Parmas Pilkada Badung Termasuk Mengejutkan, Abiansemal Tertinggi, Kutsel Terendah

ARTANA Dana (kiri) bersama Nur Sodiq dalam riung media di Bongkasa, Rabu (17/3/2021). Foto: hen
ARTANA Dana (kiri) bersama Nur Sodiq dalam riung media di Bongkasa, Rabu (17/3/2021). Foto: hen

MANGUPURA – Pesimisme rendahnya tingkat partisipasi masyarakat (parmas) di Pilkada Badung 2020 ternyata menunjukkan sebaliknya. Meski hanya diikuti paslon Giri Prasta-Ketut Suiasa (Giriasa) sebagai paslon tunggal, data menunjukkan parmas Badung mencapai 84,62 persen dan tertinggi di Bali.

“Capaian partisipasi masyarakat ini tertinggi dari tiga pilkada, dan sangat mengejutkan kami,” kata komisioner KPU Badung, I Wayan Artana Dana, saat gathering (riung) media di Bongkasa, Badung, Rabu (17/3/2021).

Bacaan Lainnya

Melejitnya tingkat parmas tersebut, sebutnya, tidak bisa dilepaskan berkat bantuan media massa yang menggaungkan tentang tahapan Pilkada Badung itu. Dengan gencarnya pemberitaan media, kata dia, tumbuh kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilih mereka.

“Ada imaji di masyarakat bahwa karena calon tunggal, lebih baik mereka di rumah karena waktu itu sedang pandemi. Tapi berkat motivasi media bahwa ke TPS aman, maka partisipasi masyarakat meningkat. Bahkan melampaui target nasional yang 75 persen,” terang komisioner Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM tersebut.

Berdasarkan data di KPU Badung, parmas pada Pilkada 2005 sebesar 82,11 persen, tahun 2010 sebesar 73,92 persen dan hanya 68,34 persen pada Pilkada 2015.

Komisioner Nur Sodiq menambahkan, parmas dengan kontestasi antara paslon dan kolom kosong justru meningkat saat dilangsungkan di tengah pandemi Covid-19. Meski hasil itu menggembirakan, dia menilai tantangan KPU Badung menatap Pemilu dan Pilkada 2024 mendatang lebih besar karena lebih kompleks. Melapangkan tahapan yang akan dijalankan, dia menyatakan perlu peran serta media untuk menyosialisasikan dua pesta demokrasi nasional itu.

“Partisipasi masyarakat di Pilkada 2020 itu di luar angan-angan kami. Selain itu, penegakan hukum pemilu juga cukup berhasil dengan pelanggaran atau sengketa administrasi dan hasil nihil. Pelanggaran pidana pemilu terkait etika dan administrasi juga nihil, dan ini semua berkat kerja badan adhoc,” ungkapnya.

Artana Dana berujar kembali, tingkat parmas paling rendah ada di Kuta Selatan karena masyarakat di wilayah itu banyak pendatang. Mereka memiliki KTP di sana, tapi setelah itu mereka pindah entah ke mana. Kondisi itu menyebabkan data kependudukan “terlihat” tinggi tapi parmasnya rendah. Parmas di Petang sebesar 93,13 persen, Abiansemal (94,14 persen), Mengwi (93,81 persen), Kuta Utara (78,39 persen), Kuta (75,68 persen) dan Kuta Selatan (69,4 persen).

“Kami akan melakukan riset untuk meneliti mengapa parmas ini tinggi meski hanya paslon tunggal. Kami akan mengajak salah satu perguruan tinggi di Bali untuk risetnya,” kata dia menandaskan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses