DENPASAR – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP PGRI Kota Denpasar menggelar workshop mengambil tema “Guruku Idolaku” pada Sabtu (29/1/2022) di SMP PGRI 8 Denpasar. Agenda workshop dibuka Kadisdikpora Kota Denpasar, Drs. AA Gede Wiratama, M.Ag., menghadirkan pembicara Wakil Rektor II Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd.
Acara dihadiri Ketua PGRI Kota Denpasar, Drs. I Ketut Suarya, M.Pd.; Ketua MKKS SMP Kota Denpasar, I Wayan Murdana, S.Pd., M.Psi.; Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana, MM., dan Ketua YPLP PGRI Provinsi Bali, Dr. I Made Suada, MM., M.Si., serta kepala SMP PGRI se-Kota Denpasar. Acara berlangsung dengan prokes yang ketat.
Ketua MKSS SMP PGRI Kota Denpasar, I Ketut Gede Adi Trisna Sugara, ST., M.Pd., mengatakan, workshop diikuti 99 peserta masing-masing 11 MGMP dari 9 SMP PGRI se-Kota Denpasar. Agenda workshop sekaligus pengenalan Kurikulum Prototipe yang menititik beratkan pada guruku idolaku.
Menurut Sugara, di era kekinian guru dalam mengajar, mendidik dan membina siswa dituntut bisa menginspirasi menjadi idola di hati siswa. Kalau sudah guru itu menjadi idola siswa, tentu siswa akan enjoy dalam belajar. Bila dalam mengajar timbul kedekatan dengan peserta didik, maka kehadiran guru pasti akan selalu dinantikan dan ini yang dikatakan sebagai guruku idolaku.
Hal senada juga dikatakan, Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar, I Nengah Madiadnyana. Menurut Madiadnyana, para guru jangan menjadi guru di mata siswa, tapi jadilah guru di hati siswa. Artinya tanpa kehadiran guru, siswanya tetap disiplin dan kehadirannya selalu dinantikan dan dirindukan oleh murid-muridnya.
Kadisdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, mengatakan, guru yang baik adalah guru yang mengajar muridnya dengan hati. Seorang guru tidak hanya mengajari ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Tapi juga mendidik mereka. Seorang guru harus bisa menciptakan suasana kelas yang kondusif, afektif dan tentunya menyenangkan. Selebihnya siswa yang bertugas untuk menggali dan mengembangkan bakat serta kreativitasnya.
Pola inilah, kata Agung Wiratama, ditemukan pada penerapan Kurikulum Prototipe. Salah satu karakteristik Kurikulum Prototipe adalah menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk mendukung pengembangan karakter sesuai dengan profil pelajaran Pancasila.
Pembelajaran berbasis proyek inilah dianggap penting untuk pengembangan karakter siswa karena memberikan kesempatan siswa untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning). Mulai tahun ini, kata Agung Wiratama, satuan pendidikan yang tidak termasuk sekolah penggerak pun diberikan opsi untuk dapat menerapkan Kurikulum Prototipe.
Pembicara Wakil Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, menegaskan, kurikulum tidak merupakan kitab suci dan harus dinamis. Disinilah dituntut guru yang memiliki jiwa inovator dan sebagai fasilitator wajib mengetahui potensi anak didik.
Ia menegaskan, sudah tak zamannya guru itu killer. Kalau ada siswa takut dengan gurunya justru tidak baik. Justru guru harus ramah, bahkan harus punya jiwa humor sehingga jadi idola siswa. tra






















