POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Dentuman kembang api dan sorak euforia pergantian tahun dinilai belum sepenuhnya pantas bergema, ketika duka masih menyelimuti ribuan keluarga korban bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Keprihatinan itu disampaikan anggota DPRD Bali, I Wayan Tagel Winarta, yang mengimbau agar perayaan Tahun Baru 2026 dilakukan tanpa pesta kembang api.
Bagi politisi senior PDIP yang juga mantan Ketua DPRD Gianyar ini, pergantian tahun bukan sekadar soal hitung mundur dan kemeriahan, melainkan momentum menundukkan hati dan merasakan derita sesama. Terlebih bencana alam yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh dalam beberapa waktu terakhir, merenggut ribuan nyawa, merobohkan rumah-rumah, serta memisahkan banyak keluarga dari kehidupan normal yang selama ini mereka jalani.
“Di sana, ada saudara-saudara kita yang menyambut tahun baru bukan dengan sukacita, tetapi dengan kecemasan, kehilangan, dan air mata. Ini yang seharusnya mengetuk nurani kita semua,” ujar Tagel, Senin (29/12/2025).
Dia menuturkan, suasana duka tersebut belum sepenuhnya pulih. Banyak korban bencana masih tinggal di pengungsian, bergantung pada bantuan, serta berjuang menata kembali harapan di tengah keterbatasan. Kondisi itu, menurutnya, patut menjadi bahan perenungan bersama.
Di Bali, Tagel mengingatkan bencana juga tidak datang sebagai cerita jauh. Cuaca ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah Pulau Bali memicu banjir, longsor, dan kerusakan pemukiman, bahkan menelan korban jiwa. “Ada warga kita yang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, dan kehilangan rasa aman. Duka itu nyata dan dekat dengan kita,” katanya lirih.
Dalam suasana seperti itu, Tagel menilai pesta kembang api dengan segala gemerlapnya berpotensi melukai rasa kemanusiaan. Menurutnya kondisi tersebut sebagai paradoks sosial—di satu sisi ada pesta dan tawa, sementara di sisi lain ada tangis dan doa agar esok hari masih ada harapan.
“Bukan soal melarang kegembiraan, tetapi soal menempatkan rasa. Ketika banyak yang masih berduka, sudah sepatutnya kita menahan diri dan menunjukkan empati,” sambungnya.
Lebih jauh, anggota Fraksi PDIP DPRD Bali ini mengajak masyarakat menyambut Tahun Baru 2026 dengan cara yang lebih sederhana dan bermakna—melalui doa, refleksi diri, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai lokal Bali yang menjunjung keharmonisan, keseimbangan, dan welas asih dinilai sangat relevan dalam situasi ini.
“Pergantian tahun adalah waktu untuk bersyukur, sekaligus bercermin. Apa yang sudah kita lakukan, apa yang masih kurang, dan bagaimana kita bisa menjadi manusia yang lebih peka terhadap penderitaan orang lain,” ungkapnya.
Tagel pun mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk menjadikan momen tahun baru sebagai ruang kontemplasi kolektif. “Dengan kesederhanaan dan empati, tahun baru akan terasa lebih bermakna. Bukan sekadar angka yang berganti, tetapi harapan yang kita bangun bersama, terutama bagi mereka yang saat ini sedang diuji oleh bencana,” ajaknya. adi
























