Perekonomian Kota Singaraja Deflasi Hingga 0,36 Persen

  • Whatsapp
ASISTEN II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng selaku Sekretaris TPID Buleleng, Ni Made Rousmini. Foto: rik
ASISTEN II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng selaku Sekretaris TPID Buleleng, Ni Made Rousmini. Foto: rik

BULELENG – Kondisi perekonomian di Kota Singaraja cenderung mengalami deflasi (penurunan harga komoditas) dirundung pandemi Covid-19 atau Corona. Penyebab deflasi yakni daya beli masyarakat menurun. Berdasarkan data yang diperoleh dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Buleleng, deflasi di Kota Singaraja pada April mencapai 0,36 persen.

Dari informasi yang dihimpun, penyumbang andil deflasi ada di kelompok pengeluaran makanan dan minuman yang mencapai angka 0,73. Selain itu ada kelompok lain yang menyumbang deflasi. Misalnya perlengkapan rumah tangga dan juga informasi komunikasi.

Bacaan Lainnya

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng selaku Sekretaris TPID Buleleng, Ni Made Rousmini, mengatakan, pengumpulan data penghitungan ini berbeda dari biasanya. Sebab, mengikuti imbauan dari pemerintah dalam hal pencegahan penyebaran Covid-19. “Ada beberapa kedalaman teknis tertentu angka inflasi tidak dapat disamakan dengan cara perhitungan yang dilakukan sebelum merebaknya Covid-19,” katanya, Selasa (5/5/2020).

Ketidaksamaan perhitungan, sebutnya, karena perilaku konsumen dan pedagang dalam menetapkan harga tidak seperti biasanya. Namun, secara statistik estimasi, angka inflasi masih dapat dipertanggungjawabkan. Kata Rousmini, komoditas penyumbang deflasi di Kota Singaraja yakni bahan makanan. “Penyumbang deflasi terbesar ada pada cabai merah yang mencapai 0,16 persen, daging ayam ras 0,15 persen, telur ayam 0,06 persen, pisang 0,04 persen, tauge atau kecambah 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, daging babi 0,03 persen, dan ikan teri 0,02 persen,” bebernya.

Baca juga :  Polri: Liga 1 dan 2 Indonesia mungkin bisa Digelar 2021

Rousmini tidak menampik penyebab deflasi akibat dampak Covid-19. Dia memperkirakan daya beli menurun karena penghasilan masyarakat juga menurun. Banyak masyarakat kini diberhentikan atau dirumahkan untuk sementara waktu dari pekerjaannya, jadi penghasilan mereka menurun, bahkan nyaris tidak ada. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.