Diisi siswa yang tergabung dalam ektrakurikuler kepenyiaran. Para siswa menyajikan informasi dengan iringan musik yang disiarkan tiap jam istirahat.

Melihat radio merupakan program yang dapat menjadi unggulan sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik, pada akhir tahun 2015, Dr. I Made Suada, selaku kepala sekolah mengadakan antena pemancar frekuensi dan kelengkapan lainnya.  Jarak jangkau radio frekuensi yang dicoba oleh Spiga pada kala itu hingga 5 kilometer.

“Dulu, saya di rumah saat sepulang sekolah di sore hari biasa mendengarkan siaran radio, terutama saat acara kirim salam dan request lagu,’’ kenang Anggreni, salah satu siswa SMP PGRI 3 Denpasar yang tinggal di daerah Celagi Gendong, Denpasar.

Banyak program acara di masa Spiga menyiarkan radio berbasis frekuensi, seperti segmen Cempaka yang membahas informasi-informasi seputar pelajaran, segmen sejarah, dan info kesehatan. Kala itu juga kerap menghadirkan narasumber-narasumber yang merupakan alumni dari sekolah tersebut.

Sembari berjalannya kegiatan siaran, kepala sekolah bersama guru pembina ektrakurikuler radio mengurus izin-izin pendirian radio frekuensi. Ni Made Chandra Widayanti, S.Pd., salah satu pembina Spiga Radio menuturkan, rumit dan lelahnya memperoleh izin pendirian radio.

“Pertama kita meminta rekomendasi frekuensi di Balmon. Itu bolak-balik sampai tiga kali dan baru setelahnya kita dapet frekuensi. Kemudian kita ke KPI minta berkas, banyak banget dan itupun dua kali ke sana baru akhirnya dapat. Kita lengkapi semuanya, hingga akhirnya mentok di akta notaris pendirian komunitas. Kita bolak-balik ke beberapa notaris, ga juga dapet akta itu, sampe ada notarisnya yang bingung tentang akta yang kami minta. Berbulan-bulan ga juga selesai, akhirnya kami sudah tidak tau harus bagaimana dan kami putus asa untuk mengurusnya. Padahal saat itu kita sudah memperoleh surat rekomendasi dari bapak Wali Kota,” papar Chandra, menjelaskan kisah yang pernah dialaminya saat mengurus izin radio pada 2016 silam.

Dengan alasan menghindari kesalahan dalam prosedur penyelenggaraan siaran, secara perlahan Spiga Radio mematikan mic dari dunia siaran. Pandemi menjadi masalah bagi dunia pendidikan dalam menyelanggarakan perannya, terutama mengakibatkan pembelajaran tatap muka secara langsung tidak dapat dilangsungkan.

Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, sekolah dituntut untuk mengupayakan berbagai inovasi dalam memfasilitasi pembelajaran sesuai karakteristik dan kemampuan peserta didik. Beranjak dari prinsip tersebut, Kasek Made Suada kembali memikirkan menghidupkan radio. “Pembelajaran jarak jauh bagi kami harus difasilitasi dengan beragam media belajar. Seperti juga media belajar melalui siaran radio,” ucap Made Suada.

Menugaskan tim pemajuan sekolah, akhirnya instruksi I Made Suada terwujud. Spiga Radio berhasil disiarkan dengan metode streaming atau melalui internet. Mengambil momen perayaan Hari Raya Saraswati sebagai momen turun dan mengalirnya ilmu pengetahuan, Made Suada berharap seluruh informasi yang disiarkan pada “Spiga Radio” merupakan informasi yang berilmu dan bermanfaat.

“Kami berharap “Spiga Radio” dapat menjadi media belajar yang bermanfaat bagi para siswa di SMP PGRI 3 Denpasar, juga masyarakat umum lainnya,” harap kepala sekolah berusia 71 tahun itu.

“Spiga Radio” dapat diakses pada laman spigadenpasar.sch.id. Menurut Rama Gerald Jade, koordinator tim pemajuan sekolah, proses penyiapan “Spiga Radio” membutuhkan waktu seminggu. Rama juga menjelaskan, kuota yang dibutuhkan untuk menikmati siaran yang berlangsung selama dua jam tiap harinya tersebut tidak terlalu banyak.

“Saya rasa semua siswa mampu mengakses dan menikmati, melihat juga kuota yang digunakan tidak banyak,” jelas Rama dengan udeng endek berwarna ungu gelap seusai acara peresmian.

Pria berusia 19 tahun itu memaparkan, “Spiga Radio” diprogramkan mengudara setiap harinya selama dua jam dari pukul 15.00 hingga 17.00 Wita. Radio yang salah satu misinya teraktual, siaran akan diisi dengan materi pelajaran, informasi yang edukatif, dan acara pesan lagu dan kirim salam. Rama juga menjamin terwujudnya permintaan Wali Kota Denpasar untuk menjadikan radio ini wadah kreativitas siswa. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses