KARANGASEM – Menjelang hari raya besar seperti hari raya Galungan biasanya warga menggelar mepatung (patungan) daging babi. Setiap ekor ternak yang dipotong akan dicarikan pembeli sebanyak delapan sampai sepuluh orang tergantung berat ternak. Seluruh bagian daging akan dibagi rata sesuai dengan jumlah anggota yang ikut mepatung.
Namun di tengah pandemi Covid-19, peternak babi di Bali dihantam harga daging babi yang terus terjun bebas. Harga daging Babi di peternak terus merosot akibat merebaknya virus misterius yang membuat puluhan ternak Babi mati mendadak.
Kondisi inilah yang membuat para peternak menjadi merugi. Daripada rugi besar, sejumlah warga seperti di wilayah Abang, Karangasem, berinisiatif untuk menggelar tradisi mepatung agar para peternak tidak semakin merugi meskipun harganya masih di bawah standar.
“Kita sudah motong sebanyak tiga ekor Babi, ya biar sama sama jalan, agar peternak juga tidak merugi, ketimbang beli di pasar dengan harga yang tetap mahal,” tutur I Made Wirta salah seorang warga Abang, Selasa (12/5).
Biasanya, warga yang ikut mepatung dijatah sesuai dengan berat dan harga beli Babi itu sendiri. Kadang-kadang satu tanding daging bisa seberat 4 sampai 5 kilogram dimana per tanding-nya hanya dibandrol dengan harga Rp100 hingga Rp150 ribu.
Warga Abang lainnya, Made Oka alias Pak De Koko, mendaku sudah tiga kali mepatung. Satu tanding daging bisa diolah jadi berbagai olahan layaknya hari raya penampahan Galungan. ‘’Kita olah jadikan lawar, sate, masakan lainnya. Bisa sampai empat hari baru habis. Cukuplah untuk menghemat di saat Corona saat ini,’’ pungkas Made Oka. nad






















