Petani Gagal Panen, Harga Cabai Melesat

PETANI cabai di Buleleng mengalami gagal panen akibat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Kondisi ini berimbas pada harga cabai rawit yang terus melambung hingga menembus Rp120 ribu per kilo. foto: rik

BULELENG – Harga cabai rawit melesat hingga Rp120 ribu per kilo yang dipicu minimnya pasokan dari petani. Di beberapa wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, pasokan memang terhambat akibat tanaman cabai petani terserang organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Kabid Hortikultura, Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, Gede Subudi, berkata, kondisi ini terjadi selain faktor cuaca, juga karena serangan OPT seperti ulat, tungau, kutu daun, serangan hama trips, antraknose, hingga serangan lalat buah. Akibatnya, produksi menjadi terganggu.

Bacaan Lainnya

Bahkan menurut Subudi, hingga Maret ini harga cabai rawit di pasaran bahkan tembus Rp130 ribu per kilo. Saat ini kebutuhan cabai rawit untuk di Buleleng mengandalkan pasokan dari Banyuwangi. ‘’Untuk Buleleng yang masih memproduksi cabai dari Desa Patemon, Kalisada, dan Desa Pancasari. Itu yang produksi sekitar 10 hektar,’’ kata Subudi, Rabu (17/3/2021).

Sejauh ini, jumlah produksi cabai masih kisaran 1 kwintal hingga 2 kwintal. Padahal, jumlah kebutuhan cabai di Buleleng sampai 34 kwintal per hari. Meski demikian, di wilayah Kecamatan Gerokgak, kini sudah ada penanaman cabai dengan luas 956 hektar. Hanya saja cabai tersebut belum dipanen.

Atas adanya serangan hama OPT ini, pihaknya telah menyebarkan surat edaran di akhir 2020 untuk mengantisipasi hal ini. ‘’Kami sudah mengimbau petani mengantisipasi serangan OPT melalui sanitasi kebun, perbaiki drainase kebun, pemasangan perangkap lalat buah dan juga pemasangan rain shelter,’’ sebut Subudi.

Kendati demikian, ia optimis jika produksi cabai rawit di Buleleng akan normal pada April nanti. Sebab, lahan ratusan hektar yang ditanami cabai di Gerokgak sudah bisa dipanen. ‘’Ya, curah hujan yang tinggi juga menjadi salah satu penyebab mundurnya jadwal panen, karena lambatnya buah matang,’’ jelas Subudi.

Sementara kenaikan harga cabai akibat gagal panen justru bawa berkah bagi sejumlah petani cabai di wilayah Pancasari, Kecamatan Sukasada. Seperti diungkapkan petani cabai, Ketut Supala, yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Sari Desa Pancasari.

Supala menanam cabai paprika di rumah kaca untuk mengantisipasi serangan penyakit saat musim penghujan. Namun, anjloknya harga paprika akibat pandemi Covid-19 membuat dirinya beralih menanam cabai rawit di dalam rumah kaca. Penanaman di rumah kaca seluas 400 meter persegi ini dilakukan sejak Oktober 2020.

‘’Panen setiap 4 atau 5 hari sekali dengan hasil 25 sampai 50 kg/panen. Saya jual di atas Rp100 ribu/kilo. Ternyata menanam cabai rawit di dalam rumah kaca lebih efektif mengantisipasi serangan hama akibat musim hujan,’’ pungkas Supala. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses