BANGLI – Tekstur tanah di wilayah Kabupaten Bangli yang gembur dan berpasir sangat cocok untuk budidaya tanaman kentang. Potensi ini mulai dilirik sejumlah petani di Kecamatan Kintamani, dengan mulai mencoba menanam tanaman dengan bahasa latin Solanum Tuberosum ini.
Salah seorang petani di Desa Batur, Kintamani yang coba membudidayakan kentang adalah I Komang Carles. Wakil Ketua DPRD Bangli itu mengaku sangat tertarik membudidayakan kentang, dan beberapa kali bisa panen. “Untuk uji coba saya mengembangkan di lahan sekitar dua sampai lima are. Sementara hasil yang dicapai selama ini cukup baik,” tuturnya.
Untuk percobaan terakhir, kata dia, telah panen beberapa hari lalu. Sayang, dia tidak merinci berapa produksi kentang di atas lahan dua are tersebut. Namun, dari segi pemasaran, politisi Partai Demokrat itu mendaku cukup bagus, dengan harga berkisar antara Rp 8 ribu hingga 10 ribu per kilonya. “Biasanya diambil langsung oleh para pengepul ke lokasi, untuk bibit beli di wilayah Bedugul, Tabanan,” jelasnya.
Kadis Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, Jumat (27/11/2020) membenarkan adanya sejumlah petani di wilayah Kintamani mulai menjajal menanam kentang. Hanya, penanaman masih skala kecil , sekadar untuk pemenuhan konsumsi. “Petani di Desa Buahan dan Kedisan sudah ada yang tanam kentang,” ujar Sarma.
Menyinggung tentang kondisi tanah di Kintamani, Sarma menilai tidak jauh berbeda dengan daerah penghasil kentang di Bali. Meski begitu, masyarakat belum banyak yang tertarik membudidayakan tanaman tersebut. Pemkab juga belum ada rencana untuk membentuk demplot, sebab kentang belum masuk komoditas unggulan di Bangli.
“Ini hanya motivasi yang bergelut bidang pertanian agar bisa berkembang, dan tidak mengandalkan yang sudah ada saja. Harus banyak variasi jenis tanaman, sehingga para pemasok cukup mencari di satu tempat saja,” sarannya. gia
























