Pelanggan PDAM Bangli Keluhkan Denda Terlalu Tinggi

  • Whatsapp
DIREKTUR PDAM Bangli, I Dewa Gede Ratno Suparso Mesi. Foto: gia
DIREKTUR PDAM Bangli, I Dewa Gede Ratno Suparso Mesi. Foto: gia

BANGLI – Penjatuhan denda bagi pelanggan PDAM Bangli yang menunggak pembayaran, dinilai bukan merupakan suatu kebijakan baru. Keputusan itu menjadi kebijakan sejak PDAM Bangli didirikan, dengan tujuan memaksimalkan efisiensi penagihan guna membiayai operasional perusahaan. Hal ini disampaikan Direktur PDAM Bangli, I Dewa Gede Ratno Suparso Mesi, Minggu (20/12/2020) menanggapi banyaknya keluhan masyarakat terkait sanksi denda.

Menurutnya, aturan tersebut tidak dilaksanakan secara konsisten pada era kepemimpinan sebelumnya. Dampaknya, sesuai laporan tahun buku 2019, PDAM justru memiliki piutang usaha melebihi pendapatan perusahaan sebulan senilai Rp2,4 miliar. Piutang ini diakibatkan sekitar 5 persen pelanggan tidak disiplin memenuhi kewajiban. Kebanyakan umur piutang masing-masing pelanggan lebih dari empat bulan, bahkan ada yang sampai tiga tahun ke atas.

Bacaan Lainnya

“Hal ini yang mengharuskan kami dari manajemen bertindak tegas sesuai aturan, agar [perusahaan tidak mengalami gangguan operasional dalam memberi pelayanan kepada masyarakat,” lugasnya.

Dia menyebut ada toleransi diberikan pada masa pandemi Covid-19 ini, dengan penegakkan aturan tersebut dimulai dari Oktober 2020. Tunggakan sebelum bulan Oktober telah dihapus sanksi dendanya. Pengenaan denda sekarang, jelasnya, sudah terintegrasi dalam aplikasi sistem keuangan yang berbasis TI. Dengan demikian, manajemen tidak bisa lagi memberi kebijakan apa pun atas sanksi tersebut selain hanya melaksanakan saja.

Baca juga :  Ketua LPD Kalianget Tersangka Korupsi

“Tetapi mengingat kondisi pandemi yang masih terjadi, kami dari manajemen tidak melakukan penyegelan dan pencabutan secara fisik atas instalasi pelanggan yang belum menyelesaikan kewajiban pembayaran,” jelasnya.

Tidak ada pencabutan itu, sambungnya, untuk menjawab keraguan masyarakat atas denda yang dipungut. Denda itu, jelasnya, semua tercatat dan dibukukan di catatan pendapatan PDAM. Meski mengaku bisa memaklumi banyak keluhan atas sikap tegas manajemen itu, dia berharap pelanggan memahami tindakan tersebut karena ada sebagian kecil pelanggan tidak mau disiplin membayar air yang digunakan. Pun agar tidak menimbulkan rasa tidak adil pada pelanggan yang disiplin melaksanakan kewajiban.

“Denda bukan target pendapatan kami, yang artinya seluruh pelanggan memenuhi kewajiban sebelum tanggal 21 pada bulan tagihan. Jadi, rasio kami atas pendapatan menjadi 100 persen,” ucapnya. 

Menanggapi ada keluhan pelanggan yang hanya membayar “angin” karena air tidak lancar, dia mengakui kondisi tersebut akan terjadi ketika ada gangguan dan perbaikan. Pun akibat sumber air PDAM dari sumber mata air permukaan dengan sistem gravitasi, sehingga tidak bisa dihitung secara pasti debit air yang keluar secara fluktuatif. Yang jelas, sambungnya, tidak akan terus-terusan keluar angin.

Disinggung kemungkinan ada keringanan kepada konsumen yang kerap dapat “angin” itu, dia menjawab tidak bisa. Pertimbangannya, jika si A mengaku di tempatnya keluar angin, bisa saja si B juga mengaku hal yang sama. Jika memang angin yang keluar, dia mengimbau cepat ditutup kerannya. Yang tidak menggunakan air PDAM ya tidak bayar. “Pada air macet, meteran pelanggan kan tidak muter,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.