Merekatkan Cermin Retak Pariwisata, Adaptasi Bali di Era Normal Baru

  • Whatsapp
Foto: net
Foto: net

“It is better to light a candle than curse the darkness (Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegalapan).” Demikian diucapkan Eleanor Roosevelt (1884-1962), Ibu Negara Presiden ke-32 Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt.

Prinsip dan spirit semacam itu sebaiknya dilakukan semua pengampu kepentingan di Bali menyikapi terpuruknya pariwisata Bali usai dirisak pandemi Covid-19 alias Corona. Bahkan dengan asumsi Corona sudah berakhir saja, sejumlah pegiat pariwisata mengestimasi kunjungan wisatawan tidak lebih dari 60 persen dari kuantitas yang ke Bali pada tahun 2019. Pariwisata Bali kini bak cermin retak. Masih terlihat bayangan kita, tapi tak sempurna.

Bacaan Lainnya

Ketua Pansus Standar dan Penyelenggaraan Pariwisata Bali, AAN Adhi Ardhana, menilai selalu ada jalan untuk “merekatkan cermin retak pariwisata” Bali itu. Kata dia, saat ini orang di dunia sibuk bertahan hidup di tengah wabah, dan itu berarti kebutuhan primer, terutama pangan, jadi yang utama. Setelah itu baru beralih ke kebutuhan sekunder seperti nongkrong di mal, cari kuliner enak, dan sebagainya.

“Orang plesiran itu kebutuhan tersier, apalagi sampai ke luar negeri. Karena Bali menyasar turis asing sebagai pasar utama, berarti kita di posisi kebutuhan tersier,” urai politisi PDI Perjuangan (PDIP) itu, Rabu (6/5/2020).

Baca juga :  KPU Optimalisasi Anggaran untuk Kenaikan Honor PPK-PPS

Bahwa kebutuhan tersier bisa bergeser jadi sekunder, dia tidak menepis. Hanya, serunya, apakah Bali betul-betul siap menerima gelombang pariwisata itu nanti? Masalahnya, ada sejumlah hadangan yang perlu dirancang implementasi solusinya. Pertama, Indonesia kecil kemungkinan mencabut kebijakan bebas visa, karena negara butuh devisa. Ini berarti memperlambat orang datang ke Bali, karena harus mengurus visa, tidak bisa langsung bepergian.

Kedua, kalaulah vaksin Corona ditemukan, pelancong wajib membawa surat sehat dari negaranya. Ini juga butuh waktu pemeriksaan di bandara. “Ketiga, akan ada perubahan besar kebiasaan di masyarakat setelah ini, misalnya distansi fisik. Kalau ada pembatasan fisik, tentu ini berakibat juga terhadap kuantitas wisatawan yang bisa menikmati satu objek wisata dong?” cetus anggota Komisi II DPRD Bali tersebut.

Dia menawarkan gagasan digital pariwisata, yakni objek wisata yang dijual memanfaatkan sistem digital. Jika wisatawan masih belum boleh ke Bali, maka pemandangan indah Pantai Sanur dijual lewat media sosial dan dikenai tarif yang dipungut langsung lewat pulsa atau teknis lainnya. Detailnya dirancang di peraturan gubernur agar jangan peluang itu sampai diambil orang atau negara lain. Konsekuensi positif digital pariwisata, pengelola objek wajib memastikan kondisi objek bersih, tertata, dan menggiurkan untuk dikunjungi.

“Kalau wisatawan datang, pastikan higienitas terjamin dengan disinfeksi objek, kamar mandi, juga tersedia pembersih tangan. Ini cara kita membangun puing pariwisata kita yang runtuh,” tegasnya

Baca juga :  Jadi Komoditi Bantuan Sembako, Harga Telur Ayam Naik

Politisi Nasdem, Somvir, menilai Bali siap menjadi tempat wisata spiritual dengan yoga atau meditasi. Karena pandemi banyak membuat orang stres, Bali setidaknya bisa menjadi alternatif solusi menyenangkan. Sekretaris Fraksi PDIP, Cokorda Gede Agung, minta Pemprov Bali tekun memperbaiki kepariwisataan Bali yang kini terpuruk. “Jangan pesimis,” pesannya. Sementara Grace Anastasia dari PSI menyarankan Pemprov Bali turut memperhatikan para pekerja pariwisata yang terdampak pandemi.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa, mengakui beban Bali sangat berat. Apalagi pertumbuhan ekonomi diestimasi minus 1,1 persen. Kondisi ini akan membuat ada perubahan tatatan interaksi sosial masyarakat, yang terus berevolusi sejalan dengan perkembangan wabah Corona. Kini, ada yang disebut era normal, era normal baru, dan era posnormal.

Dia memaparkan, akan ada ekuilibrium baru kehidupan masyarakat menjadi posnormal, di mana terjadi perubahan gaya hidup. Orang jadi lebih peduli kebersihan, kesehatan, lebih teratur olahraga, dan makan makanan bergizi. Dalam era normal baru, wisatawan akan memakai masker di objek wisata, dan pemandangan seperti itu akan jadi biasa. Wisatawan juga lebih disiplin menjaga jarak.

Dari data, Taiwan lebih sedikit kena Corona karena mereka disiplin menjaga jarak fisik. “Tidak ada salaman dan cium pipi seperti di Indonesia,” jelas Astawa. “Padahal budaya keramah-tamahan secara fisik itu justru bagian penting pariwisata Indonesia, terutama Bali,” sambung Adhi Ardhana.

Baca juga :  Pemkot Denpasar Dorong Tercapainya Desa/Kelurahan Layak Anak

Warga Australia dan India, kata Astawa, sebenarnya tidak tahan untuk segera pulih. India ingin ada jaminan prosedur keamanan di bandara seperti pemeriksaan suhu tubuh, tersedia sabun dan pembersih tangan. Hotel yang memberlakukan penjarakan fisik mungkin akan digemari,” ulasnya.

Seorang tenaga pemasaran salah satu hotel di Ubud, Gianyar bertutur, pelancong lokal akan menjadi penyelamat pemulihan pariwisata Bali. Persis usai Bali dihantam bom tahun 2002 dan 2005. Alasannya, sejauh ini banyak negara menutup perbatasan, dan kalaupun dibuka jelas tidak akan bersamaan waktunya. Semua bergantung kondisi masing-masing.

Siapkah pariwisata Bali menerapkan normal era baru kelak? “Kami sudah siap-siap menerapkannya sih, seperti tamu wajib pake masker, cek suhu, juga penyemprotan disinfektan secara berkala,” kata cewek manis yang menolak disebut identitasnya itu. Dia mendaku tidak sepakat dengan prediksi kunjungan wisatawan ke Bali akan merosot drastis tahun 2021, karena saat ini kondisinya serba-tidak pasti. Tingkat kunjungan, lugasnya, sangat bergantung kesiapan negara-negara membuka kembali perbatasannya. Namun, bicara permintaan, dia mengklaim pasar Australia sudah gatal ingin ke Bali. “Aku terima beberapa komen dari tamu potensial dan repeater (berulang) di hotel (ingin segera ke Bali),” tandasnya. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.