JEMBARANA – Rangkaian HUT ke-127 Kota Negara disuguhkan drama gong Calonarang di Panggung Terbuka Pura Jagatnata Jembrana, Kamis (18/8/2022) malam.
Yang menarik, pertunjukan kesenian tradisonal yang heroik dan juga sakral ini dimainkan oleh para seniman muda yang rata-rata masih mengeyam pendidikan dasar dan menengah. Mereka berasal dari Desa Yehkuning, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana.
Meskipun para pregina (pemain) yang tampil merupakan anak-anak muda yang masih bersekolah, namun mampu tampil dengan memukau dan mampu membius ribuan penonton yang sejak pukul 21.00 Wita mendatangi area pertunjukan.
Gelak tawa penonton semakin terdengar dan penonton merasa terhibur meski harus berjubel di Panggung Terbuka Pura Jagatnata hingga layar yang ada di luar panggung terbuka Pura Jagatnatha.
Begitu juga adegan demi adegan diperankan mampu membius penonton, bahkan pada saat adegan Calonarang dengan dengan watangan matah (orang mati) dan Dewa Ayu Mas Rangda (Rangda) metebek ini membuat seluruh para penonton tercengang dan tegang.
Bahkan, terlihat Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, dan para pejabat lingkup Pemkab Jembrana yang berbaur dengan ribuan masyarakat yang memadati terbuka Pura Jagatnata tegang saat menyaksikan adegan Calonarang tersebut.
Ketua Drama Gong Darma Sanggraha Budaya Desa Yehkuning, I Made Suiarjana, mengungkapkan, merasa bangga terhadap remaja Desa Yehkuning, begitu juga para sekaa drama ini meskipun anggotanya rata-rata anak sekolah mulai dari SMP dan SMA, mahasiswa, tetap mau diajak untuk berkarya guna mempertahankan budaya Bali, terutama seni drama gong yang sudah mulai ditinggalkan ini.
“Pementasan ini kita ambil judul “Kembang Taru Ragas”, bahkan ceritanya ini konon sering dipentaskan saat jaya-jayanya drama gong Darma Sanggraha sejak tahun 1976. Bahkan, pada zamanya itu sudah melanglang buana hingga ke plosok-plosok Pulau Bali,” ucapnya.
”Pemain kami ini saat pementasan sudah generasi ketiga dan pementasan drama gong memang rutin dilaksanakan ketika piodalan di Pura Dalem Yehkuning yakni saat Pagerwesi, sehingga yang namanya kesenian drama gong di desa kami tetep ada,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Suiarjana mengatakan, dalam cerita “Kembang Taru Ragas” ini, diceritakan ada tiga kerajaan yakni Karang Tanggul, Tasik Kencana dan Segaramadu.
Saat Raja Karang Tanggul yang terkenal dengan ilmu hitamnya ditolak hendak meminang putri dari kerajaan Tasik Kencana yang memang sudah dijodohkan dengan putra dari kerajaan Segaramadu membuat kerajaan Segaramadu dan Tasik Kencana grubug (terjangkit wabah penyakit).
Dengan adanya grubug tersebut membuat dua kerajaan tersebut mencari tahu penyebab grubug tersebut dan diketahui dilakukan oleh kerajaan Karang Tanggul. Akhirnya terjadi peperangan hingga Raja Karang Tanggul nyuti rupa (berubah menjadi rangda).
“Setahu saya cerita ini sudah sering sebenarnya dibawakan oleh pendahulu kita. Namun karena cerita ini sangat berat memerlukan spiritual tinggi sehingga temen-temen pemeran semua masih bau kencur dipandu langsung dan libatkan pemain senior (generasi kedua) terutama diadegan Calonarang tersebut. Bahkan kita juga menggunakan pemain pengganti,’’ pungkasnya. man























