Konflik Berdarah Antar-Keluarga di Songan, Kintamani, Dua Korban Dirawat Intensif, Tersangka Mendekam di Polres Bangli

  • Whatsapp
SALAH seorang korban penebasan di Desa Songan saat dirawat di RSUD Bangli. Foto: gia
SALAH seorang korban penebasan di Desa Songan saat dirawat di RSUD Bangli. Foto: gia

BANGLI – Peristiwa berdarah yang menyebabkan dua bersaudara asal Banjar Bantas, Desa Songan A, Kintamani, Bangli terkapar akibat ditebas dengan pedang, menemukan titik terang. Satreskrim Polres Bangli menahan Wayan Adi Susanto (22), warga Banjar Hulun Danu, Desa Songan A yang juga sepupu korban, sebagai tersangka. Kedua korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUP Sanglah.

“Dari hasil interogasi dan lidik kami, yang melakukan penganiayaan hanya satu orang, yakni anak dari paman korban. Karena itu, bapak pelaku, Ketut Sendili (53), yang sebelumnya sempat dimintai keterangan, kini dipulangkan,” kata Kasatreskrim Polres Bangli, AKP Androyuan Elim, Minggu (20/12/2020).

Bacaan Lainnya

Saat diinterogasi, tersangka Adi Susanto mengaku kalap lantaran tak tega melihat ayahnya tergeletak di bawah. Saya tak tega lihat bapak tergeletak, jadi saya langsung ambil pedang milik saya sendiri, lalu menyerang mereka,” katanya saat memberi keterangan di kepolisian. Tersangka mengaku tidak tahu apa masalah antara bapaknya dengan kedua korban. Penebasan itu murni spontanitas karena ingin melindungi bapaknya menghadapi kedua korban. 

Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryana, Minggu (20/12/2020) memaparkan, kejadian berawal pada Jumat siang, Sudiatmika dan Anjasmara mendatangi gudang bawang milik Ketut Sendili (53) di Banjar Ulun Danu. Sendili merupakan ayah tersangka Adi Santosa yang juga paman kedua korban itu. Namun, saat itu kedua korban tidak bertemu dengan Sendili, hanya bertemu Adi Santosa. Sempat pulang, sekitar pukul 17.00 kedua korban datang kembali ke rumah Sendili.

Baca juga :  Pengkot TI Denpasar - Pengprov KBI Bali Berkolaborasi Latihan Bareng

Karena ada persoalan sebelumnya, paman dan keponakan itu terlibat adu mulut. Melihat percekcokan itu, tak disangka Adi Santosa datang dengan membawa pedang, dan langsung menyerang korban. Sudiatmika mengalami luka robek di perut sampai usus terburai, sedangkan Anjasmara luka di lengan dan luka punggung hingga tembus ke dada. Kedua korban lalu dilarikan ke RSU Bangli guna mendapat penanganan insentif.

“Menerima laporan adanya kasus penganiayaan itu, anggota mengambil langkah mengamankan tersangka Adi Santosa dan barang bukti pedang ke Polres Bangli. Kami masih masih mendalami kasus ini dengan minta ketarangan dari  lima saksi, dan Adi Santosa ditetapkan sebagai tersangka,” jelasnya.

Adi Santosa yang  berstatus  mahasiswa ini dijerat pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Disinggung motif peristiwa itu, Kapolres menyebut kemungkinan karena dendam lama. Sebab, 25 tahun lalu Ketut Sendili diduga pernah meracuni ayam milik orangtua kedua korban.

Sebelumnya, didampingi Nyoman Arsana selaku Direktur RSUD Bangli, dr. Indra yang bertugas di IRD menjelaskan, Sudiatmika diantar keluarganya pada pukul 17.30 dalam keadaan tidak sadar dengan luka usus terburai. Setelah ditangani, kondisinya membaik dan sudah sadarkan diri. Setelah negosiasi dengan pihak keluarga, korban dirujuk ke RSUP Sanglah pada pukul 18.05 dengan memakai ambulans RSUD Bangli.

Sedangkan Anjasmara merupakan rujukan dari Puskesmas V Kintamani di Desa Songan, datang pukul 17.45 dengan kondisi sadar, luka tusuk di punggung belakang tembus ke dada sampai mengalami sesak napas berat. “Lukanya di punggung bagian kanan tembus ke dada,” jelasnya. Korban kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapat penanganan lebih lanjut. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.