DENPASAR – Setelah sukses melaksanakan Konferensi Cabang PGRI Denpasar Barat, pekan lalu, pada Jumat (4/12/2020) digelar Konferensi Cabang PGRI Denpasar Utara. Konferensi Cabang PGRI Denpasar Utara digelar secara terbatas dalam nuasan protokol kesehatan (prokes) yang ketat di SMP PGRI 8 Denpasar.
Konferensi Cabang PGRI Denpasar Barat dibuka Camat Denpasar Utara, I Nyoman Lodra. Hasilnya, I Gusti Ngurah Agung Arya, S.Pd., terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Cabang PGRI Denpasar Utara periode 2020-2024 menggantikan Drs. I Ketut Sukartha, M.Si.
Kendati digelar terbatas, SMP PGRI 8 Denpasar di bawah pimpinan I Ketut Gede Adi Trisna Sugara, ST., M.Pd. sebagai tuan rumah tak main-main menyiapkan acara. Selain taat prokes, dekorasi tempat acara juga dihias nuasa alam. Saat itu juga dipentaskan hiburan musik acoustic dan dance dari guru dan siswa SMP PGRI 8 Denpasar, serta tari Panyembrahma dari SDN 1 Ubung. Acara juga diisi penyerahan tali kasih kepada pengurus periode 2016-2020, dan penyerahan cenderamata kepada Ketua Panitia dan Ketua PGRI Kota Denpasar, Drs. I Ketut Suarya, M.Pd.
Konferensi Cabang PGRI Denpasar Utara berlangsung cepat sesuai agenda utama konferensi adalah melaporkan hasil pelaksanaan program masa bakti XXI, dan pemilihan pengurus PGRI Cabang Denpasar Barat periode XXII Tahun 2020-2024. Sekretaris dipercayakan kepada Made Astawa, S.Pd., dan Bendahara, Ni Luh Putu Mei Endrayani, S.Pd.
Ketua Cabang PGRI Denpasar Utara demisioner, Ketut Sukartha, mengungkapkan, semangat musyawarah mufakat ini, patut diberikan tempat terbaik di tengah pandemi Covid-19. Dengan begitu Konferensi Cabang PGRI tak berlangsung lama.
Ketua terpilih, Agung Arya, berterima kasih atas dukungan penuh anggota, karena hasil kepengurusan pada pandemi Covid-19 ini memiliki tantangan berat. Meski demikian, Kepala SMPN 12 Denpasar ini akan mengemban amanah ini dengan baik dan berintegritas, karena kiprah PGRI tak boleh berhenti akibat pandemi Covid-19.
Ketua PGRI Kota Denpasar, Ketut Suarya, berkata, Konferensi Cabang PGRI dalam rangka memenuhi amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PGRI. Konferensi Cabang PGRI mengutamakan musyawarah guna mencapai mufakat dan menjadikan organisasi sebagai pemersatu anggota PGRI.
Menurut Ketut Suarya, mimpi PGRI semenjak kelahirannya adalah mempertahankan NKRI, memajukan pendidikan, memuliakan guru, dan menolong kesulitan guru. Ia menyebut ini mimpi yang sangat luar biasa, dan ini harus menjadi mindset bagi warga PGRI dan pengurus.
‘’Jangan ber-PGRI kalau tidak ingin mempertahkan PGRI, jangan ber-PGRI kalau tidak ingin memajukan pendidikan, jangan ber-PGRI kalau tidak ingin memuliakan guru, dan jangan ber-PGRI kalau tidak ingin menolong kesulitan guru,’’ serunya.
Dia menilai tantangan guru di masa kini dan akan datang dapat dipastikan semakin berat. Untuk itu, organisasi PGRI diharapkan menjadi tempat bertemu, wadah untuk berkomunikasi dan bersatu menyuarakan permasalahan guru.
Ia melanjutkan, saat ini kinerja guru sudah bagus. Guru diminta menarik hikmah di balik pandemi Covid-19 yakni mempercepat akselerasi penguasaan teknologi, menguatkan kerja sama antara guru dan orang tua sekaligus memastikan bahwa peran guru tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Kepada pengurus baru, ia berpesan dapat bersinergi dan mewujudkan keselerasan program kerja PGRI dengan arah kebijakan pembangunan pendidikan pemerintah daerah sebagai acuan dan evaluasi organisasi. Di samping mampu meningkatkan kinerja PGRI, khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas SDM sehingga terciptkan PGRI yang bermartabat, guru yang berkualitas, dan kesejahteraan para guru.
Camat Denpasar Utara, Nyoman Lodra, mengatakan, peran guru di tengah pandemi, memang jarang disebut sebagai garda terdepan “melawan” Corona. Tapi, jangan pernah sama sekali mengabaikan fungsi dan perannya semenjak adanya kebijakan pemerintah memindahkan proses-belajar ke rumah.
Justru masa sekarang, guru punya pekerjaan yang berlipat. Jauh lebih berat dibanding mengajar di dalam kelas. Pada masa inilah, kata Nyoman Lodra, diperlukan sinergitas. Sehebat dan sekuat-kuatnya guru berusaha mengarahkan dan membimbing anak-anak, orang tua tetap punya tanggung jawab yang besar. Akan sia-sia dan kurang maksimal usaha guru kalau orang tua tak ikut berperan aktif. tra
























