Perempuan, Pesaing atau Pendamping Laki-laki di Politik?

I Nyoman Subanda dan Kadek Dwita Apriani. Foto: dok
I Nyoman Subanda dan Kadek Dwita Apriani. Foto: dok

DENPASAR – Ruang percakapan atas politik elektoral memang dominan melibatkan laki-laki. Keterlibatan perempuan, baik dalam kandidasi maupun menjadi opsi utama dalam kontestasi, masih jauh dari ideal. Kurang percaya diri personal acapkali mengakibatkan lahir kesan perempuan hanya pemanis dalam politik. Sesungguhnya perempuan itu hanya sekadar pendamping atau mampu menjadi pesaing bagi laki-laki dalam politik elektoral?

Akademi FISIP Undiknas, I Nyoman Subanda, Minggu (10/4/2022) menilai isu perempuan kurang digarap optimal oleh partai politik. Pengabaian itu membuat perempuan cenderung cuek dengan kontestasi yang terjadi, dan situasi seperti itu tidak baik bagi kesadaran berdemokrasi. “Kita lihat saja di semua helatan politik, perempuan hanya sebagai pajangan, tidak benar-benar digarap potensi konstituen yang potensial, yang mendongkrak,” paparnya.

Bacaan Lainnya

Strategi menggarap potensi pemilih perempuan, terangnya, antara lain dengan mengadopsi isu perempuan dan berdialog dengan tokoh perempuan. Dengan cara begitu, sekurang-kurangnya partai dapat menyerap apa yang jadi keinginan dan target berorganisasi bagi perempuan. “Jadi, partai tidak terjebak dengan hanya diisi orang-orang yang itu-itu saja (laki-laki), yang kelihatan muncul di media massa,” lugasnya.

Pandangan sedikit berbeda diutarakan akademisi FISIP Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani. Meski tidak memungkiri selama ini nama yang beredar di media massa atau di media sosial hanya berkutat di laki-laki, bukan berarti perempuan tidak memiliki kualitas setara atau bahkan lebih. Mesti diverifikasi juga apakah nama-nama di media merepresentasikan kondisi sesungguhnya di masyarakat.

Baca juga :  Tingkat Hunian Hotel di Badung Kembali Turun di Januari 2022

“Bagi saya, perempuan hanya sekadar tidak dimunculkan saja untuk kandidasi oleh pembuat survei atau poling di media, bukan berarti sosok perempuannya tidak ada (yang layak). Secara teknis perlu dicari tahu (kenapa) figur yang dimunculkan hanya itu-itu saja,” papar doktor ilmu politik lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Disinggung kiprah perempuan setelah era Bupati Mas Sumatri (Karangasem) dan Bupati Eka Wiryastuti (Tabanan) terkesan hanya jadi pemanis dalam politik elektoral, dia tidak sepakat lanskap Bali dilihat demikian. Kata dia, kiprah perempuan tidak hanya di eksekutif, tapi juga di legislatif. Cukup banyak perempuan yang dinilai mampu mengkritisi kebijakan di daerah.

Di Gianyar, kata dia, ada sosok Ratnadi yang terlibat cukup aktif dalam penanganan sampah di TPA Temesi. Ini menandakan perempuan mampu memperjuangkan sesuatu di ranah politik, karenanya terlalu pesimistik memandang perempuan sekadar pemanis di politik.

“Tapi jika dalam konteks Pilkada Bali, kita perlu lihat lagi karena waktunya masih panjang. Prediksi kita sekarang belum bisa menggambarkan apa-apa untuk ke 2024,” ulasnya.

Lebih jauh dipaparkan, ada tiga faktor penghambat perempuan dalam politik elektoral, yakni individual, kultural dan struktural. Secara individual, perempuan acapkali merasa tidak cukup percaya diri diri ikut serta pada pengambilan keputusan di ranah publik. Banyak perempuan, meski berpendidikan tinggi, tapi terlalu lama dialienasi dari proses pengambilan keputusan ranah publik.

Baca juga :  Gubernur Koster Beberkan Alasan Penundaan Pembukaan Pariwisata Tahap III

“Misalnya di rapat banjar saja tidak ikut ambil keputusan, karena itu ranah laki-laki. Begitu tiba-tiba lompat ke level kabupaten (sebagai anggota DPRD), jadi merasa tidak percaya diri (mengambil keputusan),” imbuhnya.

Secara kultural, masyarakat sekitar kurang mendukung politisi perempuan dibandingkan politisi laki-laki. Masih ada bias jender di masyarakat, karena politik dianggap dunia maskulin. Terakhir, secara struktural, Dwita menyebut hambatannya dari gatekeeper atau pengurus partai politik, yang melihat perempuan sekadar memenuhi kuota keterwakilan. Singkat kata, perempuan dianggap belum kapabel dalam kontestasi.

“Saya pernah riset Agung Putri Astrid (caleg Pemilu) tahun 2019. Meski berkualitas secara personal, tetap ada hambatan dari orang partai dalam menggerakkan mesin partai sampai level bawah,” lugasnya menandaskan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.