Tangani Pasien Penyakit Menular, RSUD Buleleng Perlu Ruangan Bertekanan Udara Negatif

  • Whatsapp
SEKDA Buleleng, Gede Suyasa, saat mengecek kondisi ruangan di RSUD Buleleng. Foto: rik
SEKDA Buleleng, Gede Suyasa, saat mengecek kondisi ruangan di RSUD Buleleng. Foto: rik

BULELENG – Untuk dapat merawat pasien-pasien dengan penyakit menular yang memerlukan ruangan isolasi khusus, maka diperlukan ruangan dengan tekanan udara negatif. Melihat kondisi itu, Sekda Buleleng, Gede Suyasa, pun mendorong adanya pengadaan ruangan dengan tekanan negatif di RSUD Buleleng.

Gede Suyasa mengatakan, ruang tersebut diperlukan keberadaannya di RSUD Buleleng khusus untuk pasien dengan penyakit infeksi menular. Ruangan dengan tekanan udara negatif dapat diwujudkan dengan alat kesehatan khusus. Artinya, ruangan isolasi tidak hanya diperuntukkan bagi pasien Covid-19 saja.

Bacaan Lainnya

“Saya minta Pak Direktur RSUD untuk mengusulkan pengadaan alatnya agar tercipta ruangan bertekanan udara negatif. Dengan adanya ruangan dengan tekanan udara negatif, bisa mendukung isolasi pasien Covid-19, baik yang bergejala sedang dan berat,” kata Suyasa.

Nantinya, jika sudah tidak ada pasien Covid-19, bisa juga untuk mengisolasi pasien penyakit infeksi menular lainnya. Seperti penyakit HIV, TBC, serta penyakit lainnya. Jadi, dalam jangka panjang ruangan itu akantetap terpakai. “Tidak hanya saat pandemi Covid-19 saja. Ini adalah alat yang dibutuhkan. Sehingga saya dorong untuk bisa dilakukan pengadaan,” ujar Suyasa.

Dirut RSUD Buleleng, Putu Arya Nugraha, tidak menampikbahwa RSUD Buleleng belum mempunyai ruangan dengan tekanan udara negatif. Diakuinya, yang terbaik untuk ruang isolasi adalah ruangan dengan tekanan udara negatif. Tujuannya adalah jika ada lepasan mikro partikel kuman terserap dan terbuang dengan aman. “Ini menjadi rekomendasi WHO, minimal memakai exhaust fan,” jelasnya.

Baca juga :  Cok Ace Dorong Asosiasi MICE Bersatu

Dengan diberikan kesempatan mengusulkan pengadaan ruangan dengan alat tekanan udara negatif, pihak RSUD Buleleng akan memanfaatkan dan memasang alat tersebut.

“Kami tidak pernah tahu ada penyakit baru yang penularannya airbone. Kalau kami memiliki ruang isolasi dengan tekanan udara negatif, maka bisa memberikan pelayanan maksimal kepada pasien dan juga melindungi tenaga kesehatan,” ucap Arya Nugraha.

Dia menjelaskan, untuk satu sirkuit pengadaan alat tekanan udara negatif diperlukan anggaran sekitar Rp1,5 miliar. Alatnya hanya satu namun diikuti dengan alat kesehatan penunjang lainnya. Dengan ruangan isolasi bertekanan udara negatif, nantinya tidak hanya pelayanan kepada pasien yang bisa dijual. Pelatihan mengenai penanganan terhadap penyakit infeksi menular bisa juga dilakukan.

“Tidak hanya pelayanan tapi juga modul-modul pelatihan kepada rumah sakit lainnya bisa kami jual dengan sertifikasi tentunya. Ini memang menjadi gagasan saya,” pungkas Arya Nugraha. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.