POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Denpasar menggelar tatap muka dan dialog kerukunan antar paguyuban se-Kota Denpasar, Sabtu (23/8/2025). Kali ini, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Denpasar dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggara.
Acara dihadiri Pengurus Inti Bali dan Dewan Pakar Inti Bali, Prof. Anastasia Sulistyawati, dan Perhimpunan Perempuan Indonesia Tionghoa. Juga dihadiri oleh etnis Ikawangi, Jatim, IKMS, Bamus, Bugis, Banyumasan, Bali, Kepala Badan Kesbangpol Kota Denpasar, A.A. Ngurah Gede Darma Putra; dan pengurus FPK Kota Denpasar.
‘’Sebuah kehormatan bagi kami, Inti Denpasar dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan tatap muka dan dialog kerukunan antar paguyuban se-Kota Denpasar. Sesuai dengan semboyan Kota Denpasar; Vasudhaiva Kutumbakam (Kita Semua Bersaudara), acara ini sangatlah positif guna makin menumbuhkan serta merawat keharmonisan dan kebersamaan warga Denpasar dari berbagai etnis, adat dan budaya,’’ kata Ketua PC Inti Kota Denpasar, Tantra Wiguna; dan Sekretaris Hadi Saputra.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Denpasar, A.A. Ngurah Gede Darma Putra, dalam sambutannya memberikan apresiasi dan penghargaan atas terlaksananya kegiatan tatap muka dan dijadikan acara dialog untuk mendeteksi dini terhadap persoalan. Tidak hanya keamanan dan ketertiban di Kota Denpasar tetapi juga menjalin persaudaraan melalui seni dan budaya masing-masing etnis.
‘’Kesbangpol Kota Denpasar akan memfasilitasi kegiatan pagelaran pembauran kebangsaan yang akan dilaksanakan oleh FPK Kota Denpasar untuk mempererat kebhinekaan yang di tahun ini akan diselenggarakan bulan Oktober dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda,’’ kata Agung Darma Putra.
Ketua FPK Kota Denpasar, I Made Arka, menyampaikan bahwa silaturahmi antar etnis/paguyuban penting dilaksanakan agar mempererat persaudaraan dan bisa mengkomunikasikan persoalan yang dihadapi. Selanjutnya persoalan yang dihadapi akan disampaikan ke Wali Kota Denpasar dengan harapan dapat difasilitasi untuk kemanfaatan bersama.
Pembina Inti Bali, Romo Sudiarta Indrajaya, mengajak semua etnis agar menciptakan suasana damai serta saling memaafkan. Ia turut berbagi menyampaikan 3 hal untuk tetap merawat kerukunan, yaitu budaya hati-hati berbicara, bersedia meminta maaf jika salah, dan memaafkan bila orang lain bersalah, serta bersikap sabar.
Dewan Pakar Inti, Prof. Sulistyawati, menambahkan tentang sikap positif selalu mengambil kelebihan dari masing-masing etnis, suku, ras yang ada di Indonesia untuk memperkaya dan mengembangkan diri sendiri menjadi lebih baik. Seperti contoh belajar survive dari saudara-saudara asal Jawa yang merantau. Berikutnya, belajar ulet, kerja keras, jujur dalam berbisnis dari rekan-rekan Tionghoa, lalu belajar seni dan berkesenian dari orang Bali. ‘’Tentu masing-masing etnis, ras, suku memiliki kelebihan yang dapat dipelajari,’’ ujarnya.
‘’Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung,’’ imbuh Haji Fery Hendry dari IKMS.
‘’Kesenian bisa jadi wahana yang menyatukan perbedaan etnis, ras, suku, adat dan budaya sehingga pagelaran pembauran kebangsaan bisa diteruskan,’’ sambung Antok dari paguyuban Jatim. Sementara Bamus dan Ikawangi siap mendukung acara pagelaran kebangsaan. tra























