Masuk Masa Panen, Harga Jeruk Terjun Bebas

  • Whatsapp
Foto: JERUK KINTAMANI MENJELANG musim panen raya, harga jeruk kintamani kerap anjlok. Kondisi ini menyebabkan para petani jeruk di Bangli ketar-ketir. Foto: gia
Foto: JERUK KINTAMANI MENJELANG musim panen raya, harga jeruk kintamani kerap anjlok. Kondisi ini menyebabkan para petani jeruk di Bangli ketar-ketir. Foto: gia

BANGLI – Menjelang musim panen raya, harga jeruk kintamani kerap anjlok. Kondisi ini menyebabkan para petani jeruk di Bangli ketar-ketir, karena dengan harga di tingkat petani maksimal hanya Rp5.000/kg, menyebabkan mereka merugi. Dengan kisaran harga itu, tidak sebanding dengan biaya pemupukan maupun perawatan setahun.

Menurut petani jeruk asal Manikliyu, Kintamani, I Made Sugiman, merosotnya harga jeruk mulai terjadi sejak dua bulan terakhir. Biasanya harga normal jeruk di pasaran berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilo. “Kini merosot menjadi hanya Rp5.000 per kilo,” keluhnya, Senin (3/8).

Selain harga sangat rendah, jelas dia, produksi jeruk tahun ini menurun hingga 50 persen bila dibandingkan panen tahun sebelumnya. Makanya dia sangat berharap harga jeruk lekas membaik, minimal menembus Rp7.000 hingga Rp8.000 sekilo. Dengan harga senilai itu barulah petani dapat keuntungan.

Baca juga :  OMG!, Sudah 126 Nakes di Denpasar Terpapar Covid-19

Petani lainnya, Wayan Suartana, asal Desa Ulian, Kintamani juga mengatakan hal senada. Dia mengakui sampai Agustus ini harga jeruk masih sangat murah, padahal sebentar lagi jeruk kintamani memasuki panen raya. “Harga jeruk saat ini masih jatuh, hanya laku Rp 5.000 sekilo,” sebutnya.

Lebih jauh dikatakan, karena harga jeruk saat ini sangat hancur, dia mengaku khawatir dengan potensi kerugian yang akan dialami. Sebab, untuk menghasilkan buah, jeruk butuh perawatan ekstra mulai pemupukan dan penyemprotan dengan obat-obatan. “Kami harap harga jeruk membaik dan bisa mendapat sedikit keuntungan untuk modal merawat jeruk di musim berikutnya,” kata dia.

Menurut Sugiman dan Suartana, lesunya harga jeruk di pasaran akibat permintaan masih rendah sebagai imbas pandemi Covid-19. Di tengah pandemi, karya maupun odalan masih dibatasi, dan itu menekan permintaan. Pemasaran ke luar daerah juga belum optimal, karena pengaruh Corona. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.