Pesohor Kuat Logistik Berpeluang Diprioritaskan Caleg, Pragmatisme Dorong Dominasi Kapital

  • Whatsapp
Nyoman Subanda. Foto: hen
Nyoman Subanda. Foto: hen

DENPASAR – Adanya pesohor yang masuk atau direkrut partai untuk meramaikan kontestasi politik, memang bukan cerita baru di Indonesia. Dengan modal popularitasnya, kalangan selebritas dinilai berpeluang jadi vote getter atau penarik suara pengikutnya. Tetapi, hanya pesohor yang punya modal logistik memadai yang berpeluang menjadi calon legislatif (caleg) saat pemilu.

Akademisi FISIP Undiknas, Dr. Nyoman Subanda, Kamis (6/1/2022) berujar, sesungguhnya hal yang wajar dan lumrah ketika satu partai merekrut pihak eksternal untuk memperkuat citra mereka. Pihak eksternal bisa pesohor dari kalangan artis, pengusaha, atau akademisi yang punya reputasi. Mereka diposisikan sebagai vote getter, karena partai memerlukan magnet untuk menarik simpati masyarakat. Karena kemampuan menarik yang dimiliki pesohor itu, sebutnya, maka seringkali partai mengutamakan tokoh eksternal dibanding kader untuk diusung sebagai caleg maupun calon kepala daerah.

Bacaan Lainnya

“Lebih-lebih kalau tokoh tersebut punya logistik yang kuat, bisa jadi orang itu mendapat prioritas pertama sebagai alternatif pilihan caleg maupun calon kepala daerah. Hal ini terjadi di daerah lain, dan berlaku untuk semua partai,” terangnya.

Lebih jauh Subanda menuturkan, dari pengalamannya menjadi tim seleksi untuk penjaringan caleg di satu partai, indikator-indikator yang digunakan sangat nampak terlihat, antara lain diukur dari jumlah massa dan sumber pendanaan. Hal lain adalah elektabilitas calon, dan ini memiliki skor tinggi. Sementara kapabilitas dan pengabdian di partai skornya terbilang rendah.

Baca juga :  Upacara “Nangluk Merana” di Kuta bakal Dilaksanakan Sesuai Prokes

Subanda tidak menjawab lugas soal apakah ada potensi rekrutmen vote getter akan membendung potensi kader yang benar-benar berkeringat untuk jadi caleg. Namun, dia tidak memungkiri jika ada pesohor dengan kekuatan modal popularitas, elektabilitas dan modal ekonomi seperti itu cenderung akan “melibas” pengabdian kader senior. “Ya, realitas politiknya seperti itu saat ini,” serunya.

“Salah satu ciri fenomena politik kontemporer adalah dominasi kapital karena pragmatisme partai dan masyarakat. Tapi untuk di Bali memang tidak begitu menonjol kasus dominasi kapital ini. Sebab, kebetulan tidak banyak pesohor yang benar-benar punya logistik besar mau bersedia terjun ke dunia politik,” imbuhnya menandaskan bernada kelakar.

Seperti diwartakan sebelumnya, Partai Golkar dan PDIP di Bali menyatakan “belum begitu melirik” pesohor lokal untuk dijadikan vote getter. Kedua partai paling tua dan paling bersaing di Bali ini satu pandangan untuk rekrutmen caleg, yakni memprioritaskan kader yang berkeringat. Selain itu, ada mekanisme sendiri untuk menetapkan siapa yang berhak menjadi caleg. Aturan itu berlaku semua kader, termasuk para pesohor dengan fans atau pendukung yang berpeluang mendulang suara untuk partai.

“Pada saatnya ada pembahasan menjelang penetapan caleg, akan ada finalisasi. Nanti dievaluasi dari fungsionaris yang ada, dan perkembangan terakhir akan dibahas. Sampai saat ini masih dalam tahap penyusunan 200 persen dari kuota itu di semua DPP II, DPD I dan DPR RI,” terang Ketua DPD Partai Golkar Bali, I Nyoman Sugawa Korry, Rabu (5/1/2022).

Baca juga :  Hotel Inna Grand Bali Beach Kembali Terbakar

“Belum, belum ada pembahasan soal caleg dan kandidat (di pilkada). Kami sampai sekarang masih fokus mengawal pemerintahan Pak Jokowi, termasuk memastikan melandai terus Covid ini karena persiapan G-20 di Bali,” sebut Wakil Sekretaris Internal DPD PDIP Bali, Cokorda Gede Agung, di kesempatan terpisah. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.