TABANAN – Partai Golkar Bali seperti tidak mau ambil pusing dengan masih rendahnya elektabilitas Airlangga Hartarto, sang Ketua Umum, dalam survei calon presiden. Pembentukan Semeton Airlangga Hartarto (Semar) terus digencarkan, dengan yang terbaru untuk Kabupaten Tabanan dengan deklarasi di Desa Marga, Tabanan, Minggu (10/7/2022). Wayan Sukaja, mantan elite PDIP Tabanan yang pernah juga menjadi Ketua DPRD Tabanan dan anggota DPRD Bali, didaulat menjadi Koordinator Relawan Semar Tabanan.
Fasilitator Relawan, DAP Sri Wigunawati, menilai deklarasi berjalan melebihi harapan. Sebab, para pendukung dan loyalis Sukaja antusias datang meramaikan acara.”Kalau sebelumnya saat deklarasi di Jembrana, kita lakukan di kampungnya Ipat (Wakil Bupati Jembrana), saat ini di Tabanan kita deklarasi di kampungnya Wayan Sukaja,” seru Ketua Bakumham DPD Partai Golkar Bali itu.
Dalam arahannya, Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, menyambut baik peran serta Sukaja dalam perjuangan memenangkan Airlangga sebagai presiden pada Pilpres 2024 mendatang. Dia juga memuji kepemimpinan Sukaja, yang meski lama tidak berpolitik praksis, tapi masih tetap memiliki pendukung setia. “Terbukti, walaupun kehadiran jumlah relawan dibatasi, tapi yang hadir ratusan orang. Sampai-sampai tidak dapat tempat,” puji Wakil Ketua DPRD Bali itu.
Sugawa berharap para relawan berjuang merebut simpati dan hati masyarakat untuk mendukung Airlangga Hartarto sebagai presiden. Namun, dia mengingatkan agar dalam perjalanan tetap mengedepankan kesantunan, kedamaian, intelektualitas dan mengenalkan Airlangga sebagai tokoh intelektual.
“Selain itu, Pak Airlangga juga loyal dan mau bekerja keras untuk rakyat. Beliau selalu mengedepankan kerja nyata dibandingkan sekadar pencitraan. Kita lihat saja bagaimana perekonomian kita masih bisa bertahan sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, itu juga berkat kerja keras beliau,” urainya.
Sukaja yang dimintai tanggapan atas dipilihnya dia sebagai Koordinator Relawan Semar Tabanan, semula tidak mau banyak komentar. Dia mendaku hanya ingin kembali ke panggung politik, dan kebetulan Golkar bersedia menerima. Dengan lain ucap, kepentingan dia dan Golkar beriringan. Apalagi, meski senior di PDIP, Sukaja sempat memiliki catatan manis dengan Golkar karena diusung sebagai calon Bupati Tabanan pada Pilkada 2010 silam. Hanya, kala itu dia yang berpasangan dengan IGN Anom kalah melawan paket Eka-Sanjaya yang diunggulkan PDIP.
Apakah ini bentuk balas dendam politik? “Ahh nggak ada balas dendam begitu, ngapain juga? Yang sudah lewat biarlah berlalu, kita bicara ke depan saja. Soal kenapa dulu saya ke Nasdem atau sekarang ke Golkar, itu hak politik saya,” sebutnya kalem.
Disinggung dia “tidak dalam kondisi bagus” untuk logistik politik, Sukaja mengaku ada strategi tersendiri untuk menjaring konstituen. Dia mengklaim politik tidak mesti harus mengeluarkan biaya besar untuk mendapat suara. “Ya, ada cara lain, cara kekeluargaan gitulah,” sahutnya memungkasi. hen























