DENPASAR – Kinerja Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, I Gde Sumarjaya Linggih. Terjadinya kelangkaan minyak goreng di sejumlah daerah di Tanah Air, itulah soalnya. Karena persoalan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir, Lutfi dinilai kurang maksimal menjalankan kewajibannya.
“Mendag dan jajaran harus bisa memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran, salah satunya dengan operasi pasar,” seru Demer, sapaan akrabnya, dalam rilis tertulis, Senin (7/2/2022).
Menurutnya, saat ini harga minyak goreng mahal, kebijakan Mendag berubah terus, dan operasi pasar tidak berjalan dengan baik. Karena itu dia menilai wajar saja masyarakat jadi marah dengan situasi yang ada. Kenaikan harga minyak goreng terjadi sejak akhir November 2021, dan selain mahal juga ketersediaan makin minim, bahkan langka di sejumlah daerah. “Presiden dan Menko Ekonomi harus segera memanggil dan memberi teguran keras kepada Mendag,” cetus politisi Partai Golkar tersebut.
Selain operasi pasar, Demer minta Kementerian Perdagangan melakukan upaya-upaya untuk mencegah penimbunan komoditas oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Pula mengawasi rantai pasokan minyak goreng di sejumlah daerah. Dia menilai kebijakan Mendag menghilangkan minyak goreng curah di pasaran dan memaksa penjualan menggunakan kantong sederhana sebagai blunder terbesar.
“Apa ini tidak dipikirkan secara matang? Minyak goreng curah adalah cara paling mudah mendistribusikan kepada masyarakat. Kalau produsen harus menggunakan proses packaging (kemasan) baru, kapan akan selesai masalah ini?” urainya dengan nada kesal.
Kepada seluruh pejabat eselon Kemendag, dia minta mereka bergerak dan turun ke lapangan untuk mengecek penerapan harga eceran tertinggi minyak goreng tersebut. Mereka didesak mengecek gudang minyak goreng untuk memastikan kesesuaian antara laporan stok dengan yang kenyataan yang ada. Gudang dimaksud yakni gudang Kemendag, gudang Bulog, dan gudang-gudang swasta.
“Saya minta seluruh jajaran Kemendag, baik eselon I, II, maupun III aktif turun ke lapangan. Jangan hanya duduk santai di belakang meja dan menunggu laporan,” sindirnya. hen






















