“Patih Agung” Drama Gong Bali Berpulang

Almarhum I Wayan Sugita. Foto: ist
Almarhum I Wayan Sugita. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Panggung seni drama gong Bali seolah meredup. Dunia seni pertunjukan dan pendidikan Hindu di Bali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pragina drama gong legendaris sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si, tutup usia pada Rabu (7/1/2026).

Kepergian sosok yang begitu lekat dengan peran “Patih Agung” ini meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seniman, akademisi, dan masyarakat Bali yang tumbuh bersama karya-karyanya. Di atas panggung drama gong, Sugita dikenal karismatik, tegas, sekaligus hidup—membuat tokoh antagonis menjadi begitu ikonik dan membekas di ingatan penonton lintas generasi.

Bacaan Lainnya

Lahir di Banjar Bukit Batu, Samplangan, Gianyar, 8 Mei 1965, I Wayan Sugita membuktikan bahwa kecintaan dan ketekunan mampu mengalahkan keterbatasan. Tanpa menempuh pendidikan seni secara formal, dia justru menjelma menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah drama gong Bali.

Namanya mulai bersinar pada 1984, saat meraih Juara Pemeran Pria Utama Terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Pada tahun yang sama, dia tampil bersama Sekaa Drama Gong Saraswati mewakili Gianyar di Pesta Kesenian Bali (PKB) dan sukses meraih Juara II.

Dari panggung ke panggung, jejaknya kian kokoh. Sugita kemudian mendirikan Panjamu Asrama, wadah bagi para seniman muda berbakat, yang menjadi tonggak penting perjalanan profesionalnya. Perannya sebagai Patih Agung menjadikannya simbol antagonis yang justru dicintai penonton.

Da juga dikenal sebagai pembina ulung berbagai sekaa ternama, seperti Wira Bhuana, Kerthi Bhuana, Bintang Remaja Gianyar, hingga Bandana Budaya. Bersama Bintang Remaja Gianyar, Sugita mempersembahkan Juara I PKB 1993. Setahun berselang, Bandana Budaya diantar meraih Juara II PKB 1994, dan puncaknya membina duta drama gong Kota Denpasar hingga merebut Juara I PKB 1995.

Tak hanya mengabdi di dunia seni, almarhum juga mendedikasikan hidupnya di jalur akademik. Sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Sugita menjadi teladan bagi mahasiswa—mengajarkan seni, nilai, dan etika kehidupan. Pengabdiannya diakui negara saat ia dikukuhkan sebagai Profesor, berdasarkan SK Kementerian Agama RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang diserahkan pada 11 Oktober 2023.

Kini, sang Patih Agung telah pamit. Namun lakon hidup, keteladanan, dan dedikasinya akan terus hidup di panggung-panggung Bali, di ruang-ruang kelas, serta di hati mereka yang pernah disentuh ilmunya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses