BANGLI – Kecamatan Susut, Bangli merupakan salah satu sentra kerajinan gedek di Bali. Namun, belakangan ini banyak perajin beralih pekerjaan akibat lesunya pemasaran maupun minat masyarakat memakai bahan anyaman bambu tersebut. Pekerjanya lebih memilih jadi kuli bangunan maupun kerja serabutan untuk bertahan hidup di tengah kondisi lesu ekonomi sekarang ini.
Di Banjar Cekeng, Desa Sulahan, Susut sekitar 7-8 tahun lalu, hampir setiap kepala keluarga di banjar ini menggantungkan mata pencarian mereka dari menganyam gedek. Sekarang dari 50 perajin, yang bertahan tidak lebih dari lima orang. “Perajin di sini banyak yang beralih pekerjaan. Kerajinan gedek tidak lagi bisa memberi penghasilan yang memadai bagi kehidupan warga kami,” tutur Wayan Nyepeg, salah seorang warga, ditemui pada Minggu (13/12/2020).
Kata dia, di Kecamatan Susut banyak perajin gedek seperti Banjar Seribatu, Kayuambua, Kembang Merta yang sekarang banting setir jadi kuli bangunan karena lebih menjanjikan dapur mereka bisa mengebul. Sebagai buruh, mereka bisa mendapat penghasilan Rp110 ribu per hari. Kalau menjadi perajin gedek, paling-paling mendapat di bawah Rp50 ribu. Selain itu, proses pembuatan gedek makan waktu lama. “Kalau dihitung-hitung dari proses menebang hingga menjadi gedek, warga kami mendapatkan hasil 60 ribu sehari,” ulasnya.
Kualitas dan motif gedek buatan warganya, ungkap Nyepeg, tidak sama dengan gedek di Kayuambua. Gedeg buatan warga Cekeng kualitasnya lebih bagus dan motif sangat beragam. Per meternya dijual sekitar Rp60 ribu. “Tapi pemasaran sekarang lesu, apalagi kondisi seperti sekarang, makanya kesinambungan perajin gedek di sini mulai terancam,” keluhnya. gia
























