Ratusan Juta Benih Bandeng Diekspor ke Filipina

PROSES pengepakan nener (bibit bandeng) yang akan diekspor ke Filipina. foto: rik

BULELENG – Sektor budi daya perikanan darat rupanya masih cukup menjanjikan di tengah pandemi Covid-19. Buktinya, usaha budi daya nener (bibit bandeng) di Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali masih tetap bertahan di tengah lesunya ekonomi. Bahkan masih tetap mengekspor nener ke Filipina.

Seperti diungkapkan Hengky Putro Raharjo. Pengusaha tambak di Kecamatan Gerokgak mendaku sempat mengalami keterpurukan akibat permintaan pasar yang menurun. Puncaknya, harga satu ekor nener di bawah standar dikisaran Rp3 sampai Rp4 per benih di tingkat petambak.

Read More

Para petambak nener yang merupakan produksi asli Buleleng tetap bertahan dengan kondisi tersebut. Hasilnya, sektor itu punya peluang pasar ekspor terutama ke Filipina. ‘’Kami awalnya mengalami situasi sulit. Kami bertahan untuk tidak merumahkan karyawan karena kami berhitung soal ketahanan ekonomi keluarga,’’ ulas Hengky, Kamis (18/3/2021).

Hengky berujar, harga normal nener ini masih menyesuaikan dengan standar produksi dan operasional berada di atas Rp10 per benih. Hanya saja harga itu, belum bisa terangkat mengingat belum ada regulasi untuk menertibkan harga di tingkat petambak. Akibatnya, banyak pengusaha yang tak mampu bertahan karena masih tingginya biaya operasional.

Berkat kegigihannya itu membuat usaha yang sudah digelutinya sejak lama ini mampu bertahan. Bahkan tak tanggung-tanggung, pemilik CV Putra Bahari Milk Fish Bali bersama pengusaha budi daya nener lainnya ini telah mampu membuka peluang pasar ekspor ke Filipina.

Harga per benih atau per ekor nener berada dikisaran Rp40 sampai dengan Rp45. Kondisi ini mampu menggairahkan perekonomian masyarakat yang bekerja pada sektor tersebut meski di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia.

‘’Sekali pengiriman sekitar 40 juta hingga 70 juta bibit bandeng atau sekitar 700 koli hingga 1.200 koli, ke Filipina. Ini karena permintaan dari negara tersebut meningkat drastis. Bisa dua kali dalam seminggu, kami ekspor bibit bandeng ke Filipina,’’ ungkap Hengky.

Ekspor nener ke negara Filipina ini, kata Hengky, memakai pesawat yang disewa bersama pengusaha lainnya untuk dapat menekan biaya operasional. ‘’Di Filipina sekarang musim tebar benih, sehingga bisa disebut high season. Kami estimasi ini berlangsung sampai akhir Juni 2021 nanti,’’ sebutnya.

Hengky menambahkan, sektor budi daya bandeng di Buleleng yang merupakan produksi monopoli dunia, harus mendapat perhatian serius. Selain punya nilai ekonomis, nutrisi dan gizi yang terkandung dalam bandeng melebihi ikan salmon. ‘’Kami bersyukur masih bisa bertahan dan bisa membantu perekonomian masyarakat, ketika terpuruk akibat pandemi Covid-19,’’ ucapnya.

Sementara itu, Camat Gerokgak, Made Juartawan, tak menampik, sebagian besar warga Kecamatan Gerokgak bekerja di sektor budi daya tambak dapat bertahan secara ekonomi. Dari 14 desa di Kecamatan Gerokgak, desa yang memiliki usaha tambak, justru yang paling kecil sebagai data penerima BLT-DD dibandingkan desa lainnya yang tidak punya usaha budi daya tambak.

Juartawan berujar, dikarenakan warga mendapatkan penghasilan bekerja sebagai buruh maupun petambak skala rumahan. ‘’Warga terbantu secara ekonomi dari sektor budi daya perikanan darat ini. Sektor ini telah membantu ekonomi masyarakat untuk dapat bertahan ditengah situasi pandemi Covid-19,’’ jelasnya. rik

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.