Target Menang 1 Putaran, Unggul Ganjar atau Prabowo di Bali?

Gus Hendra
Gus Hendra

AMBISI PDIP di Bali memenangkan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud Md dengan 95% suara pada Pilpres 2024, balas digertak Partai Golkar dengan target Prabowo-Gibran menang dalam satu putaran. Bermodal lebih banyak mitra partai dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), dalam lanskap Bali, Golkar secara tidak langsung menempatkan diri berhadapan langsung dengan PDIP. Sebab, di antara semua partai dalam KIM, yang memiliki basis massa tradisional terbesar di Bali adalah Golkar. KIM juga tidak muluk-muluk, mematok “cuma” 60% di Bali.

Sebagai wilayah basis Banteng, secara kasatmata memang yang berpeluang besar menang di Bali tentu PDIP.  Namun, yang menarik dikupas, akankah target 95% dapat terwujud?

Read More

Secara praktik, yang mendapat beban paling berat mewujudkan target 95% adalah para caleg, terutama di DPRD kabupaten/kota dan provinsi. Mereka adalah etalase merangkap negosiator dengan konstituen. Menimbang Pileg dan Pilpres bersamaan waktunya, secara teori hanya perlu satu amunisi untuk menjatuhkan dua sasaran. Sayang, realitanya tidak sepenuhnya begitu. Sebab, diakui atau tidak, lolos sebagai anggota Dewan tentu prioritas utama seorang caleg.

Kondisi ini berarti membuka peluang konstituen bernegosiasi, dan caleg (atau kader) mesti menerima kompromi pemilih untuk Pilpres. Misalnya ada konstituen niat memilih bukan Ganjar-Mahfud dengan alasan figur atau program, caleg PDIP bisa saja melepas itu sepanjang dia tetap dipilih untuk Dewan. Kondisi serupa dapat terjadi dalam negosiasi untuk calon DPRD Provinsi atau DPR RI. Jadi, bergantung juga pada seberapa kuat posisi tawar sang caleg.

Merujuk hasil survei Litbang Kompas pada Mei 2023, elektabilitas PDIP di Bali dan Nusra mencapai 43,9%, sedangkan Gerindra 12,1% dan Golkar hanya 6,1%. Hasil survei terbaru, jika ada, bisa berbicara lain. Namun, setidaknya kita mendapat sedikit gambaran peta penetrasi partai pada Pilpres. Pun bagaimana peluang mengeksplorasi konstituen mereka di Bali.

Di legislatif, dengan tingkat party ID terbilang tinggi, PDIP hampir pasti tinggal dilantik (kembali) sebagai the ruling party. Namun, di Pilpres besar kemungkinan target 95% tidak akan tercapai. Hal tersebut sekurang-kurangnya dikarenakan tiga hal. Pertama, target 95 persen merupakan target pada bulan Mei, ketika Jokowi masih dalam satu barisan dengan PDIP, minimal belum perang terbuka dengan Megawati Soekarnoputri. Dinamika dan intrik politik sejak Agustus sampai kini sudah jauh berubah.

Memang, di bulan Mei, nama Gibran cukup kencang ditiupkan sebagai sosok dengan elektabilitas menjanjikan untuk menjadi calon wakil presiden. Juga santer didorong menjadi cawapres Prabowo. Namun, di mata kader PDIP, Jokowi masih diyakini tidak mungkin menentang titah Megawati yang mendeklarasikan Ganjar sebagai calon presiden. Intinya, Jokowi tidak bakal mengizinkan Gibran “menyeberang”. Apalagi dalam sejumlah kegiatan PDIP, pernyataan Jokowi berkali-kali menyiratkan dia tidak mungkin tidak mendukung Ganjar atau PDIP.

Kedua, ketika target 95 persen dilontarkan, sejumlah kader senior yang memiliki modal simbolik dan simpul massa sudah pesimis. Pertimbangannya, elektabilitas Prabowo yang waktu itu menempel ketat Ganjar, bergantian nomor 1 dan nomor 2, tidak mungkin tidak ada dampak di Bali. Pendek kata, target Koster tidak realistis.

Lagi pula target setinggi itu seakan mengerdilkan eksistensi, kiprah dan ambisi partai lain pendukung Prabowo, yang kini justru diprediksi mendapat keuntungan dari efek dan loyalis Jokowi di Bali. Berhubung dilangsungkan pada tahun yang sama setelah Pilpres, bisa disebut Pilpres adalah laga pemanasan sekaligus uji konsolidasi KIM dalam menyongsong Pilkada Serentak di Bali. Mengusung Prabowo-Gibran yang didukung Presiden, juga dipakai momentum cek ombak sekaligus perlahan menggergaji hegemoni PDIP di eksekutif.

Ketiga, target 95% kurang memperhatikan elemen lain dengan memperbandingkan perolehan suara Pilpres 2019 yang 91,68 persen. Banyak kader PDIP sangat sadar citra diri personal Jokowi berperan signifikan memberi insentif elektoral terhadap kemenangan. Terbukti, pilihan di Pilpres tidak linier dengan mencoblos PDIP di Pileg yang hanya 54,36 persen; ada 37,32 persen konstituen yang memilih Jokowi, tapi tidak menyalurkan aspirasi ke PDIP.

Faktor kubu Prabowo-Gibran yang didukung penguasa juga mesti dipertimbangkan. Bahkan santer isu ada pelibatan lembaga negara guna menggerus kekuatan kubu Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin, terutama di wilayah-wilayah yang jadi basis mereka. Bila benar sokongan logistik dari simpatisan, kepala daerah, dan anggota DPR/D dari PDIP “diawasi” aparat penegak hukum dan instansi lain, mesin politik rentan megap-megap.

Kemudian andai target 95% terwujud, yang tampak paling diuntungkan hanya Koster sebagai Ketua DPD, terutama sebagai legitimasi ke DPP untuk kembali dicalonkan sebagai Gubernur pada Pilgub 2024. Pada saat yang sama, suasana kebatinan para kader tidak semua menyukai dan, terutama, mendukung Koster ke periode kedua. Berkurangnya nilai bantuan hibah yang “difasilitasi” anggota DPRD Bali misalnya, terlepas apa justifikasinya, menjadi salah satu handicap dalam mengonsolidasi dan membulatkan perjuangan.

Bagi PDIP di Bali, Pilpres 2024 sama sekali lain dengan 2014 dan 2019. Kala itu antara capres dan caleg PDIP terjalin simbiosis mutualisme, sama-sama diuntungkan dan diringankan dalam palagan. Pun ada harapan besar bagi caleg untuk terpilih sebagai pahala kerja keras mengkampanyekan Jokowi yang, kebetulan, saat itu sangat disayang rakyat Bali. Kini, yang jadi rival adalah saudara sendiri yang sangat paham semua jurus, termasuk segala trik dan muslihat, untuk menang dua kali pilpres sebelumnya.

Sebagai penutup, Ethan Hunt adalah karakter fiksi sebagai agen spionase dalam film Mission Impossible. Sesulit dan semustahil apa pun misi yang ditugaskan demi menyelamatkan dunia oleh Impossible Mission Force (IMF), Hunt selalu pulang dengan menjinjing keberhasilan. Nah, andai kemudian Koster mampu mengorkestrasi kader dalam menggapai 95% suara pada Pilpres 2024, minimal meleset dan mentok di 91,68% saja seperti Pilpres 2019, sepertinya Hunt perlu belajar pada Koster untuk menuntaskan misi mustahil dia selanjutnya. Gus Hendra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.