Pilgub Bali Diharap Tidak Paslon Tunggal, Golkar Potensial Jadi “Game Changer”

ILUSTRASI - Pemungutan suara Pilgub Bali 2018 di salah satu TPS di daerah Kerobokan, Kuta Utara, Badung. Foto: hen

DENPASAR – Hiruk-pikuk perbincangan menuju Pilgub Bali 2024 yang ada pada hari ini memang berhilir kepada paslon tunggal atau head to head belaka. Namun, melihat kalkulasi dan peta politik yang ada, akademisi berharap tidak ada paslon tunggal. Di luar PDIP yang saat ini berkuasa, Partai Golkar dinilai potensial menjadi game changer atau pengubah permainan.

Akademisi dari FISIP Undiknas, Nyoman Subanda, Selasa (29/3/2022) berkata semua hal bisa terjadi dalam Pilgub Bali 2024; bisa paslon tunggal, dua paslon, atau banyak paslon.

Bacaan Lainnya

Dia pun berharap tidak sampai paslon tunggal, apalagi Bali sesungguhnya punya banyak figur, baik kader partai maupun nonkader, yang bisa diorbitkan. Namun, mereka mungkin enggan memunculkan diri, atau partai juga enggan mengorbitkan saat ini, karena pertimbangan masih pandemi Covid-19.

“Masyarakat juga tidak fokus memikirkan politik, dan itu menyebabkan seolah tidak ada sosok lain selain yang beredar luas selama ini. Partai juga seperti jaga jarak dan menjaga citra peduli dengan masyarakat, sehingga tidak melulu bahas politik dan kekuasaan,” paparnya.

Untuk PDIP, dia melihat banyak opsi yang bisa dpertimbangkan selain Koster selaku petahana, meski Koster yang paling menonjol. Ada Giri Prasta, Puspayoga, Bintang Puspayoga, Made Urip, dan Adi Wiryatama dengan skema kader+kader atau kader+nonkader.

Baca juga :  Bupati Tabanan dan K3S Salurkan Bantuan BBRVPD Cibinong

Di Golkar, selain kader partai, Subanda melihat ada peluang mengusung kembali IB Rai Mantra, Ari Dwipayana (staf khusus Presiden), atau tokoh lain di Jakarta yang sampai kini belum menyatakan atau mempromosikan diri.

“(Golkar atau partai lain) bisa juga mengusung orang PDIP yang keluar dan mencalonkan diri lewat partai lain. Belum tentu partai lain tidak punya calon, karena bisa mengusung calon PDIP yang kecewa dan tahu kondisi dalam PDIP,” urainya.

Sebagai partai lama, ucapnya, Golkar jelas berpengalaman sejak Orde Baru sampai sekarang, dan tidak berada di luar kekuasaan, baik di pusat dan daerah. Meski tidak jadi pemenang pemilu, akseptabilitas dan elektabilitas Golkar selalu nomor 2 dan 3, tidak terlalu jauh dengan pemenang. Ini menandakan publik masih merespons positif, dan Golkar juga piawai memainkan peran politiknya, termasuk di Bali.

Manuver politik Golkar, imbuhnya, juga tidak bisa ditebak. Seperti saat ini di Bali, Golkar memainkan peran di DPRD Bali sebagai pengkritisi kebijakan Pemprov. Bisa jadi Golkar akan mengambil posisi strategis di Pilgub, misalnya mengambil kader partai lain atau mengusung sosok di luar Golkar, dan itu biasa ditempuh partai berlambang beringin tersebut.

“Saya rasa terlalu dini menganggap Golkar akan diam atau pasti koalisi dengan PDIP. Bisa saja bermanuver pada injury time atau memakai strategi lain untuk mengubah permainan,” bebernya.

Baca juga :  Cegah Penyebaran Corona, Anggota Polres Tabanan Wajib Tes Usap

Disinggung jika sampai benar terjadi paslon tunggal, Subanda menegaskan berarti ada kegagalan politik, terutama oleh partai. Sebab, salah satu fungsi partai adalah rekrutmen dan edukasi politik, termasuk melambungkan calon pemimpin.

Meski berhitung kalah-menang hal lumrah, dia pribadi berharap partai tetap berkomitmen ke rakyat untuk kaderisasi dengan mengusung figur, baik kader maupun nonkader, dalam hajatan politik memilih pemimpin.

Tentang kemungkinan Golkar koalisi dengan PDIP dalam Pilgub 2024 nanti, Korwil Bali-Nusa Tenggara DPP Partai Golkar, I Gde Sumarjaya Linggih, Senin (28/3/2022) menjawab dinamika politiknya masih sangat cair. “Semua opsi masih bisa terjadi, karena itu kan masih jauh. Bisa koalisi, bisa juga melawan PDIP,” kata Demer, sapaan akrabnya, kalem.

Sebelum menuju Pilkada pada November 2024, jelasnya, kalkulasi politik mesti mempertimbangkan perolehan suara pada Pileg dan Pilpres yang digelar pada Februari 2024. Terdapat “jurang” lebar untuk menghitung peluang berkontestasi, juga memilih figur yang akan ditandingkan.

Jika jagoan Golkar menang di Pilpres, tentu lebih memungkinkan mengusung paslon sendiri. Sebaliknya, jika Golkar melempem, opsi koalisi dengan PDIP sangat mungkin dipilih. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.