Terima Kekalahan East Bali, Politisi Gibol Ini Sindir Asprov PSSI Bali Tak Perhatikan Recovery Pemain

  • Whatsapp
KETUA East Bali FC Karangasem, GEDE Pasek Suardika (GPS). foto: dok

GIANYAR – Tim sepakbola East Bali FC Karangasem gagal ke final Liga 3 Rayon Bali 2021, setelah dipaksa mengakui keunggulan PS Jembrana 0-1 lewat gol dari titik putih berbau kontroversial, pada laga semifinal di Stadion Dipta, Kabupaten Gianyar, Bali, Selasa (14/12/2021) malam.

Petinggi East Bali FC, Gede Pasek Suardika yang juga politisi gila bola (gibol) ini mengaku menerima kekalahan Bagus Pribadi dan kawan-kawan dengan lapang dada, walau dirasa masih sangat menyakitkan di benak para pemain dan pelatih.

Bacaan Lainnya

”Inilah sepakbola, kadang ada drama yang dramatis dalam perjuangan. Yang penting bagi East Bali, ada pengalaman pematangan mental,” ucap pria kelahiran Buleleng yang akrab dipanggil GPS (Gede Pasek Suardika).

Mengomentari raihan East Bali sebagai pendatang baru dalam riuh rendah Liga 3 Bali tahun ini, GPS tetap menilai membanggakan. Menurutnya, berhasil tembus semifinal adalah kejutan sebagai tim debutan. ”Pastinya tetap membanggakan,” ujar GPS seraya mengucap selamat kepada PS Jembrana yang berlaga di final.

Hanya, nahkoda Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) ini sangat menyayangkan, kelelahan para pemainnya yang harus main kurang dari 24 jam. Pasalnya selepas semifinal ini, keesokan harinya Rabu (15/12/2021) sore harus bertanding lagi untuk memperebutkan juara 3-4 melawan Tunas Muda.

Baca juga :  Tingkatkan Kualitas Komoditas Lewat Agrowisata Abian Salak

Memang bukan East Bali saja yang mengalami masalah itu, tetapi tim-tim peserta semifinalis ini (Tunas Muda, Perseden dan PS Jembrana), pastinya juga terdampak.

”Entahlah, ini olahraga atau sekadar kompetisi jalan tanpa perhatikan kesehatan pemain. Saya hanya kasihan kompetisi seperti ini, tidak perhatikan recovery pemain,” sindir mantan angota DPR-RI periode 2009-2014 ini.

Apa yang diungkapkan GPS, pastinya semakin menampar Asprov PSSI Bali selaku pihak yang punya gawe dan paling bertanggungjawab terhadap pelaksanaan Liga 3 Bali ini. Sebab sesungguhnya, keempat tim semifinalis sudah sangat keberatan dengan jadwal semifinal dan final ini.

”Seharusnya dibiarkan saja seperti jadwal semula, semifinal pertama 18 desember dan semifinal kedua pada 19 desember. Kemudian, juara 3-4 pada 22 Desember dan final 23 Desember, sehingga ada revovery untuk pemain. Kalau di Jawa, tidak ada jadwal yang berubah-ubah mendadak seperti ini,” ujar Pelatih PS Jembrana, Abdul Karim yang asal Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Setali tiga uang, Pelatih East Bali, Budi Santoso juga menginginkan jadwal kompetisi seperti semula. Tetapi saat MCM, pihak Asprov melalui panitia pelaksananya, tetap kukuh dengan jadwal itu dengan dalih hanya mendapat izin pemakaian stadion dua hari dari manajemen Bali Unted. yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.