Mengulas Tantangan Pariwisata Maritim NTB, Mengapa Kapal Pesiar Terbesar Dunia Belum Mau Menginap di Lombok?

KEDATANGAN Ovation of the Seas di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, dengan ribuan penumpang seolah membawa angin segar bagi pariwisata NTB, Jumat (2/1/2026). Foto: ist
KEDATANGAN Ovation of the Seas di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, dengan ribuan penumpang seolah membawa angin segar bagi pariwisata NTB, Jumat (2/1/2026). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, LOBAR – Kehadiran kapal pesiar raksasa Ovation of the Seas di Pelabuhan Gili Mas pada Jumat (2/1/2026) menjadi catatan sejarah penting. Kapal megah sepanjang 348 meter yang membawa 4.684 penumpang dan 1.530 kru ini, merupakan kapal pesiar terbesar yang pernah bersandar di Indonesia. Namun, di balik kemegahan tersebut, terselip tantangan klasik: durasi kunjungan wisatawan yang masih sangat singkat.

Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, secara terbuka mengungkapkan, meskipun jumlah kunjungan kapal pesiar terus meningkat, sebagian besar kapal hanya bersandar selama 12 jam. Para wisatawan mancanegara ini biasanya tiba di pagi hari, dan langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya pada malam hari tanpa sempat menginap (overnight).

Bacaan Lainnya

Menurut Gubernur Iqbal, keputusan operator untuk tidak bermalam di Lombok memiliki alasan fundamental yang dia rangkum dari hasil komunikasi dengan operator di Singapura: kurangnya atraksi wisata dan keterbatasan kapasitas akomodasi darat. “Karena memang tidak banyak atraksi yang bisa mereka lihat. Kedua, memang akomodasi, tentu untuk 4 ribu sekaligus wisatawan datang bersamaan di satu kawasan, memang susah bisa dapatnya,” ujar Iqbal saat penyambutan di Pelabuhan Gili Mas.

Iqbal menilai ekosistem pariwisata darat harus mampu memberi alasan kuat bagi wisman untuk tinggal lebih lama. Jika hanya berkunjung dalam hitungan jam, perputaran uang hanya akan berputar di sektor transportasi dan pemandu wisata, sementara sektor perhotelan serta kuliner malam kehilangan momentum besarnya. Selain masalah atraksi, letak geografis Pelabuhan Gili Mas yang cukup jauh dari destinasi utama seperti Mandalika (1,5 jam) serta Senggigi atau Mataram (2 jam), menjadi batu sandungan bagi wisatawan dengan jadwal pelayaran ketat.

Menanggapi efektivitas promosi, Gubernur Iqbal mengakui tantangan sebenarnya kini berada pada kesiapan infrastruktur pendukung, bukan lagi sekadar pemasaran. “Kalau promosi sudah dilakukan. Masalahnya kesiapan kita untuk menerima masing-masing segmen. Khusus kapal pesiar ini, memang kita tidak sesiap di segmen pesawat terbang,” dakunya jujur.

Di sisi lain, Branch Manager PT Pelindo Lembar, Kunto Wibisono, mencatat tren positif. Pada tahun 2026 ini terdapat 25 kapal pesiar yang terjadwal bersandar, meningkat dari 24 kapal pada 2025 dan 22 kapal pada 2024. “Ada peningkatan kunjungan wisman mencapai 10 persen setiap tahunnya. Kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik, termasuk mengakomodir UMKM lokal dan NTB Mall di area pelabuhan agar wisatawan memiliki pilihan suvenir khas Lombok,” terang Kunto.

Pihak Pelindo juga memastikan kemudahan akses transportasi melalui kolaborasi dengan lima koperasi angkutan, baik melalui agen travel menuju Senggigi atau Narmada, maupun perjalanan mandiri menuju kawasan Sekotong dan Kuta Mandalika. Momentum Ovation of the Seas ini diharap menjadi bahan evaluasi mendalam agar di masa depan, kapal-kapal raksasa dunia tidak hanya sekadar singgah, namun menjadikan Lombok rumah kedua untuk bermalam. ade

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses