KARANGASEM – Kondisi transportasi angkutan umum di wilayah Karangasem tahun 2022 kian memudar. Mudahnya orang memiliki sepeda motor untuk bepergian dengan kendaraan pribadi, mengakibatkan angkutan umum kian sulit memperoleh penumpang. Sopir angkutan umum adalah yang paling merasakan getahnya.
Beberapa sopir angkutan umum yang biasa mangkal di Terminal Amlapura mulai mengeluhkan sepinya penumpang saat ini. Sebagian besar masyarakat pergi ke pasar mengendarai sepeda motor, sangat jarang memanfaatkan kendaraan umum lagi, itulah soalnya.
Nengah Suarta (44) yang mengaku dari Lingkungan Batan Nyuh, Kelurahan Karangasem menuturkan, penumpang mulai sepi sejak tahun 2010. Makin lama kondisinya makin parah. Saat ini dalam sehari dia hanya dapat sekitar 3-4 penumpang saja, itu pun harus menunggu sekitar lima jam baru dapat penumpang.
“Kalau dulu baru mulai parkir saja sudah ada yang naik, nggak sampai satu jam sudah langsung berangkat. Kalau sekarang sudah nunggu berjam-jam tapi hanya dapat 3-4 penumpang,” keluhnya, Minggu (17/7/2022).
Suarta yang mengaku menjadi sopir angkot sejak tahun 1995 sedikit mengeluh dengan kondisi saat ini. Namun, bekerja sebagai sopir angkot tetap dijalani, karena belum dapat pekerjaan yang lain. Jika mendapat pekerjaan lebih baik, sangat mungkin dia berhenti menjadi sopir angkot.
Dulu, sambungnya, dalam sehari angkot sampai penuh baru berangkat, sehingga dalam sehari bisa menghasilkan antara Rp250 ribu sampai Rp300 ribu. Sekarang dapat Rp100 ribu per hari sudah disyukuri. Itu juga belum termasuk beli bensin, dan terkadang hanya dapat Rp30 ribu per hari.
Hal senada dituturkan sopir angkot lainnya, I Wayan Sumerta (45) dari Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem. Karena sepinya penumpang, dia berujar banyak sopir angkot yang mencari pekerjaan lain.
Saat ini, lanjutnya di Karangasem yang masih tersisa hanya sekitar 50-an angkot yang beroperasi. Menurutnya, hanya di Kabupaten Karangasem yang masih cukup banyak terdapat kendaraan angkot.
“Di kabupaten lain sudah hampir tidak ada angkot. Saya prediksi jika kondisi ini terus terjadi, penumpang semakin sedikit, dalam lima tahun ke depan mungkin sudah tidak ada lagi angkot yang beroperasi,” duganya.
Sumerta dan juga sopir angkot yang lainnya memprediksi, sepinya penumpang saat ini itu karena hampir semua masyarakat yang datang ke pasar mengendarai sepeda motor. “Yang tersisa hanya ibu-ibu yang sudah berusia lanjut saja yang naik angkot, sedangkan yang masih muda naik motor,” pungkasnya dengan nada lesu. nad























