POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Pascapohon tumbang di objek wisata Monkey Forest Ubud, Desa Adat Padangtegal akan menggelar upacara pembersihan secara niskala. Bendesa Adat Padangtegal, I Made Parmita, Rabu (11/12/2024) menjelaskan, selama ini desa adat rutin melangsungkan upacara atau ritual untuk penghuni Monkey Forest Ubud. Baik untuk satwa berupa monyet maupun tumbuhan yang membentuk hutan Monkey Forest.
Upacara dilakukan saat Tumpek Kandang yang dikhususkan untuk binatang. Dalam ritual ini, monyet di Monkey Forest diberi suguhan yang sebelumnya disucikan oleh jero mangku. Hal itu agar hewan-hewan di Monkey Forest terlindungi secara sekala maupun niskala. Upacara untuk tumbuh-tumbuhan dilakukan saat Tumpek Uduh.
Khusus terkait musibah pohon tumbang, dia menyebut akan ada tambahan upacara. Ada penglukatan (pembersihan secara spiritual) bagi semua staf, diawali dengan mecaru atau pembersihan. Sebelumnya juga dilakukan prayascita di lokasi kejadian.
“Kamis tanggal 12 Desember akan pecaruan kecil di tempat kejadian. Tanggal 14 Desember kami pusatkan di Pura Wana untuk pecaruan juga dipimpin sulinggih (pendeta). Upacaranya memang cukup besar,” ujarnya.
Di kesempatan lain, Sekda Gianyar, Dewa Alit Mudiartha, mengatakan, meskipun Monkey Forest Ubud merupakan destinasi pariwisata yang dikelola Desa Adat Padangtegal, Ubud, tapi Pemkab Gianyar tetap memberi perhatian ada masalah. Sekda Mudiarta mendatangi TKP tewasnya turis di Monkey Forest Ubud, Rabu (11/12/2024) pagi.
Dia datang bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Kepala BPBD Gianyar dan sebagainya. Sekda menyatakan ikut bertanggung jawab terhadap musibah ini, dan memastikan kewajiban yang harus diterima para korban terpenuhi. Dia pun minta pengelola Monkey Forest Ubud dan objek wisata lainnya di Gianyar, yang menjadikan alam sebagai bagian dari objeknya, supaya melakukan pemangkasan pohon besar saat cuaca ekstrem. Tujuannya supaya tidak terjadi insiden serupa lagi.
“Kami bersama Dinas Pariwisata sudah ambil langkah dalam cuaca ekstrem ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ada pemangkasan pohon yang rawan, kami antisipasi dengan BPBD. Pemkab Gianyar mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada korban. Penanganan korban, kami bertanggung jawab,” tegasnya.
Manajer Umum Monkey Forest, Anak Agung Bagus Bhaskara, menambahkan, selama ini semua pohon di Monkey Forest dirawat dengan baik. Bahkan pohon beringin yang tumbang tersebut sebelumnya dinyatakan sehat. Namun, saat kejadian, tiba-tiba angin berembus sangat kencang, yang membuat pohon beringin tumbang. “Terkait kejadian kemarin, para korban langsung dibawa ke rumah sakit pakai ambulans sini. Semua biaya korban ditanggung asuransi, kami kerja sama dengan Jasa Raharja plafon dari Rp100 juta sampai Rp1 miliar,” terangnya.
Ditanya terkait kondisi korban, Bhaskara bilang para korban hidup sudah mendapat perawatan terbaik di rumah sakit di Ubud. Ada satu bengkak di kaki, satu lagi luka kecil. Untuk korban yang meninggal, dia menyebut masih menunggu pihak keluarga.
“Kabar dari Pak Sekda, dua hari lagi keluarga dari Korea tiba. Kami ikut mengurus kedatangannya,” ungkap Bhaskara.
Sebelum musibah terjadi, dia mendaku memberi imbauan kepada pengunjung karena cuaca sangat ekstrem. Namun, mereka menyebut ingin merasakan suasana hutan hujan tropis. “Sejak awal, ketika ada tamu berkunjung, kami tanyakan ke pengunjung ini cuaca lagi tidak baik, kami dalam pengawasan kondisi terbuka. Imbauan kami berikan di loket tiket. Beberapa tamu kadang ingin merasakan hutan hujan tropis, suasana alami,” tandasnya. adi
























