MATARAM – Banyak orang mendambakan menjadi pelaut karena gajinya terbilang besar. Salah satu caranya dengan cara sertifikasi atau sekolah khusus kepelautan. Sadar pentingnya sertifikasi bagi lulusannya, SMKN 1 Lembar fokus pada program sertifikasi para siswa, termasuk para tenaga pengajarnya.
“Dengan target menjadi poros maritim untuk kawasan timur Indonesia, maka sertifikat keahlian para siswa harus jadi fokus yang dikerjakan,” kata Kepala SMKN 1 Lembar, Ahmad Quroni, Kamis (19/1/2023).
Program ini dibantu Kapten Febrian, putra daerah asal Gerung, Lobar yang memiliki pendidikan magister kelautan dan besar di Singapura serta berlayar ke hampir seluruh dunia. Quroni tidak lagi mau terulang 100 persen kelulusan siswanya tahun lalu yang terserap di dunia kerja pelayaran, tapi keahliannya belum terverifikasi.
Awal tahun ini, dia mengirim tujuh siswa melaksanakan PKL. Kini persiapan berangkat angkatan kelima sebanyak 28 siswa. Percepatan PKL dengan siswa mengantongi langsung sertifikat keahlian diperlukan, karena perusahaan pelayaran besar di Surabaya, Banyuwangi hingga Jakarta intens menanti lulusannya.
Jurusan Pelayaran Niaga mulai tahun ini orientasinya bukan hanya di penyeberangan, tapi mulai keluar untuk memberi pengalaman lebih siswa bekerja sama dengan perusahaan level nasional. Selama ini, lanjut dia, penempatan PKL hanya di lintasan pelayaran lokal, Lembar-Padangbai dan Kayangan-Pototano. Terdapat 56 kapal di lintasan pelayaran itu.
Meski sangat terbatas, penempatan itu diserbu semua sekolah se-NTB. Makanya dia berorientasi mengirim siswanya keluar, dengan mulai menggandeng perusahaan-perusahaan nasional. Siswa PKL bisa direkrut perusahaan, karena menjalani PKL selama sembilan bulan dengan mendapat gaji Rp4 juta per bulan.
Gajinya masuk ke rekening yang dipegang orangtua, sehingga bisa dikontrol. “Kami pesan agar itu dihemat untuk persiapan pengambilan sertifikasi setelah mereka selesai,” sambungnya.
Dia berorientasi siswanya bukan bekerja di dalam negeri, tapi disiapkan dari sisi karakter dan Bahasa Inggris agar bisa kerja di luar negeri. Sebab, setelah mereka selesai PKL, mereka akan dikarantina selama tiga bulan di sekolah untuk disiapkan.
Terpisah, Kapten Wawan Febrian menambahkan, dengan banyaknya SMK Pelayaran di NTB, salah satunya SMKN Lembar yang memiliki alat lengkap dan simulator, pekerjaan yang harus disegerakan adalah sertifikasi keahlian siswa. Apalagi lulusan SMK Lembar banyak terserap di perusahaan pelayaran nasional selama ini.
Jika sudah mampu meningkatkan fasilitas yang ada, terutama sertifikat keahlian itu tentunya harapan Provinsi NTB menjadi poros maritim di kawasan timur Indonesia akan bisa terwujud. Saat ini di NTT misalnya memiliki 44 SMK Pelayaran, tapi fasilitasnya tidak selengkap SMKN Lembar.
“Kalau bisa kita maksimalkan sertifikat keahlian di SMKN Lembar, maka peluang semua siswa SMK Pelayaran di NTT dan wilayah lainnya akan banyak menyerbu SMK Lembar sebagai mitranya melalui program Sister School. Tinggal selangkah lagi,” lugasnya bernada optimis. rul
























