Perempuan Membangun Peradaban Dharma

DR. I Ketut Suardana. foto: dok

Dari Satī, Śakuntalā, Draupadī, Sāvitrī, Sītā, Cut Nyak Dhien, Kartini, Dewi Sartika, dan Marsinah hingga Perempuan Indonesia di Negeri Seberang

MANUSIA yang kuat bukanlah manusia yang tidak pernah menangis, melainkan manusia yang tidak membiarkan air matanya memadamkan Dharma.

Air mata bukan selalu tanda kelemahan. Ia dapat menjadi bahasa jiwa ketika kata-kata tidak lagi mampu menampung kehilangan, kerinduan, penghinaan, dan ketidakadilan. Persoalannya bukan apakah manusia pernah menangis, melainkan apa yang dilakukannya setelah menangis.

Ada air mata yang membuat manusia tenggelam dalam keputusasaan. Namun ada pula air mata yang membersihkan pandangan, membangunkan kesadaran, dan melahirkan keberanian untuk melanjutkan kehidupan.

Dalam perjalanan sejarah, perempuan sering membangun peradaban dari tempat-tempat yang tidak tercatat dalam monumen kekuasaan. Mereka melahirkan dan membesarkan generasi, merawat keluarga, membuka sekolah, menjaga kebudayaan, memperjuangkan kemerdekaan, membela hak pekerja, serta bekerja jauh dari tanah kelahirannya demi kehidupan keluarga yang lebih baik.

Perempuan tidak hanya melahirkan manusia. Perempuan juga melahirkan masa depan. Namun jalan mereka tidak selalu mulus. Mereka menghadapi keterbatasan sosial, konflik keluarga, kehilangan, perpisahan, diskriminasi, kekerasan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Justru di tengah berbagai tantangan itulah terlihat bahwa perempuan merupakan salah satu kekuatan utama dalam membangun Peradaban Dharma.

Peradaban Dharma: Kemajuan yang Memuliakan Kehidupan
Dharma tidak hanya berarti kewajiban keagamaan. Dalam pengertian yang lebih luas, Dharma adalah prinsip yang menjaga kehidupan agar tetap berada dalam kebenaran, keadilan, keseimbangan, tanggung jawab, dan keharmonisan.

Peradaban Dharma adalah peradaban yang menempatkan kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kekuasaan di bawah tuntunan nilai kemanusiaan. Peradaban seperti itu tidak hanya bertanya: “Berapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan?”

Namun juga: Apakah kekayaan itu menghadirkan kesejahteraan?, apakah kemajuan melindungi martabat manusia?, apakah perempuan memperoleh keamanan dan keadilan?, apakah pekerja menerima upah yang layak?, apakah anak-anak memperoleh pendidikan dan kasih sayang?, apakah keluarga dan masyarakat menjadi semakin kuat?

Kesejahteraan bukan hanya peningkatan pendapatan. Kesejahteraan meliputi kesehatan, pendidikan, keamanan, ketenteraman batin, martabat, perlindungan hukum, dan kesempatan untuk menentukan masa depan. Perempuan berada di jantung perjuangan tersebut.

Perempuan sebagai Śakti Peradaban
Dalam filsafat Hindu, Śakti merupakan daya yang menggerakkan kehidupan. Tanpa Śakti, potensi tidak memperoleh kekuatan untuk mewujudkan dirinya. Śakti bukan hanya kekuatan fisik, melainkan juga kreativitas, kasih, pengetahuan, keberanian, pemeliharaan, dan transformasi.

Ṛgveda X.125, yang dikenal sebagai Devī Sūkta, menggambarkan kekuatan feminin ilahi sebagai daya yang bergerak di antara para dewa, menopang kehidupan, serta memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat, bernapas, mendengar, dan memahami.

Namun penghormatan kepada perempuan sebagai Śakti tidak boleh berhenti sebagai pujian ritual. Tidak cukup memuja Dewī di pura atau mandir apabila perempuan dalam kehidupan nyata masih mengalami kekerasan, pelecehan, eksploitasi, ketidakadilan upah, dan pembatasan pendidikan.

Memuliakan Śakti berarti menghormati martabat perempuan, memberikan pendidikan yang setara, melindunginya dari kekerasan, menjamin kondisi kerja yang adil, serta memberikan ruang dalam pengambilan keputusan. Perempuan bukan sekadar pendamping pembangunan. Perempuan adalah pencipta dan penggerak peradaban.

Satī: Cinta yang Menuntut Penghormatan
Satī meninggalkan keluarga asalnya untuk membangun kehidupan bersama Śiva. Namun perjalanan cintanya menghadapi pertentangan besar. Ayahnya, Dakṣa, tidak menghormati Śiva dan menyelenggarakan yajña tanpa mengundangnya.

Satī kemudian datang ke tempat yajña dan menyaksikan suaminya dihina. Dalam berbagai versi Purāṇa, Satī menyerahkan tubuhnya melalui api yoga atau api persembahan.

Tindakan Satī tidak patut dijadikan teladan untuk menyakiti atau mengakhiri kehidupan. Peristiwa tersebut harus dibaca sebagai tragedi spiritual dan peringatan keras: ketika kesombongan dan penghinaan memasuki ruang suci, yajña kehilangan kesuciannya.

Persembahan kepada Tuhan tidak mempunyai makna apabila martabat manusia dihancurkan. Bagi perempuan masa kini, api Satī dapat dimaknai secara simbolis sebagai api ujian kehidupan: konflik keluarga, perpisahan, kesepian, penghinaan, dan perjuangan memperoleh pengakuan.

Namun cinta yang benar tidak menuntut perempuan menghancurkan dirinya sendiri. Cinta memerlukan pengorbanan, tetapi pengorbanan tidak boleh menghilangkan keselamatan dan martabat.

Śakuntalā: Keteguhan Menjaga Masa Depan
Śakuntalā harus menghadapi penolakan ketika Raja Duṣyanta kehilangan ingatan tentang hubungan mereka akibat kutukan. Dalam keadaan mengandung, ia mengalami ketidakpastian dan kehilangan pengakuan.

Namun Śakuntalā tidak membiarkan penolakan menghancurkan nilai dirinya. Ia menjaga kehidupan dan masa depan putranya, Bharata, yang kemudian tumbuh menjadi tokoh besar.

Kisah Śakuntalā memperlihatkan bahwa keteguhan seorang ibu dapat menjaga masa depan anak ketika hubungan orang dewasa mengalami keretakan. Kesetiaan dalam dirinya bukan kepasrahan buta, melainkan keberanian mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan keluhuran. Ia mungkin terluka, tetapi luka itu tidak membuatnya berhenti merawat masa depan.

Draupadī: Suara Perempuan yang Menguji Kekuasaan
Draupadī mengalami penghinaan besar di ruang persidangan Hastināpura setelah Yudhiṣṭhira mempertaruhkannya dalam permainan dadu. Di hadapan para raja, guru, tetua, dan kesatria, ia mengajukan pertanyaan yang mengguncang dasar moral kekuasaan:

Apakah seorang laki-laki yang telah kehilangan dirinya sendiri masih mempunyai hak untuk mempertaruhkan istrinya? Pertanyaan Draupadī bukan hanya pembelaan terhadap dirinya. Ia merupakan gugatan terhadap hukum yang diperalat oleh kekuasaan. Para tokoh besar hadir, tetapi banyak yang memilih diam.

Draupadī menunjukkan bahwa ketika lembaga kekuasaan kehilangan keberanian moral, suara orang yang diperlakukan tidak adil dapat menjadi suara Dharma.

Ia juga mengingatkan bahwa perempuan bukan milik laki-laki. Seorang istri adalah pribadi yang memiliki martabat, suara, hak, dan kesadaran. Keluarga tidak dapat disebut sejahtera apabila martabat salah satu anggotanya dikorbankan.

Sāvitrī: Cinta yang Disertai Kecerdasan
Sāvitrī mengetahui bahwa suaminya, Satyavān, ditakdirkan meninggal dalam waktu singkat. Meskipun demikian, ia tetap memilih menjalani kehidupan bersamanya.

Ketika Yama membawa jiwa Satyavān, Sāvitrī mengikutinya. Ia tidak menghadapi Yama dengan kekuatan fisik, melainkan dengan kesetiaan, kecerdasan, keberanian, dan kebijaksanaan dalam berdialog. Melalui keteguhannya, ia memperoleh anugerah hingga kehidupan suaminya dikembalikan.

Sāvitrī menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan. Cinta juga merupakan kecerdasan untuk mencari jalan keluar ketika keluarga menghadapi krisis.

Perempuan membangun peradaban bukan hanya melalui kelembutan, tetapi juga melalui daya pikir, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan bertahan dalam keadaan sulit.

Sītā: Ketahanan Batin dan Kedaulatan Diri
Sītā meninggalkan kenyamanan istana untuk mendampingi Rāma menjalani pembuangan di hutan. Setelah diculik Rāvaṇa, ia menghadapi tekanan berat di Aśokavana. Namun ia tidak menyerahkan kehendak dan martabatnya kepada orang yang menindasnya.

Ketabahan Sītā tidak boleh digunakan untuk menyuruh perempuan menerima penderitaan atau kekerasan dalam diam. Nilai utama kisahnya terletak pada ketahanan batin dan kedaulatan dirinya.

Kesabaran bukan berarti membiarkan kejahatan. Kesetiaan bukan berarti kehilangan hak untuk dihormati. Pengabdian bukan berarti menyerahkan martabat.

Sītā mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tampak ketika ia tetap menjaga nilai dirinya meskipun berada dalam keadaan yang tidak dapat dipilihnya.

Cut Nyak Dhien: Cinta yang Membela Tanah Air
Cut Nyak Dhien—dalam ejaan lama ditulis Tjoet Nja’ Dhien—memperlihatkan bahwa cinta perempuan tidak hanya melindungi keluarga. Cinta dapat berkembang menjadi keberanian membela masyarakat, kehormatan, dan tanah air.

Ia kehilangan suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Kesedihan itu tidak memadamkan semangatnya. Ia kemudian melanjutkan perjuangan bersama Teuku Umar.

Setelah Teuku Umar gugur, Cut Nyak Dhien kembali menghadapi kehilangan besar. Meskipun usia bertambah dan kondisi fisiknya semakin lemah, ia mempertahankan keyakinan serta kehormatannya.

Air matanya tidak menjadi akhir perjuangan. Kehilangan pribadi diubahnya menjadi keberanian sejarah.

Cintanya bergerak dalam beberapa lingkaran: cinta kepada keluarga, masyarakat Aceh, tanah kelahiran, kebebasan, dan kehormatan bangsanya.

Cut Nyak Dhien memperlihatkan bahwa perempuan dapat menjadi penjaga keluarga sekaligus penjaga martabat bangsa.

Kartini: Kegelisahan yang Menjadi Cahaya Pemikiran
Raden Ajeng Kartini hidup dalam lingkungan yang membatasi pendidikan dan kebebasan perempuan. Namun ia tidak membiarkan keterbatasan tersebut memadamkan cahaya pikirannya.

Melalui surat-suratnya, Kartini menyuarakan pendidikan, kemerdekaan batin, martabat perempuan, dan pembaruan masyarakat. Ia mengubah pengalaman pribadi menjadi kesadaran sosial.

Kartini memahami bahwa keluarga dan bangsa tidak mungkin mencapai kemajuan apabila perempuan tidak memperoleh pendidikan. Perempuan yang terdidik bukan ancaman bagi keluarga. Ia justru menjadi sumber pengetahuan, kesehatan, ketahanan ekonomi, dan pembentukan karakter generasi berikutnya.

Kartini mengubah kegelisahan menjadi pemikiran, pemikiran menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi cahaya yang menembus zaman.

Dewi Sartika: Cinta yang Menjadi Pendidikan
Dewi Sartika memperjuangkan perempuan melalui tindakan nyata dengan mendirikan sekolah. Ia mengubah kepedulian menjadi lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada perempuan.

Ia menyadari bahwa niat baik tidak cukup untuk mengubah kehidupan. Kesadaran harus diwujudkan dalam program, sekolah, pelatihan, dan kesempatan untuk mandiri.

Dewi Sartika mengajarkan bahwa cinta yang membangun peradaban harus memperoleh bentuk nyata. Ia tidak hanya merasa prihatin terhadap keadaan perempuan, tetapi menciptakan sarana untuk mengubahnya.

Di sinilah Dharma menjadi tindakan: Kesadaran melihat ketidakadilan. Empati merasakan penderitaan. Kehendak membangun jalan perubahan.

Marsinah: Ketika Suara Pekerja Menjadi Suara Dharma
Marsinah adalah buruh perempuan yang memperjuangkan hak dan perbaikan upah pekerja di Jawa Timur pada awal 1990-an. Setelah terlibat dalam perjuangan buruh, ia diculik dan ditemukan meninggal pada Mei 1993 dalam keadaan mengalami kekerasan.

Perjuangan Marsinah menyentuh persoalan mendasar dalam Peradaban Dharma: penghargaan terhadap tenaga manusia, hak atas upah yang layak, kebebasan menyampaikan aspirasi, perlindungan pekerja, serta tanggung jawab negara dalam menegakkan keadilan.

Marsinah tidak sedang meminta kemewahan. Ia memperjuangkan hak pekerja agar tenaga manusia dihargai secara adil.

Secara filosofis, perjuangannya mempunyai hubungan kuat dengan pertanyaan Draupadī. Draupadī bertanya apakah manusia dapat diperlakukan sebagai barang milik dan dipertaruhkan. Perjuangan Marsinah seakan mengajukan pertanyaan yang sama dalam kehidupan modern:

Apakah tenaga pekerja boleh digunakan tanpa upah yang layak, tanpa perlindungan, dan tanpa hak untuk menyampaikan keberatan?

Draupadī berbicara di hadapan kekuasaan kerajaan. Marsinah berbicara di hadapan kekuasaan ekonomi dan industri. Keduanya memperlihatkan bahwa diamnya orang-orang yang mengetahui ketidakadilan dapat membuat adharma semakin kuat.

Marsinah dapat direnungkan sebagai Śakti sosial—bukan untuk mengubah identitas keyakinannya, melainkan sebagai pembacaan filosofis tentang keberanian perempuan yang menggerakkan perubahan. Śakti bukan hanya kelembutan yang merawat. Śakti juga keberanian untuk mengatakan bahwa ketidakadilan tidak boleh diterima sebagai kewajaran.

Namun penderitaan Marsinah tidak boleh diromantisasi. Seorang perempuan tidak perlu menjadi korban untuk membuktikan keberaniannya. Peradaban Dharma justru harus menciptakan keadaan agar setiap pekerja dapat memperjuangkan hak tanpa kehilangan keselamatan dan nyawa.

Pembangunan belum dapat disebut kemajuan apabila upah pekerja tidak adil, suara buruh dibungkam, dan perempuan kehilangan keselamatan ketika memperjuangkan haknya.

Perempuan Indonesia di Negeri Seberang
Semangat para perempuan tersebut hidup dalam perjuangan perempuan Indonesia masa kini. Banyak perempuan bekerja di luar negeri sebagai terapis, perawat, pengasuh, pekerja rumah tangga, pekerja hospitality, awak kapal, dan profesi lainnya.

Istilah resminya adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan, meskipun dalam percakapan sehari-hari masih sering disebut tenaga kerja wanita atau TKW.
Mereka meninggalkan rumah bukan karena tidak mencintai keluarganya. Justru karena cinta, mereka berani pergi.

Seorang ibu menahan kerinduan kepada anak-anaknya agar dapat membiayai pendidikan mereka. Seorang istri membantu menopang ekonomi keluarga. Seorang anak bekerja jauh dari rumah untuk membiayai pengobatan orang tuanya. Ada pula yang menabung untuk membangun rumah atau membuka usaha setelah kembali ke tanah air.

Para perempuan Bali yang bekerja sebagai terapis dan dalam bidang hospitality membawa keterampilan tangan, disiplin, keramahan, serta rasa pelayanan yang tumbuh dalam lingkungan kebudayaannya. Di negeri seberang, keterampilan itu menjadi jalan untuk membantu keluarga mencapai kehidupan yang lebih baik.

Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Mereka dapat menghadapi perbedaan bahasa dan budaya, kesepian, beban kerja berat, kontrak tidak adil, penahanan dokumen, pelecehan, kekerasan, serta keterasingan dari keluarga.

Di balik setiap uang yang dikirimkan terdapat waktu, tenaga, kesabaran, dan air mata yang tidak selalu terlihat. Karena itu, jangan hanya bertanya: Berapa uang yang dapat dikirim bulan ini?

Tanyakan juga: Apakah engkau sehat?, apakah tempat kerjamu aman?, apakah engkau diperlakukan dengan baik?, apakah engkau sedang menghadapi kesulitan?, apakah kami dapat membantumu?”

Dari Marsinah Menuju Perlindungan Pekerja MIgran
Marsinah dan pekerja migran perempuan berada dalam keadaan sejarah yang berbeda. Namun perjuangan mereka dipertemukan oleh satu masalah: hubungan kerja yang tidak selalu seimbang.

Pemberi kerja mempunyai modal, kekuasaan, informasi, dan akses terhadap hukum. Pekerja sering hanya mengandalkan tenaga, kontrak, serta keberanian menyampaikan keluhan.

Karena itu, perlindungan terhadap perempuan pekerja, baik di dalam maupun di luar negeri, harus mencakup: upah yang adil dan dibayarkan tepat waktu, kontrak kerja yang jelas dan dapat dipahami, jam kerja serta waktu istirahat yang manusiawi, perlindungan dari pelecehan dan kekerasan, kebebasan menyampaikan keluhan dan berserikat, larangan penahanan dokumen secara sewenang-wenang, akses terhadap bantuan hukum dan diplomatik, serta jaminan bahwa suara pekerja tidak dibalas dengan ancaman.

Marsinah mengingatkan bahwa kesejahteraan keluarga dan pertumbuhan industri tidak boleh dibangun di atas penderitaan pekerja yang disembunyikan.

Pengorbanan Perempuan Bukan Komoditas
Keluarga tidak boleh hanya menikmati hasil kerja perempuan tanpa ikut memikul tanggung jawab. Uang kiriman harus dikelola secara bijaksana untuk pendidikan, kesehatan, perumahan, usaha produktif, tabungan, dan masa depan keluarga.

Negara, perusahaan penempatan, pemberi kerja, serta masyarakat juga mempunyai tanggung jawab untuk memastikan proses perekrutan yang transparan, pelatihan yang memadai, kontrak kerja yang adil, dan perlindungan hukum yang efektif.

Kerja dapat menjadi pelaksanaan Dharma apabila dijalankan dengan jujur, manusiawi, dan bertanggung jawab. Namun Dharma tidak boleh digunakan untuk menyuruh perempuan terus menerima penindasan.

Kesabaran bukan pembenaran terhadap kekerasan. Pengabdian bukan izin untuk melakukan eksploitasi. Pengorbanan bukan alasan untuk menghilangkan hak.

Tujuan bekerja di negeri seberang bukanlah agar perempuan selamanya terpisah dari keluarganya. Pengorbanan sementara harus diubah menjadi kesejahteraan berkelanjutan, kemandirian, pendidikan, dan kehidupan keluarga yang lebih bermartabat.

Uttiṣṭha: Mantra untuk Membangunkan Kesadaran
Semangat kebangkitan perempuan dapat direnungkan melalui mantra: Oṁ uttiṣṭhottiṣṭha Govinda, uttiṣṭha Garuḍadhvaja, uttiṣṭha Kamalākānta, trailokyaṁ maṅgalaṁ kuru.

Artinya: Bangkitlah, bangkitlah, wahai Govinda. Bangkitlah, wahai Dia yang panjinya berlambang Garuḍa. Bangkitlah, wahai kekasih Kamalā. Hadirkanlah kebaikan bagi ketiga dunia.

Mantra ini dikenal dalam tradisi Suprabhātam, doa pagi untuk membangunkan dan memuliakan Tuhan. Namun secara filosofis, Tuhan tidak tidur seperti manusia. Kesadaran manusialah yang perlu dibangunkan.

Uttiṣṭha—bangkitlah!
Bangkit dari kesedihan, bangkit dari ketakutan, bangkit dari penghinaan, bangkit dari eksploitasi, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari keadaan yang membuat anusia merasa tidak lagi mempunyai harapan.

Seruan serupa terdapat dalam Bhagavadgītā II.3: Klaibyaṁ mā sma gamaḥ Pārtha; naitat tvayy upapadyate; kṣudraṁ hṛdaya-daurbalyaṁ tyaktvottiṣṭha parantapa.

Artinya: Jangan menyerah kepada kelemahan, wahai Pārtha, karena hal itu tidak pantas bagimu. Tinggalkan kelemahan hati itu dan bangkitlah, wahai penakluk musuh.

Seruan uttiṣṭha bukan berarti manusia dilarang bersedih. Kṛṣṇa tidak menyangkal kesedihan Arjuna. Kṛṣṇa membimbingnya agar kesedihan tidak berubah menjadi kelumpuhan batin.

Demikian pula perempuan. Mereka boleh menangis karena kehilangan, perpisahan, penghinaan, dan beratnya kehidupan. Namun air mata tidak boleh memadamkan api kesadaran dan Dharma.

Trailokyaṁ Maṅgalaṁ Kuru: Kebaikan bagi Tiga Lingkaran Kehidupan. Kalimat terakhir mantra berbunyi: Trailokyaṁ maṅgalaṁ kuru, hadirkanlah kebaikan bagi ketiga dunia.

Dalam kehidupan perempuan, “tiga dunia” dapat direnungkan secara kontekstual sebagai tiga lingkaran kebaikan:

  1. Kebaikan bagi diri sendiri — kesehatan, keselamatan, pendidikan, martabat, dan kedaulatan diri.
  2. Kebaikan bagi keluarga — kasih sayang, kesejahteraan, pendidikan anak, serta ketahanan ekonomi.
  3. Kebaikan bagi masyarakat dan negara — keadilan sosial, kebudayaan, perdamaian, dan kemajuan peradaban.

Perempuan tidak boleh diminta menyejahterakan keluarga dengan menghancurkan dirinya sendiri. Kebaikan harus mengalir secara seimbang kepada ketiga lingkaran tersebut.

Apabila keluarga sejahtera tetapi perempuan mengalami kekerasan, itu belum merupakan maṅgala. Apabila ekonomi tumbuh tetapi pekerja kehilangan martabat, itu belum merupakan Dharma. Apabila masyarakat memuja Dewī tetapi membiarkan perempuan dieksploitasi, itu belum merupakan Peradaban Dharma.

Dari Pengorbanan Menuju PemberdayaanPeradaban lama sering memuji perempuan karena kesediaannya berkorban. Peradaban Dharma harus melangkah lebih jauh: dari memuji pengorbanan menuju membangun pemberdayaan.

Perempuan tidak hanya membutuhkan pujian, tetapi juga pendidikan. Tidak hanya penghormatan simbolis, tetapi juga perlindungan hukum. Tidak hanya kesempatan bekerja, tetapi juga upah yang adil. Tidak hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga hak untuk didengar. Tidak hanya diminta kuat, tetapi juga diberikan lingkungan yang aman untuk bertumbuh.

Inilah perubahan yang harus diwujudkan. Perempuan tidak boleh hanya menjadi tenaga yang mempertahankan peradaban. Mereka harus menjadi pemikir, pendidik, pengambil keputusan, pemimpin, serta pencipta arah peradaban.

Perempuan Melahirkan Masa Depan
Satī mengingatkan pentingnya cinta dan martabat. Śakuntalā memperlihatkan keteguhan menjaga masa depan anak. Draupadī mengajarkan keberanian menuntut keadilan. Sāvitrī menunjukkan cinta yang disertai kecerdasan dan keteguhan. Sītā memperlihatkan ketahanan batin dan kedaulatan diri.

Cut Nyak Dhien mengubah kehilangan menjadi keberanian membela tanah air. Kartini mengubah kegelisahan menjadi cahaya pemikiran. Dewi Sartika mengubah kepedulian menjadi pendidikan.

Marsinah mengubah suara seorang buruh menjadi suara keadilan pekerja. Para pekerja migran perempuan Indonesia mengubah kerinduan, tenaga, dan waktu menjadi harapan serta kesejahteraan keluarga.

Mereka hidup dalam zaman, kebudayaan, agama, dan keadaan berbeda. Namun terdapat satu kekuatan yang mempertemukan mereka: cinta yang tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi menjelma menjadi keberanian, pengetahuan, perjuangan, dan tindakan. Jalan mereka tidak selalu mulus.

Mereka dapat menangis ketika kehilangan orang yang dicintai. Mereka dapat menangis ketika martabatnya direndahkan. Mereka dapat menangis ketika meninggalkan anak dan keluarga untuk bekerja di negeri seberang. Namun air mata bukan akhir perjalanan.

Uttiṣṭha—bangkitlah. Bangkitlah setelah menangis. Bangkitlah tanpa kehilangan kasih. Bangkitlah tanpa menyerahkan martabat. Bangkitlah untuk menjaga keluarga.
Bangkitlah untuk menegakkan keadilan. Bangkitlah untuk menghadirkan maṅgala bagi dunia.

Peradaban Dharma tidak akan lahir hanya dari gedung tinggi, kekayaan, teknologi, dan kekuasaan. Ia lahir ketika manusia mengubah kesadaran menjadi kasih, kasih menjadi keberanian, dan keberanian menjadi tindakan yang menyejahterakan kehidupan.

Di dalam perjalanan tersebut, perempuan bukan sekadar saksi sejarah. Perempuan adalah Śakti yang membangun sejarah. Perempuan tidak hanya melahirkan kehidupan. Perempuan melahirkan masa depan dan membangun Peradaban Dharma. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.