“KETUA Umum berpesan agar Pak Demer merangkul semua pihak. Bharatayuda tidak perlu dilanjutkan. Ini adalah negosiasi dan konsensus terbaik, ini kedewasaan Golkar,” ucap Sekjen DPP Partai Golkar, Muhamad Sarmuji, saat membuka Musda XI Partai Golkar Bali di The Meru Sanur, Minggu (13/7/2025). Sejumlah peserta Musda, terutama yang duduk di bagian belakang, dengan berbisik menebak-nebak bagaimana Demer, panggilan Gde Sumarjaya Linggih, mengeksekusi titah Ketum Bahlil Lahadalia. Tajamnya rivalitas antara Sugawa Korry dan Demer diprediksi jadi “kerikil di tengah jalan”.
Galibnya ketika kompetisi politik berakhir, langkah pemenang selanjutnya adalah menyusun kekuatan struktural. Siapa yang dikehendaki, itulah yang jadi. Ya begitulah kalkulasi di atas kertas.
Hanya, langkah Demer menetapkan kepengurusan DPD Partai Golkar Bali 2025-2030 sepertinya tidak sederhana itu. Salah satu hadangan Demer menjalankan semua agenda politiknya sebagai nakhoda partai adalah kewajiban membuat konsensus, imbas sengitnya pertarungan sebelum Musda. Apalagi Sarmuji terus menekankan agar dinamika di Musda mesti selesai dengan cara terbaik, bak “negosiasi di antara saudara sendiri”.
Pertanyaannya adalah; akankah Demer mengakomodir orang-orang Sugawa dalam kepengurusannya kelak? Jika iya, di posisi apa mereka ditempatkan?
Tugas yang dibebankan Bahlil di pundak Demer adalah rekonsiliasi, sebagai jalan tercepat untuk mengikis residu pertempuran Demer dengan Sugawa di Golkar Bali. Jalan moderat untuk tetap patuh arahan Ketum sembari tetap menjadi nakhoda partai seutuhnya, adalah mengakomodir orang-orang yang sebelumnya diposisikan sebagai loyalis Sugawa. Soal posisinya di mana, Demer dan loyalisnya niscaya punya perhitungan sendiri.
Terlepas dari bagaimana personalia struktur DPD Golkar Bali nanti, situasi ini dapat dimaknai sekurangnya tiga hal. Pertama, Demer mengirim sinyal akan serius menjalankan partai sesuai tabiat alamiah Golkar yakni tetap berkuasa, atau minimal bagian dari kekuasaan dalam lanskap politik lokal Bali. Kelenturan Golkar merespons dinamika politik, berpotensi menjadi game changer lagi bagi siapa pun yang berlaga di Pilkada. DNA “yang penting menang” ini mungkin dicibir sebagai sikap pengecut bagi yang doyan perang, tapi itu juga sisi positifnya untuk tetap selamat dalam mengarungi palagan politik itu sendiri.
Kedua, berhubungan dengan yang pertama, Golkar sangat mungkin memposisikan diri sebagai penyeimbang politik di Bali. Negosiasi dengan hasil sama-sama memetik keuntungan jadi pijakannya. Di rangking 3 di Bali saja Golkar tetap dibutuhkan penguasa atau oposisi, apalagi jika kelak mampu naik lagi ke posisi 2. Ketiga, rekonsiliasi internal pasti dijalankan, tentu dengan syarat dan ketentuan rigid, menimbang bagaimana perjalanan Golkar usai Musda 2020. Sebagai politisi senior, Demer niscaya “tahu beberapa kesalahan buruk yang dapat terjadi, dan cara menghindarinya”.
Meski dikenal fleksibel, toleran, terbuka dan tidak pendendam, salah satu yang menonjol dari Demer adalah karakter tangan besi memimpin organisasi. Lihat saja rekam jejaknya menjabat Plt. Ketua DPD Golkar Bali 2018-2020, yang dengan enteng mencopot para ketua DPD kabupaten yang tidak sehaluan dengannya. Pesannya jelas. Sikap dan karakter Demer itu adalah batasan tegas bagi kader yang berhasrat masuk kabinetnya. Jika memang tidak suka gaya komunikasi Demer, seyogianya tidak usah bercita-cita, apalagi sampai melobi, untuk jadi pengurus ketimbang didepak di tengah jalan.
Pengalaman di Musda 2020 seperti membuat Demer kian selektif menerima sosok tertentu, meski orang itu lama dikenalnya. Kader yang bertipe loyalis kritis adalah yang paling disukai, bukan yang loyalis buta, apalagi sekadar membebek.
Tanggung jawab Demer memimpin Golkar lima tahun ke depan niscaya penuh tantangan berliku. Citra dan moral kader merosot setelah partai terjungkal dari peringkat 2 ke posisi 3 pada Pemilu 2024. Kursi DPR RI hilang satu dari semula dua. Tidak penting apakah pemimpin itu disukai atau tidak oleh kader, citra dan status politiknya tetap diukur dari seberapa mampu membesarkan partai lewat perolehan kursi di legislatif dan eksekutif. Singkatnya, Golkar harus bangkit di Pileg dan Pilkada.
Guna menikmati kemenangan dalam Pilkada, salah satu syarat terbesarnya adalah kemampuan strategi komunikasi politik yang mudah bernegosiasi, lentur, adaptif, dan sedikit pragmatis. Seperti yang sering diutarakan sendiri saat diwawancara, Demer termasuk tipe Machiavellian. Dia bisa saja bersikap kepala batu dalam merumuskan kebijakan partai, jika itu dipandang sebagai satu satunya jalan mencapai kemenangan. Di sisi lain, dia taat mekanisme partai untuk menimbang hasil survei sebelum memutuskan sikap. Mengedepankan hasil survei kemungkinan ketat dijalankan pada pemilu dan pilkada mendatang, tanpa peduli apakah dia akan dibenci atau disukai kader.
Dirisak dengan tuduhan sebagai “sutradara kotak kosong” dan tukang jegal kandidat di Pilkada, Demer bergeming. Faktanya, Golkar mencicipi kemenangan di Pilkada Badung 2020 dengan ikut mendukung Giriasa yang diusung PDIP, meski berujung lawan kotak kosong. Perolehan kursi Golkar naik dari 7 menjadi 11, yang dimaknai karena ada bantuan tak kasat mata dari Giri Prasta untuk “membiarkan” Golkar memobilisasi konstituen.
Aura kemenangan juga terasa di Pilkada Denpasar 2024, karena Golkar turut mendukung pasangan Jaya-Wibawa jilid 2 yang diusung PDIP. Kecuali tambahan di Karangasem, calon yang ngotot diusung Golkar meski hasil surveinya “kurang menggembirakan”, rontok di enam kabupaten lain, termasuk di Pilkada Bali. Menurut sejumlah sumber, dengan kelenturan komunikasi politiknya, saat Pilkada Serentak 2024 Demer ditugaskan DPP mencari jalan belakang untuk membuka ruang kerja sama politik dengan PDIP, meski Sugawa sebagai Ketua DPD Golkar Bali kukuh menempur PDIP.
Sebagai penutup, pernyataan lugas Demer soal komitmen transparansi keuangan partai bisa diinterpretasi sebagai sinyal bahwa ada “sesuatu” di kepengurusan sebelumnya. Pernyataan itu bisa saja sekadar peringatan supaya jangan “aneh-aneh” jika tak ingin ada masalah. Bila tak paham juga? Sesuatu yang buruk sangat mungkin terjadi. Gus Hendra























