Padi Siap Panen di Selat, Karangasem Diserang Hama Belalang

  • Whatsapp
SEORANG petani berada di lahan pertanian yang diserang hama belalang. Di wilayah Selat, Karangasem, serangan hama belalang menjadi momok petani. Hama ini kerap menyebabkan terjadinya gagal panen. Foto: nad
SEORANG petani berada di lahan pertanian yang diserang hama belalang. Di wilayah Selat, Karangasem, serangan hama belalang menjadi momok petani. Hama ini kerap menyebabkan terjadinya gagal panen. Foto: nad

KARANGASEM – Para petani di wilayah Selat, Karangasem mulai tidak enak tidur sejak terjadi perubahan cuaca belakangan ini. Tanaman padi mereka yang sejatinya siap panen, kini diserang hama belalang. Kondisi ini menyusul lara petani cabai di Sidemen dan Rendang yang tanamannya juga dirusak hama.

I Nengah Sudiana (75), petani di Subak Belong, Banjar Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, ditemui pada Jumat (20/11/2020) menuturkan, sebenarnya padi di lahannya akan dipanen selambatnya 15 hari lagi. Namun, apa daya ribuan walang sangit (belalang) keburu datang menyerbu tanaman padi petani. Hamparan padi jadi rusak karena kencing walang sangit disebut berbahaya untuk tanaman. “Kerusakan cukup parah, saya selaku petani terancam merugi,” keluhnya. 

Bacaan Lainnya

Sudiana menyebut berupaya mengusir dan memusnahkan binatang pengganggu itu dengan menyemprotkan insektisida. Tidak hanya sekali, melainkan sampai dua kali. Alih-alih berhasil membuat hama mereda, ribuan walang sangit itu tidak mati, justru kian ganas.

“Dengan kondisi padi rusak, ini juga berdampak kesulitan mencari sekaa manyi (kelompok pemanen padi). Tukang panen juga akan rugi dengan kualitas padinya, karena pastinya mereka tidak mau memanen padi puyung (kosong),” cetusnya dengan nada lesu. 

Baca juga :  Serentak, Pemkot Denpasar Serahkan BLT di Empat Kecamatan

Tinimbang rugi besar, Sudiana mendaku akan tetap berusaha memanen padi yang ada meski dibayang-bayangi kerugian. Sawah yang dia kelola juga terlambat panen dibanding lahan petani lain di subak yang sama. Ini terjadi karena faktor pembagian air yang kadang-kadang juga sulit diperoleh.

“Yang lainnya harus tanam belakangan agar air bisa bergilir. Karena itu yang lain ada yang tanam jagung dulu, baru setelah panen jagung lahan ditanami padi,” ulasnya.

Untuk ketersediaan pupuk, dia berkata sejauh ini cukup tersedia di subak. Saluran irigasi subak juga cukup bagus meski sumber airnya tergolong kecil.

Sebelum kena hama walang sangit, imbuhnya, tanaman padi mereka juga diserang candang bawang. Padi yang dihinggapi penyakit ini mati di bagian akar, tumbuhnya kerdil, dan tidak mau berbuah.

Serangan terjadi setelah satu bulan musim tanam, dengan yang diserang batang dan daun padi. Hanya, saat itu petani berhasil mengatasi dengan penyemprotan pestisida. “Tapi kali ini serangan walang sangit benar-benar fatal, padi jadi puyung,” katanya menandaskan. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.