Memaknai Hari Raya Galungan dengan Perilaku Mawas Diri

UMAT Hindu memotong babi menyambut Hari Raya Galungan. foto: ist

PADA Rabu, 4 Januari 2023, umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan untuk memperingati terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya. Sebagai bentuk ucapan syukur, biasanya umat Hindu akan memberikan persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara.

Hari raya Galungan dirayakan setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan atau Rabu Kliwon Wuku Dungulan. Wuku adalah kalender Bali yang perhitungannya 1 wuku sama dengan 7 hari dan 1 tahun kalender wuku terdapat 420 hari. Pada hari Galungan, umat akan bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Bacaan Lainnya

Praktisi agama dan budaya, Dr. I Wayan Ritiaksa, Senin (2/1/2023) mengungkapkan, sudah biasa bagi umat Hindu terutama di Bali, merayakan Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma yaitu kemenangan kebenaran melawan ketidak benaran. Sesungguhnya hal ini adalah perang batin melawan diri sendiri. Sebab sesungguhnya musuh itu ada pada diri sendiri disebut ripu (sad ripu).

Dia mengatakan, seperti diungkapkan dalam kakawin Ramayana “ragadi musuh mapara, rihati ya tonggwania tan madoh riawak.”.(musuh itu ada pada diri sendiri, dan di hati tempatnya tidak jauh dari badan). Bagi para bijaksana, memenangkan pertarungan dengan melawan diri sendiri tidaklah mudah. Kunci kemenangan itu ada pada kemampuan pengendalian diri dari berbagai pengaruh bhuta (energi) supra natural yang selalu mengikuti dimanapun berada.

Baca juga :  Masa Uji Coba, Bali hanya Izinkan Wisata Alam dan Budaya Dibuka

‘’Lebih-lebih pada hari saat memasuki wuku Dungulan ada Sang Bhuta Kala Tiga sakti yang amat kuat memengaruhi pikiran manusia yaitu, Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat. Begitu kuatnya pengaruh sang kala tiga saat ini memerlukan perilaku yang lebih awas dari pengaruh bhuta kala tersebut,’’ ujarnya.

Karenanya, perilaku awas terhadap segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam kehidupan sehari hari menjadi sangat penting, mengingat saat merayakan Galungan saat ini belum sepenuhnya terbebas dari gangguan bhuta yang berbentuk virus Covid, bahkan masih merupakan ancaman yang perlu diwaspadai.

Meskipun pemerintah telah menghentikan PPKM namun perilaku awas dan waspada harus selalu menjadi prioritas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Apalagi saat hari Penampahan Galungan, sudah menjadi tradisi umat Hindu terutama di Bali untuk memotong (nampah) babi untuk dibuat menjadi berbagai olahan masakan terutama lawar babi yang sudah terkenal sangat enak. Namun demikian hari penampahan ini perlu dimaknai secara sekala (nyata) dan niskala (batin).

‘’Secara nyata memotong babi adalah memotong binatang yang dipakai olahan upakara dan persembahan lainnya dan secara batin adalah memotong nafsu-nafsu/sifat kebinatangan yang ada pada diri sendiri sebagai simbol membuang sifat Asuri sampat (sifat buruk). Hal ini ditandai dengan natab sesayut pangerarata saat hari Penampahan Galungan untuk menetralisir pengaruh Sang Kala Tiga Sakti. Sehingga yang akan masih ada adalah sifat-sifat Daiwi Sampat ( sifat kedewataan) sebagai sifat yang diwajibkan jika ingin memenangkan dharma,’’ ujarnya menandaskan. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.